
Dirumah sakit sebelum Sisi dibawa pulang.
Sisi yang sudah siuman lalu dipindahkan ke ruang rawat VVIP untuk masa pemulihan. Velicia senantiasa menjaga disampingnya. Sisi dan Velicia saling berbincang.
Velicia menceritakan bahwa Sisi adalah anaknya. Untuk meyakinkan ucapan Rain dia melakukan tes DNA setelah Sisi tersadar dan hasilnya related bahwa Sisi adalah putrinya.
Velicia bercerita tentang dirinya yang dahulu pernah menitipkan seorang putri kepada adik suaminya di desa dan mereka berkunjung setiap setahun sekali tapi saat putrinya akan memasuki usia lima tahun dia tidak bisa mengunjunginya lagi karena ada insiden yang menghalangi mereka saat dalam perjalanan.
Sisi teringat pernah bermimpi sedang diajak main ke bukit oleh sepasang suami istri berpakaian mewah. Dia diajak bermain pistol-pistolan dan memanah. Namun setelah kunjungan terakhir itu dia tak lagi melihat suami istri itu berkunjung.
"Kami sangat menyayangi mu nak."ucap Velicia sambil memegang tangan Sisi dan melinangkan air mata karena kerinduannya terhadap anaknya.
Dia merasa sangat marah pada diri sendiri dan sedih karena harus bertemu dengan putrinya dalam keadaan seperti ini. Sisi mengusap wajah ibunya itu sambil berlinang air mata. Dia merasa bahagia ternyata selama ini dia mempunyai orangtua yang sangat menyayanginya.
Sisi lalu menceritakan kehidupannya saat di desa dan kisahnya sampai menjadi mata-mata Rain. Velicia sedih dan sakit hati mendengar cerita Sisi.
Saat mereka sedang tersedu saling mendengar cerita masing-masing tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Sisi dan Velicia menoleh ke arah pintu.
Arman yang melihat mereka langsung menghamburkan pelukannya ke mereka. Dia merasa bahagia karena sekarang keluarganya bisa berkumpul.
"Istirahatlah nak sekarang."ucap Arman yang juga sempat berbincang dengan Sisi setelah mereka berpelukan.
__ADS_1
"Ingatlah. Namamu ada nama kami juga, Sisi Velicia Armana. Itu wujud kasih sayang kami."katanya lalu mengecup kepala Sisi. Sisi mengangguk dan memposisikan dirinya untuk istirahat.
Velicia dan Arman lalu keluar dan mereka berbicara secara pribadi. Arman menceritakan kejadian di desa dan kenapa Sisi sampai dijual di pasar gelap. Velicia menangis dipelukan suaminya. Dia bersedih dengan keadaan yang dialami Sisi selama ini.
Ternyata uang sebanyak apapun yang mereka kirim tak menjamin kebahagiaan dan keselamatan Sisi. Sekarang Velicia jadi tak kuasa jika harus mengatakan bahwa Sisi sedang hamil. Setelah lama menangis dia sekarang merasa tenang.
"Suamiku..." dia mencoba menyusun kalimat untuk menceritakan keadaan Sisi sekarang. Arman yang sedari tadi tegar menguatkan Velicia sekarang merasa hancur. Dia menyandarkan tubuhnya ke dinding. Dia merutuki dirinya yang tak becus menjadi orang tua dan ayah yang baik untuk menjaga anaknya. Dia ingin marah tapi sendirinya juga yang salah.
Mereka saling menguatkan dan yang mereka bisa lakukan sekarang adalah menjaga putrinya dengan baik. Arman lalu menempatkan bodyguard untuk menjaga Sisi. Selama masa pemulihan berlangsung Rain tidak diijinkan menemui Sisi sampai Sisi benar-benar sembuh dan dibawa pulang ke kediamannya.
Saat ini Arman masih marah dan kecewa karena jika melihat Rain dia terus teringat tentang putrinya yang pernah dijual ke pasar gelap dan di beli oleh Rain hingga di jadikan mata-mata, pembunuh dan umpan untuk Rain balas dendam. Apalagi Sisi diambil kegadisannya dengan paksa dan sekarang sedang mengandung anaknya.
Rain yang merasa bersalah dan menyesal sering berkunjung ke kediaman Arman hingga memberi beberapa hadiah sebagai tanda permintaan maaf untuk penebusan dosanya. Arman tak menanggapi bahkan malah mengembalikan semua pemberian dari Rain.
Arman yang sedari tadi memperhatikan tingkah Rain dari ruang kerjanya lalu keluar menyambutnya. Dengan nafas terengah-engah Rain lalu menghampiri Arman dan seketika bersujud dihadapannya.
"Tolong ijinkan saya menemuinya, saya mohon. Saya akan menebus semua kesalahan saya padanya."mohon Rain.
"Dengan apa kau akan menebus nya?" tanya Arman dengan cepat.
"Saya akan menikahinya."kata Rain tegas.
__ADS_1
"Mudah sekali kau mengucapkannya. Bangunlah Tuan Rain. Kau tidak harus bersujud kepadaku."kata Arman. Rain lalu mengangkat kepalanya menatap Arman yang berdiri di depannya.
"Pintu keluar ada dibelakang mu. Silahkan."kata Arman sambil menunjuk ke arah pintu. Rain tersentak, dia di suruh keluar setelah susah payah masuk ke sini.
"Bapak Rehan Armana, saya mohon." ucap Rain yang masih setengah terduduk.
"Ini sudah malam. Kami sudah tidak menerima tamu lagi tuan muda Aditama." tegas Arman sambil memberi isyarat pada anak buahnya yang berada di luar. Rain lalu dituntun keluar rumah.
"Saya tidak akan pergi! Saya akan tetap menunggu disini!" teriak Rain dari luar.
"Lepaskan! Kau jangan berani menyentuhku!" ancam Rain pada anak buah Arman. Dia lalu dilepaskan.
"Tuan?" tanya seorang bodyguard dari dalam rumah.
"Biarkan saja dia. Jangan sampai masuk ke dalam." kata Arman lalu berjalan menuju kamarnya. Bodyguardnya mengangguk mengerti.
Β
hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. perkenalkan saya author baru disini dan saya baru berani publish tulisan saya disini. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
__ADS_1
enjoy the reading π€ π
πΎπΎ