GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 46


__ADS_3

"Tuan. Maaf. Asisten Davin menghubungi, katanya Tuan Rain berkunjung ke perusahaan namun sudah dikatakan kalau Tuan hari ini mengambil libur. Apa Tuan Rain diarahkan untuk kesini saja? Tuan Rain ada yang ingin dibicarakan. Katanya penting." ujar bodyguard Arman melaporkan setelah menerima panggilan dari sekertaris pribadi Arman.


"Kebetulan sekali. Suruh Tuan Rain kesini. Katakan kalau aku sedang menunggunya bersama calon istrinya." kata Arman lalu menatap Sisi dengan tersenyum.


"Baik Tuan." bodyguard itu melakukan sesuai instruksi Arman dan membungkukkan badan untuk undur diri.


Setelah menunggu lama mobil Rain datang memasuki kediaman Armana.


"Dia sudah datang?" tanya Arman yang melihat bodyguardnya menghampirinya.


"Iya Tuan." jawab bodyguardnya.


"Antar dia kemari." ujar Arman.


"Baik".


Tak lama bodyguard itu datang bersama Rain. Saat datang Rain sudah ditunggu oleh Sisi, Velicia dan Arman. Sekarang mereka berkumpul di gazebo yang dulu Rain pernah bertemu dengan Sisi dan Velicia.


"Selamat pagi." sapa Rain sambil membungkukkan badan.


"Selamat pagi." jawab mereka bersamaan.


"Kemari, duduklah." perintah Arman mempersilahkan Rain duduk di samping Sisi. Mereka sekarang pasangan yang saling berhadapan.


"Kau pasti haus. Minumlah." kata Sisi menuangkan teh dari poci keramik ke dalam cangkir teh.


"Terimakasih." ucap Rain menerima cangkir teh lalu meminumnya.


"Ehm.. begini nak Rain. Setelah berbicara dengan Sisi tadi, saya rasa saya akan langsung pada intinya saja.." kata Arman membuka pembicaraan lalu mengutarakan keinginannya kepada Rain didepan semua.


"Kalian bisa membicarakannya berdua terlebih dahulu. Kau yang kedepannya akan jadi suami serta kepala rumah tangga dalam keluarga kalian. Jadi semua bergantung pada keputusan mu." kata Velicia menatap Rain.


"Dan kau Arman. Bijaklah untuk menerima jika nak Rain tidak mengijinkan." kata Velicia lagi sambil memandang suaminya itu.


"Iya. Saya akan berusaha menerima apapun keputusannya. Jika nak Rain mau mengijinkan saya akan lebih berterimakasih." ujar Arman.


"Baiklah ayah ibu, kami akan mendiskusikannya terlebih dahulu." ucap Rain merasa lega karena ternyata selama ini dia salah paham. Dia takut jika saja ayah Sisi masih kesal padanya atau membencinya.


"Baiklah karena untuk yang ini akan kami bicarakan terlebih dahulu nanti. Bagaimana kalau sekarang kita pergi ke galery wedding untuk melakukan pengukuran baju ayah dan ibu." seru Sisi yang bersemangat karena masalahnya sudah terselesaikan.


Dia tahu pasti jika Rain akan mengijinkan nya tinggal di rumah orangtuanya setelah menikah.


"Ah iya. Untuk yang satu itu mari kita tunda dulu saja. Karena waktu masih siang juga dan ini hampir mendekati jam istirahat kantor, bagaimana kalau Sisi dan Rain kita perkenalkan kepada paman dan kakeknya." kata Arman lalu menoleh ke arah Velicia.


"Ah benar. Bagaimanapun mereka juga harus tahu kalau cucu dan keponakannya yang sudah kembali akan segera menikah." ujar Velicia.


"Baiklah kita lakukan pertemuan virtual saja. Hanya sebentar untuk memperlihatkan muka kalian kepada mereka." kata Arman lalu berdiri dari duduk silanya.


"Kau pasti tahu reaksi setelahnya." Arman tertawa kecil ke arah Velicia yang juga ikut berdiri, disusul oleh Rain dan juga Sisi yang dibantu berdiri oleh Rain.


"Apa kau sudah menceritakan semuanya kepada ayah dan kakak?" tanya Velicia sambil tertawa kecil.


"Tentu saja. Memang apa yang ku lakukan tiap malam hingga aku memutuskan untuk menikahkan mereka." jawab Arman.


"Mereka pasti sangat terkejut." kata Velicia masih tertawa kecil.


Obrolan kedua orangtua Sisi membuat Rain dan Sisi tak mengerti apa yang mereka maksud. Sampai di ruang kerja Arman, dia lalu mempersiapkan layar proyektor sedang Velicia membantu menyiapkan tempat duduk untuk menghadap ke layar proyektor di bantu oleh Rain. Setelah Velicia menyuruh Rain dan Sisi duduk, kini Arman juga ikut duduk dan mereka sekarang duduk bersanding bersama. Dari layar terlihat Arman sedang menghubungi seseorang bernama 'kakak' dan 'ayah'.


"Apa mereka tidak sibuk?" tanya Velicia.


"Sesibuk apapun mereka, pasti akan menjawab panggilan ku." kata Arman. Velicia tersenyum mendengar jawaban suaminya.

__ADS_1


Panggilan terhadap 'ayah' sekarang sudah terhubung dan mulai muncul wajah Armana Agustino lalu disusul dengan panggilan terhadap 'kakak' dan terpampang wajah Regan Armana Agustino.


"Ah wajah orang besar yang selalu terpampang di majalah bisnis berbasis internasional." ucap Rain dalam hati.


"Orang-orang besar yang berada di belakang calon istriku dan orangtuanya." ucapnya lagi masih dalam hati lalu menoleh ke arah Sisi.


"Ada apa bocah bungsu ini? Masih sepuluh menit ke jam istirahat di kantor ku." ujar Regan dengan nada beratnya yang terlihat sedang meletakkan file berkas di meja. Siapapun yang mendengar nada bicaranya mereka akan merinding seolah merasa terintimidasi.


"Entahlah." jawab Arman Agustino yang sedang menikmati permainan golfnya.


"Ada apa putra bungsu?" tanya Agustino melalui earbuds sedang tablet miliknya di pegang oleh ajudannya.


Agustino lalu mengintruksikan kepada ajudan lainnya untuk menyiapkan ruangan agar dia bisa berkomunikasi lebih leluasa dengan anaknya.


"Ayah sedang ada turnamen?" tanya Arman.


"Tidak. Ayah sedang latihan bersama grup ayah." jawab Agustino berjalan meninggalkan teman-temannya lalu melepas sarung tangan dan mencuci tangannya.


"Lanjutkan saja. Aku sedang ada panggilan mendadak!" serunya terhadap teman-temannya setelah sampai di teras sebuah gedung.


"Sebelah sini Tuan." kata seorang bodyguard.


Agustino pun mengikuti bodyguard itu berjalan dari belakang. Dia lalu diantar memasuki sebuah ruangan yang luas dan kedap udara. Disana sudah terpasang layar dengan wajah Regan dan Arman bersama keluarganya.


"Apa gadis itu Sisi?" tanyanya setelah melihat ke arah layar yang memperlihatkan dengan jelas wajah Sisi.


"Yah. Dia cucu gadis mu." jawab Arman.


"Benar-benar cantik. Halo Sisi ini kakek." puji Agustino lali meminum air mineral di dalam botol dan melambaikan tangan kepada Sisi.


Sisi pernah diceritakan oleh ibunya sedikit tentang kakeknya itu yang bernama Armana Agustino pemilik perusahaan Danbi corporation yang dulu membantu ibunya.


"Tolong pesankan makan siang untukku." terdengar suara Regan mengintruksikan kepada asistennya lalu menyuruh asisten itu keluar untuk istirahat.


Sisi pun tersenyum mendengar sapaan dan pujian dari paman dan kakeknya.


"Halo semua." kata Sisi sambil melambaikan tangan. Sekarang dia hanya bisa melihat secara virtual wajah mereka, namun sudah membuat hati Sisi berdebar apalagi jika bertemu secara langsung nanti saat pernikahan.


"Dan ini adalah Rain, anak yang aku maksud waktu itu." kata Arman sambil menepuk pundak Rain.


Rain pun menganggukkan kepala, "halo kakek, halo paman." sapa Rain dengan kaku.


"Tanggal pernikahannya sudah ditentukan. Jika kalian ingin memakai baju yang senada, terbanglah lebih awal dari sana." tukas Arman dengan kalimat seolah menekan untuk mereka agar datang secepatnya.


"Beritahu juga kabar ini kepada kakak ipar, kak Regan." kata Arman.


"Ck ck ck.. lihatlah bocah ini ayah. Kelakuannya masih sama seperti dulu. Menikah mendadak, menikahkan putrinya pun mendadak." kata Regan.


"Dia pikir jarak dari sini kesana secepat mematikan panggilan ini?" gerutu Regan.


"Hentikan sikap protes mu itu kak. Kau selalu saja begitu." tukas Arman yang tak ingin Regan bercerita lebih di depan Rain dan Sisi.


Agustino tertawa kecil melihat kelakuan kedua anaknya yang sering berdebat.


"Berikan tanggalnya." ucapnya.


"22 Desember." jawab Arman cepat.


"Dasar anak ini. Itu dua puluh tujuh hari dari sekarang. Anak ini apa benar-benar menganggap aku kakak." Regan terus saja mengomel sambil melihat kalender meja. Karena dia sekarang yang menjadi Presdir akan sibuk dan sulit untuk mengatur jadwal libur apalagi untuk libur yang lama.


"Kau benar-benar membuat jadwal ku kacau." ujarnya.

__ADS_1


"Heh heh heh..". Terdengar tawa berat Agustino yang menertawakan kedua anaknya.


"Aku akan kesana lebih dulu bersama menantu." kata Agustino melihat ke arah panggilan Regan.


"Baiklah aku akan beritahu Belleza." ucap regan menatap ke arah ayahnya.


"Dan kau bisa menyusul, kakak." kata Arman kepada kakaknya sambil tertawa lepas.


"Dasar kau bocah!" gerutu Regan.


"Baiklah cukup sekian perkenalan sederhananya. Sampai bertemu secara langsung." ucap Arman mengakhiri percakapannya dari telepon.


"Iya tutup saja. Kau mengganggu jam makan siang ku." ucap Regan.


"Jangan sampai tidak datang ya kak." pesan terakhir Velicia.


"Baiklah adik ipar." jawab Regan.


"Bye semua." kata Arman, Regan dan Agustino bersamaan.


Rain yang berada di tengah-tengah keluarga mereka merasa sangat kecil. Padahal di kota ini perusahaan Aditama adalah perusahaan terbesar sedang perusahaan Armana hanya perusahaan skala menengah keatas karena memang bekas perusahaan ARBRE company.


Lalu jika dilihat, kediaman Armana dan kediaman utama Aditama yang sering disebut Rumah Besar masih lebih luas Rumah Besar. Meski begitu dari percakapan tadi saja, sudah terlihat sangat jauh posisi antara dia dan calon mertuanya itu.


Dia membayangkan proses bagaimana dulu neneknya berjuang mati-matian mempertahankan perusahaan Aditama agar tetap menjadi yang terbesar hingga sekarang.


Danbi corporation memanglah perusahaan yang berjalan beberapa tahun ini dan disebutkan yang berada di kota ini adalah anak cabang yang kecil dengan perusahaan utamanya di luar negeri. Perusahaan kecil yang mereka dirikan di kota ini seperti hanya untuk 'mengatakan' siapa sebenarnya mereka.


"Baiklah, sedikitnya kalian sudah tahu wajah keluarga besar kita." ujar Arman.


"Tentang pengukuran baju, apa Tuan Rain hari ini tidak sibuk?" tanya Arman.


"Ah iya benar. Saya tadi sedang menitipkan pekerjaan saya kepada asisten Coky." jawab Rain yang baru teringat tentang pekerjaan di kantor.


"Kau pasti sedang sibuk. Selesaikan dulu semua pekerjaan mu lalu kau akan punya banyak waktu untuk berkumpul bersama pula." kata Arman.


"Iya nak. Biar kami berangkat bersama Sisi saja." kata Velicia menambahkan.


"Laki-laki tanggung jawabnya lebih banyak setelah menikah apalagi jika sudah punya anak nanti." nasehat Velicia lalu menatap ke arah Sisi yang duduk di sampingnya.


"Baiklah. Ayah, ibu, saya akan kembali ke kantor lagi." kata Rain seraya berdiri.


"Selamat siang." pamit Rain membungkukkan badan lalu menguntai senyum kepada Sisi. Sisi pun membalasnya. Rain lalu keluar meninggalkan ruang kerja Arman.


"Ayah. Kakek itu orang besar ya?" tanya Sisi lalu meraih lengan Arman dan Velicia.


"Dia tidak begitu besar." jawab Arman sembarang.


"Bukan itu yang aku maksud besar, ayaah. Tapi terkenal, terpandang dan sejenisnya." kata Sisi dengan nada merengek geram. Velicia tertawa mendengar pertanyaan Sisi, Arman juga ikut tertawa rendah. Mereka berjalan keluar dari ruang kerja Arman dengan terlihat harmonis.


"Ayah dan ibu sama saja. Pantas berjodoh." tukas Sisi yang sedikit kesal karena tak mendapat jawaban.


"Sudahlah. Ayo kita berangkat." ujar Arman mengintruksikan kepada bodyguardnya untuk menyiapkan mobil.


🐾🐾


...- - - - - - - - - - - - - - - -...


hola readers πŸ‘‹


Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih πŸ˜πŸ’ž. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih πŸ˜˜πŸ’ž.

__ADS_1


enjoy the reading πŸ€— πŸ’


__ADS_2