
Sementara itu di apartemen.
"Luna pulanglah untuk istirahat. Aku sudah merasa lebih baik."kata Sisi yang sekarang keadaannya lebih baik dari tadi pagi. Kini panasnya juga sudah mulai turun.
"Kau yakin? Bagaimana jika kau perlu sesuatu dan jika ingin pergi ke kamar mandi."tanya Luna sedikit khawatir.
"Aku bisa bergerak sekarang."Sisi memperlihatkan gerakan jari tangannya. Mereka lalu tertawa.
"Baiklah aku akan meletakkan beberapa makanan dan air minum disini. Kau bisa mengambilnya dengan mudah jika merasa lapar. Aku akan pergi ya."kata Luna lalu beranjak dari samping ranjang Sisi.
"Tiririri" suara pintu apartemen terbuka.
"Siapa ya malam-malam begini?" tanya Sisi.
"Apa itu Coky?"tanya Luna.
"Mungkin saja. Dia datang untuk menjemput mu?"tanya Sisi.
"Aku tidak menyuruhnya menjemput ku."jawab Luna.
"Biar aku periksa."kata Luna lalu membuka pintu kamar. Ternyata di depan pintu sudah ada Rain yang sedang menenteng plastik makanan. Luna yang melihat sedikit terkejut dan mengerti apa maksudnya Rain.
"Ah selamat malam Tuan."sapa Luna sambil membungkukkan badan. Rain mengangguk.
"Sisi merasa sudah lebih baik jadi saya akan pulang agar dia dapat beristirahat lebih lama."ucap Luna lalu membungkukan badan.
__ADS_1
"Baiklah."kata Rain merasa canggung yang sedari tadi Luna melihat tangannya sedang menenteng sesuatu. Luna lalu pergi meninggalkan apartemen. Sisi yang berada dalam kamar pun merasa terkejut dengan kedatangan Rain yang tak pernah berkunjung ke apartemennya.
"Apa kau sudah makan?"tanya Rain memecah kecanggungan.
"Iya, sudah Tuan."jawab Sisi. "Maaf saya hari ini tidak masuk kerja."ucap Sisi yang sedang duduk sambil menganggukkan kepala.
"Kenapa tidak menghubungi ku atau asisten Coky kalau kau sakit?"tanya Rain dengan nada sedikit tinggi.
"Ah maaf tapi saya tadi hampir tak sadar jadi tidak bisa berbuat apa-apa. Untungnya asisten Coky segera datang kesini." jelas Sisi.
"Lain kali hubungi aku lebih dulu jika ada apa-apa."sela Rain dengan cepat.
"Tapi..."
"Ini perintah."Rain berkata tegas. Sisi hanya bisa mengangguk.
"Aku akan tinggalkan ini disini makanlah nanti. Istirahatlah yang cukup. Aku akan pergi sekarang."katanya yang sudah kehabisan cara untuk bersikap.
"Terimakasih Tuan."kata Sisi dengan senyum lemahnya.
Di basecamp.
Luna dan Coky sedang berlatih menembak di dalam ruangan.
"Kita istirahat."kata Coky. Luna menuju meja mengambil air mineral lalu meminumnya. Coky menatapnya sedari tadi untuk menarik perhatian. Luna terlalu cuek pada sekitar hingga tak menyadari bahwa ada orang yang memperhatikannya.
__ADS_1
"Kapan kau akan melihatku?"tanya Coky sambil terus memperhatikan Luna.
"Kenapa kau terus memperhatikan ku?"tanya Luna balik.
"Aku ingin perhatian mu. Lihatlah aku sebentar."kata Coky.
Luna menoleh ke arah wajah Coky, dengan cepat Coky mencium bibir Luna dengan cepat juga Luna menodongkan pistol ke leher Coky.
"Berani sekali kau merayu seorang pembunuh."ucap Luna. Coky melepaskan bibirnya lalu tertawa kecil di depan wajah Luna. Coky memegang tangan Luna lalu menguncinya kebelakang badan hingga membuat Luna terjatuh di atas meja. Diciumnya bibir Luna hingga Luna mau membalas ciumannya. Nafas Luna tersengal, Coky lalu melepas ciumannya.
"Apa harus sekasar ini berciuman dengan nona pembunuh?"tanya Coky. Luna hanya terdiam merona mendengar pertanyaan Coky.
"Lepaskan aku! Dasar perampok!"ujar Luna sambil meronta. Coky lalu melepaskan tangan Luna.
"BRAK!" suara pintu yang dibanting membuat mereka kaget. Dilihatnya Rain masuk dengan langkah emosi dan segera mengambil pistol lalu menembaki papan target dengan sembarang. Coky dan Luna terkejut melihat tingkah Rain.
"Haaahhh" Rain menghembuskan nafas panjang seraya berteriak.
"Luna bagaimana persiapan mu?"tanya Rain.
"Saya siap kapan saja tuan."kata Luna dengan sigap.
"Baiklah. Asisten Coky tolong susun rencananya dengan matang. Sebisa mungkin kita segera habisi dia."ucap Rain dengan geram.
"Baik Tuan."Coky menganggukkan kepala. Rain meletakkan kembali pistol dengan sembarang lalu pergi meninggalkan Coky dan Luna.
__ADS_1
Coky menghela nafas panjang lalu menatap Luna. Luna hanya diam lalu memalingkan wajahnya.
πΎπΎ