
"Kalau begitu habiskan." ujar Rehan lalu lanjut menyantap buburnya. Velicia mengangguk dan meneruskan makannya.
Setelah selesai dia lalu membawa kotak buburnya ke dapur untuk dibuang ke tempat sampah. Dia lalu berinisiatif untuk mengambil minum untuknya dan Rehan. Diletakkannya gelas minum untuk Rehan di depannya.
"Terimakasih. Padahal saya bisa mengambilnya sendiri." ucap Rehan.
"Tidak apa-apa. Aku juga berterimakasih karena sudah dibelikan sarapan oleh mu." kata Velicia dengan tersenyum.
"Oh iya, kata ayah aku sudah boleh pulang. Kamu bisa mengantar ku kan? Tapi kalau masih lelah karena kau bertugas tadi malam, istirahatlah dulu. Nanti bisa siang atau sore mengantar ku pulang." kata Velicia menyela kegiatan makan Rehan.
Rehan terdiam sejenak, dia lalu menghabiskan buburnya yang tinggal sedikit dan minum setelahnya.
"Tinggal dulu di sini saja. Biar saya keluar untuk mengawasi keadaan sekitar, jika sudah aman Nona akan saya antar pulang." ujar Rehan lalu berdiri menuju dapur membuang kotak bekas makannya ke dalam tempat sampah.
Velicia terdiam, dia juga masih merasa takut untuk pulang saat ini. Tapi dia juga merasa tidak enak jika merepotkan orang terus.
"Kata ayah dia akan menghentikan pencarian bukti atas kematian paman Subaki. Jadi mungkin Candra tidak akan mengancam lagi. Aku juga ingin pulang, aku tidak mau terus merepotkan mu." ujar Velicia sambil meremas dua tangannya.
"Iya, saya akan pastikan dulu jika Candra sudah tidak mengancam keluarga Nona lagi. Setelah itu saya akan mengantar anda pulang. Saya tidak merasa direpotkan karena anda adalah klien saya." jawab Rehan dari balik meja dapur. Velicia tertunduk diam mendengar pernyataan Rehan.
"Saya akan menemui ayah anda hari ini dan memastikan jika kalian sudah tidak mendapatkan ancaman lagi. Jadi untuk sementara, Nona tetaplah disini dulu." ujar Rehan.
"Baiklah." Velicia menatap ke arah Rehan lalu mengangguk pelan.
"Jika merasa bosan anda bisa coba melihat TV yang disana." tunjuk Rehan pada sebuah dinding. Velicia pun mengangguk.
"Saya akan keluar lagi, mungkin agak lama." kata Rehan lalu mengambil kunci mobilnya lagi.
Velicia terdiam lagi, dalam hatinya rasanya dia ingin ikut saja daripada berdiam diri di rumah apalagi bukan rumah sendiri.
Setelah Rehan sudah lama pergi, Velic berinisiatif merapikan kembali sofa bed bekas tempat tidur Rehan seperti semula. Menonton TV saja rasanya juga bosan, keluhnya dalam hati.
Lalu untuk mengusir rasa bosan dia membersihkan apartemen Rehan. Waktu berjalan begitu lama, sudah selesai beberes pun Rehan belum juga datang. Dia lalu mandi dan mengganti baju tidurnya dengan baju yang ia beli bersama Rehan kemarin.
__ADS_1
"Aku ingin pulang." keluhnya lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur milik Rehan. Mungkin karena lelah dengan cepat dia terlelap.
Sementara itu, Rehan mengunjungi anak perusahaan Danbi setelah lama menimang-nimang dan berjalan masuk dengan langkah ragu.
Antara takut dan butuh, tapi dia ingin bertemu dengan kakaknya untuk membicarakan masalahnya.
"Dengan siapa?" tanya resepsionis kantor.
"Rehan. Rehan Armana Agustino." jawab Rehan.
Sang resepsionis mengangkat kedua alisnya seraya mengernyitkan dahinya. Nama belakang yang tak asing, gumamnya dalam hati.
"Sudah ada janji dengan Pak Regan nya?" tanyanya lagi.
"Iya. Katakan saja, adiknya berkunjung."
"Baiklah. Mohon tunggu sebentar ya Pak." kata resepsionis mengangguk lalu menghubungi line milik Regan. Rehan pun mengangguk sambil menunggu.
"Silahkan pak ikuti rekan saya, dia akan mengantar bapak ke ruangan Pak Regan." ujar resepsionis menunjuk dengan satu telapak tangannya ke rekan kerjanya. Rehan mengangguk lalu membuntuti jalannya petugas tersebut sampai depan ruangan Regan.
Rehan lalu mengangguk dan petugas itupun berlalu.
Rehan mengetuk pintu, lalu sahutan masuk pun terdengar dari dalam. Ia kemudian melangkahkan kakinya masuk menuju ruangan Regan dengan hati ragu dan berdebar.
Regan terlihat sibuk dengan map yang menumpuk di atas mejanya dan tak melirik sama sekali ke arah Rehan.
"Apa ada yang ingin dilaporkan?" tanya Regan berpura. Padahal dia tahu jika yang masuk adalah Rehan adiknya.
Dia tadi sudah menyuruh sekertaris pribadinya untuk meninggalkan ruangannya karena mungkin ada sesuatu yang akan dikatakan adiknya itu hingga berani mendatanginya setelah sekian lama sembunyi darinya.
"Kakak." kata Rehan memecah kecanggungan nya.
Regan menghentikan aktivitasnya lalu menoleh ke arah Rehan.
__ADS_1
Rehan terpaku. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana setelah dramanya kabur dari keluarganya tapi ternyata ayah dan kakaknya sudah tahu dan malah melindunginya dengan diam agar dia tetap menjadi seperti seorang yang sedang kabur.
"Kau.. siapa?" tanya Regan dengan mata menelisik. Dia pura-pura tidak mengenali Rehan yang kini dengan penampilan rambut gondrong berbeda dengan Rehan yang dulu selalu punya potongan rambut yang rapi.
"Kakak.. jangan begitu." ucap Rehan dengan muka memelas.
Regan tersenyum lebar, dia tak sanggup lagi mengerjai adiknya. Dia lalu menyambar Rehan dengan pelukan dan mengusap menepuk punggung Rehan. Rehan terharu, dia tertawa kecil dan tanpa disadari titik bening bersarang di ujung matanya.
"Kenapa baru datang sekarang?" tanya Regan melepas pelukannya.
"Maaf. Aku terlalu naif. Aku kira aku bisa benar-benar hidup sendiri. Ternyata selama ini kalian sudah tahu." ucap Rehan.
"Sudahlah. Ayo duduk." Regan menuntun adiknya ke sofa.
"Sebelumnya, selamat untuk pernikahan kakak. Maaf aku tidak bisa memberi kado." ucapnya sambil menundukkan kepala seperti seorang anak kecil yang melakukan kesalahan.
Regan tertawa kecil melihat tingkah adiknya. "Iya terima kasih, kau harus bekerja lebih giat untuk dapat memberikan ku kado. Apalagi untuk kakak ipar mu." ujar Regan.
"Apa masalahmu hingga datang kesini?" tanya Regan tanpa basa-basi. Iya karena di kantor waktunya tidak banyak untuk dia mengobrol apalagi melakukan pembicaraan yang panjang.
"Buatkan minuman untuk tamuku." titahnya dari sebuah gagang telepon di meja kerjanya.
"Kakak pasti sudah tahu semuanya tentang ku." ujar Rehan.
"Iya, apapun yang kau lakukan aku tahu." jawab Regan dengan enteng. Karena memang seperti itu faktanya.
"Aku.. ada yang meminta tolong kepada ku." Rehan mulai membuka pembicaraannya dengan ragu.
πΎπΎ
...^^^----------------^^^...
hola readers π
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.