GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 36


__ADS_3

Rain menunggu di halaman kediaman Armana sambil terduduk dengan wajah luka lebam dan baju yang berantakan.


"Sial! Kenapa aku mau melakukan hal konyol begini."rutuknya dalam hati. Dia lalu menundukkan kepalanya dan mengingat perkataan neneknya dulu.


"Kau melakukannya dalam keadaan tidak sadar. Siapapun dirinya kedepannya jika terjadi sesuatu padanya kau harus bertanggung jawab."


"Haah. Benar-benar penyakit yang membawa sial!"dia masih merutuki dirinya. Hujanpun datang merintik seolah ingin menambah kemalangan Rain malam ini.


"Astaga. Sepertinya Tuhan pun mengutukku atas perbuatan ku." gumamnya tak habis-habis.


Sisi yang berada di dalam kamarnya di lantai atas memperhatikan Rain sedari tadi. Dari awal bagaimana dia membuat kericuhan dengan menerobos masuk ke kediaman ayahnya hingga di usir oleh ayahnya dan sekarang terduduk di luar kehujanan. Dia tak bisa berbuat apa-apa.


Dia tahu ayahnya sekarang sangat protektif setelah apa yang telah dialaminya. Namun dia juga merasa kasihan terhadap Rain. Dia mengusap-usap perutnya sambil menatap Rain dari balik dinding kaca kamarnya yang sebagian tertutup oleh roller blind.


Setelah mengetahui dia hamil sekarang dia mudah terbawa perasaan dan seperti menjadi lemah tak sekuat dirinya yang dulu masih bekerja untuk Rain.


"Kasian dia." gumamnya.


Waktu sudah larut.


Sisi terbangun dari tidurnya karena haus. Dia mengambil air putih di meja nakas dan mencoba kembali melihat ke luar dinding kaca.


Ternyata hujan semakin deras dan Rain masih tetap diluar. Hatinya merasa perih tak tega melihat Rain dibiarkan kehujanan di luar. Setelah meminum air putihnya dan meletakkan kembali gelasnya dia lalu keluar kamar menuruni anak tangga.


Lampu dinding yang remang-remang memberinya cahaya untuk menuntun menuju pintu keluar. Diambilnya payung yang tersimpan di dalam guci besar dekat pintu masuk. Saat dia memegang handle pintu tiba-tiba lampu menyala dengan terang.

__ADS_1


"Hentikan Sisi." kata Arman pelan namun menekan. Sisi lalu menoleh ke arah suara ayahnya. Dilihatnya ibunya juga berada di sampingnya.


"Ayah..." Sisi ingin berbicara namun Velicia menyelanya.


"Kemari nak. Kamu sedang hamil. Tidak baik untuk mu keluar malam." kata Velicia berjalan mendekati Sisi.


"Ibu. Ayah. Jika kalian melihatnya dari tadi kenapa tidak membiarkannya berteduh, tanpa harus menyuruhnya masuk pun bisa." ucap Sisi sambil memegang payung di tangannya.


"Nak. Masuklah. Kami akan mengurusnya." ujar Arman. Velicia memegang tangan Sisi memberi isyarat untuk menuruti perintah suaminya.


"Ayah. Maaf. Aku tahu jika kalian menyayangiku dan membenci perbuatannya kepada ku. Tapi anak yang aku kandung adalah anaknya. Meski ini hasil dari ketidak sengajaan ataupun paksaan tapi dia mencoba untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya." ucap Sisi yang tadi juga mendengar perkataan Rain yang akan menikahinya.


"Aku merasakan bagaimana rasanya hidupku tanpa kalian meski aku juga dirawat dengan baik oleh paman. Tapi aku tidak ingin anak ini lahir tidak bisa merasakan kasih sayang orangtuanya secara langsung sepertiku." Sisi menahan isaknya. Perasaan sensitifnya muncul setelah dia hamil.


"Dengan tindakannya yang demikian dia berusaha untuk menebus kesalahannya seperti yang kalian lakukan padaku sekarang. Jadi Sisi mohon kepada ayah untuk membiarkan dia masuk. Ayah tidak harus memaafkannya sekarang." Sisi memohon pada Arman.


Arman menghampiri Sisi dan mengambil payung yang ia genggam, "biar ayah yang mengajaknya masuk. Kamu pergilah ke kamar lagi bersama ibumu."kata Arman. Sisi tersenyum mengangguk lalu dituntun oleh Velicia menuju kamarnya.


Arman melangkah keluar menghampiri Rain yang terduduk sambil menutupi kepalanya memakai jas kerjanya. Dia melihat badan Rain yang menggigil kedinginan.


"Ayo masuk. Jangan membuat kediaman ku gempar besok pagi karena ada mayat dihalaman rumah." ujar Arman.


Rain menengadahkan kepalanya, dia merasa seluruh badannya kram hingga tak bisa bergerak. Namun dia segan untuk mengatakannya. Arman yang tahu maksud tatapan minta tolong Rain itu segera mengulurkan tangan meski segan.


Dipapahnya Rain masuk ke dalam rumahnya dan membiarkannya duduk di kursi sofa berbahan kulit miliknya. Dia lalu menuju kamar tamu dan membawa sebuah handuk untuk Rain.

__ADS_1


"Lap badan mu pakai ini." kata Arman sambil melemparnya ke badan Rain. Arman lalu berjalan menuju kitchen counter dan menyeduh secangkir coklat hangat untuk Rain.


"Minumlah." Arman menyodorkan cangkir coklat kepada Rain.


"Terimakasih."ucap Rain yang berselimut handuk panjang lalu meminumnya. Kini badannya merasa lebih hangat.


"Jadi, kau akan bertanggungjawab dengan menikahi putriku?" Arman membuka pembicaraan. Rain terdiam sambil mengangguk.


"Pernikahan adalah hal yang sakral bukan hal yang bisa digunakan untuk kepentingan pribadi apalagi menutupi sebuah dosa." ujar Arman.


"Pernikahan tanpa landasan cinta kasih juga tidak akan berlangsung lama. Apalagi hanya untuk menutupi sebuah kesalahan." imbuhnya.


"Kau melakukannya dalam keadaan tidak sadar. Kau bisa menganggapnya sebagai angin lalu dan melanjutkan kehidupan mu seperti biasa. Biar kami saja yang mengurus Sisi dan anaknya nanti."


Perkataan Arman yang barusan membuat Rain tersentak dan seketika dia lalu menjawab, "saya tahu jika saya bersalah dan berdosa kepada anak bapak. Dan saya juga tidak tahu seperti apa cinta kasih dalam sebuah pernikahan. Saya memang melakukannya dalam keadaan tidak sadar tapi maaf jika lancang, kami juga pernah melakukannya dalam keadaan sadar."


Arman tersentak mendengar pernyataan Rain yang mengatakan bahwa mereka juga pernah melakukannya dalam keadaan sadar.


"Saya ini laki-laki. Saya diajarkan untuk mempertanggungjawabkan setiap perbuatan yang saya lakukan entah itu yang benar ataupun yang salah. Apalagi perbuatan yang saya lakukan kali ini adalah salah sehingga membuat satu pihak dirugikan." jawab Rain panjang.


"Menikahinya adalah wujud kesadaran saya dalam bertanggungjawab." kata Rain dengan mantap. Arman terdiam mendengar perkataan Rain.


"Sepertinya sudah sangat larut. Istirahatlah tuan Rain. Kamar tamu yang ada hiasan merak dipintunya." ujar Arman lalu beranjak pergi meninggalkan Rain.


Pembicaraan mereka yang memecah keheningan malam ruangan tengah terdengar oleh Velicia yang turun dari kamar Sisi. Dia masuk menyusul suaminya ke kamar. Sementara Rain masih terduduk di sofa sambil menghangatkan tangannya dengan cangkir coklat.

__ADS_1


🐾🐾


__ADS_2