
Di dalam kamar Arman dan Velicia.
"Apa kau akan menyetujui permintaannya?" tanya Velicia pada suaminya yang sudah berbaring. Arman masih terdiam.
"Aku merasa berdosa sebagai orangtua yang tak bisa menjaga dan membesarkan anaknya dengan baik. Sekarang aku hanya ingin Sisi merasakan bahagia karena menjadi anak kita." ujar Velicia.
"Aku juga ingin anakku merasakan kebahagiaan yang berlimpah Velic." ucap Arman masih sambil terbaring.
"Aku merasa lebih berdosa karena sebagai laki-laki dan ayah tak bisa menjaga putrinya dengan baik." ujar Arman.
"Sisi bercerita bahwa Rain memperlakukannya dengan baik selama dia bekerja disana. Rain memiliki trauma setelah kecelakaan yang menimpa orangtuanya. Kejadian waktu itu keluarga Rain sudah mencegah Sisi untuk tidak mendekati Rain karena dia sedang kambuh. Namun Sisi tak mendengarkannya. Sebagai anak buah dia takut jika Bosnya terluka. Lalu terjadilah peristiwa itu dan Sisi bercerita bahwa mereka juga pernah melakukannya dalam keadaan sadar." Velicia menyampaikan kepada Arman apa yang diceritakan Sisi saat di kamar tadi.
Arman masih berbaring terdiam membelakangi istrinya. Dia lalu menghela nafas panjang, "malam ini terasa panjang. Peluk aku Velic." ucapnya.
Velicia lalu membaringkan tubuhnya dan memeluk suaminya dari belakang.
Sementara itu.
Rain yang sedari tadi berdiam diri dengan cangkir coklatnya sekarang berjalan menuju kamar tamu yang dimaksud oleh Arman. Dia membuka pintu kamar yang didepannya terdapat hiasan merak. Dia lalu berjalan menuju wastafel dan bercermin. Mukanya terlihat kusam dan lusuh.
Dia mengisi bathtub dengan air hangat lalu berendam diri dan mandi untuk membersihkan dirinya. Selesai mandi dia mengelap badan dan rambutnya dengan handuk, dia lalu membalut badannya dengan bathrobe yang sudah tersedia di lemari pakaian tamu. Rain lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur yang saat ini dirasanya sangat empuk dan nyaman hingga membuatnya cepat terlelap.
Pagi harinya.
__ADS_1
"Tuan ada tamu."kata bodyguard Arman.
"Siapa?"tanya Arman yang sedang bersiap untuk berangkat kerja.
"Dari kediaman Aditama. Coky."
Arman lalu memberi isyarat menganggukkan kepala untuk membiarkan Coky masuk.
"Tuan mu sepertinya belum bangun. Aku harus pergi bekerja." kata Arman sambil berjalan keluar.
"Selamat beraktifitas pak Arman."kata Coky membungkukkan badan sambil menenteng paper bag.
Arman pun mengangguk dan berjalan keluar meninggalkan Coky.
"Asisten Coky. Kau sudah datang."seru Sisi yang sedang menuruni anak tangga. Coky tersenyum mengangguk.
"Terimakasih Nona Sisi karena sudah menghubungi saya."ucap Coky sambil membungkukkan badannya. Sisi mengangguk tersenyum.
"Apa kabar mu sekarang? Dan.. juga bayi dalam kandungan mu?" tanya Coky yang sudah lama tak bertemu Sisi. Dia melihat perutnya sudah sedikit membulat.
Sisi lalu tersenyum, "aku baik. Dan juga bayiku." jawab Sisi sambil mengusap perutnya yang bulat kecil.
"Kau sekarang pasti bahagia ya? Kau sering tersenyum." kata Coky yang melihat wajah Sisi nampak semakin bersinar.
__ADS_1
"Iya. Aku sekarang sangat bahagia asisten Coky." jawab Sisi.
"Syukurlah. Itu baik untuk orang hamil. Ah kalau begitu saya akan menemui tuan sekarang." kata Coky yang tersadar akan tujuannya datang ke kediaman Arman.
"Baiklah asisten Coky." kata Sisi sambil tersenyum lalu melangkah pergi meninggalkan Sisi.
Coky lalu masuk ke dalam kamar yang di maksud oleh Sisi tadi. Dilihatnya Rain masih terlelap. Dia lalu membuka roller blind hingga cahaya matahari masuk kamar mengenai wajah Rain. Rain menggeliat mengerjapkan matanya.
"Tuan bangunlah. Ini sudah lewat dari jam berangkat kerja. Dan anda masih tidur dengan nyenyak di rumah orang." ujar Coky membangunkan bosnya. Rain tersentak mendengar ucapan Coky yang mengatakan dia di rumah orang. Dia lalu beranjak bangun sambil memegangi kepalanya. Dia baru ingat kalau sedang berada di kediaman Armana.
"Sepertinya tidurmu nyenyak sekali bos. Ini baju gantimu." kata Coky sambil meletakkan paper bag di atas meja nakas. Rain terheran menatap paper bag yang dibawa Coky.
"Nona Sisi menelfon saya menyuruh membawakan baju ganti."ujarnya lagi. Rain tersenyum mendengar bahwa Sisi yang memberitahu asisten Coky jika dia berada di kediaman Armana dan asisten Coky datang dengan membawa baju ganti untuknya.
Rain lalu menghela nafas panjang setelah mendengar kata 'Sisi' dan teringat kejadian tadi malam. Tidak ada jawaban 'tidak atau iya' dari mulut Arman tentang pembicaraan semalam, itulah hal pertama yang ia pikirkan setelah bangun.
"Aku harus berbicara dengan Sisi." gumamnya.
"Maaf Tuan jika saya lancang dan sudah berani, tapi ini sudah waktunya jam kantor." sela Coky memperingatkan Rain.
"Sehari ini saja, tolong urus pekerjaanku asisten Coky." kata Rain berjalan menuju kamar mandi sambil menenteng paper bag yang dibawa asisten Coky barusan.
Setelah mengganti bathrobe dengan baju yang dibawakan oleh asisten Coky dia lalu keluar kamar untuk mencari Sisi dan tak menghiraukan asistennya yang sedari tadi menunggunya.
__ADS_1
Asisten Coky menghela nafas panjang dan memegang keningnya yang merasa berkedut dengan kelakuan bosnya.
πΎπΎ