
"Rehan Armana Agustino? Rehan?" dia sejenak berpikir, mengingat sesuatu.
"Putra bungsu Tuan Armana Agustino." sahut rekan kerjanya yang turut hadir.
Candra mengangguk-angguk seolah mengerti, padahal dia masih berusaha mengingat, nama Rehan seperti tak asing untuknya. Namun untuk Armana Agustino sendiri dia sudah sangat tahu, bahkan seluruh orang yang berada di dunia perbisnisan pasti tahu.
Untung saja hari itu acara berlangsung dengan khidmat dan berjalan lancar. Tentu saja, mana mungkin juga Candra akan berulah di saat hari penting dalam acara orang ternama seperti Agustino, meski di dalamnya menyangkut nama Velicia dan Arbre, calon incarannya dulu. Namun dia juga tak akan lepas begitu saja.
Akhirnya pesta yang terasa panjang dan melelahkan itu selesai juga. Malam itu Rehan dan kedua keluarganya bermalam di hotel yang sudah disediakan.
"Tidak apa kan besok pagi kita langsung kembali ke apartemen ku?" tanya Rehan yang sudah selesai melepas tuksedo yang ia kenakan. Velicia mengiyakan sebagai jawaban.
Dari awal rencanannya membawa Velicia tinggal di apartemen kecilnya setelah menikah sudah ia utarakan kepada Arbre sesaat setelah mereka pulang dari luar negeri. Dan Arbre pun mengijinkan.
"Aku mandi dulu." ucap Rehan yang hanya mengenakan celana kolor boxer sebagai dalaman celana formalnya.
Velicia hanya mengangguk, dirinya terpana dengan dada telanjjang lelaki yang baru saja menjadi suaminya itu. Dia tidak malu apa melepas baju dihadapan ku, pikirnya.
Meski sudah sah suami istri tapi belum terbiasa rasanya harus saling terbuka apalagi diawal pernikahan begini, gumamnya dalam hati.
"Cklek.."
Tak lama Rehan keluar dengan wajah segar dan rambut yang basah. Penampilan itu tentu saja mengundang perhatian Velicia yang sedang duduk di bibir ranjang seraya memijit-mijit kakinya yang terasa pegal karena hampir seharian ini dia berdiri terus.
"Kenapa? sakit? Letih karena berdiri terus ya?" pertanyaan Rehan benar semua.
"Sini aku bantu memijit." ujarnya lalu mendekati Velicia dengan handuk kecil yang masih bersarang di kepalanya.
__ADS_1
Diangkatnya kaki Velicia agar lurus di atas kasur, sedang dia duduk di samping kaki Velicia dan dia pun mulai membantu memijit.
Bagaimana Velicia akan menolak atau berkata tidak, dirinya saja masih mengagumi tampang rupawan yang terlihat segar dengan sisa air yang masih terlihat mengkilap di rambutnya.
Perlahan tetesan air itu mengalir menyapu wajah rupawan itu, seperti sedang mengusap atau membelai lebih tepatnya. Tanpa sadar tangannya terulur ke arah dimana air itu berhenti.
"Ada apa? Apa ada sesuatu di wajah ku?" tanya Rehan yang juga ikut menghentikan aktivitas memijitnya.
"Ah.. i-ini.. ini ada air. Air dari rambut mu jatuh. Basah." jawabnya gagap dan gelagap.
"Biar aku bantu keringkan dulu ya." alasannya saat berucap namun dengan cepat menggosok dengan perlahan handuk kecil yang sedari tadi bertengger di kepala Rehan.
Rehan tersenyum lebar melihat tingkah Velicia, "terimakasih." ucapnya. Velicia menjawab dengan mengangguk.
"Sudah." kata Velicia yang dirasa air pada rambut Rehan sudah kering dan tak menetes lagi. Rehan tersenyum lalu menyahut handuk itu dari tangan Velicia.
"Ah tidak usah. Aku juga ingin mandi lalu beristirahat saja, agar badan ku lebih nyaman." jawab Velicia. Rehan mengangguk, Velicia pun pergi ke kamar mandi.
Entah ini kebetulan untuknya atau memang setiap pengantin perempuan mengalaminya, gaun yang dipakainya sulit sekali untuk dibuka resletingnya. Arghh .. tangan kanan dan kiri bergantian saling membantu pun tetap tidak bisa.
Tentu saja dia harus meminta bantuan orang lain dan yang bisa dia minta bantuan sekarang ini hanyalah Rehan. Jelas karena dikamar ini hanya ada mereka berdua.
Terpaksa, gumamnya.
Pintu kamar mandi terbuka sedikit, "Rehan, bisa minta bantuannya?" tanya Velicia yang melihat Rehan sedang sibuk dengan handphonenya.
"Iya? Kenapa?" Rehan menoleh ke arah Velicia.
__ADS_1
"Aku.. tidak bisa membuka sleting nya. Tangan ku tak sampai." katanya dengan suara pelan.
Rehan terdiam sejenak, "baiklah." jawabnya. Dia lalu ikut masuk ke dalam kamar mandi, mendekati Velicia, berdiri di belakangnya.
Velicia menggulung rambutnya ke atas dan di tahan oleh tangannya, tujuannya agar Rehan mudah membuka resleting gaunnya dan agar rambut tersebut tak nyangkut di resleting.
Apalagi sekarang yang terlihat dari sudut pandang Rehan? Tentu saja leher jenjang dengan topping helaian rambut tipis yang tidak ikut tergulung dan punggung yang putih nan mulus, indah, dan seolah melambai-lambai ingin disentuh.
Tanpa ragu tangannya menyentuh punggung sang istri lalu membuka resleting gaungnya. Terlihat sangat mudah, namun setelahnya adalah penampakan yang sulit membuatnya berpaling.
Dia hanya mengikuti nalurinya saja, sejenak tangannya mengusap punggung sang istri yang terbuka sebatas resleting itu.
Dingin, yang dirasakan Velicia. Entah karena bajunya bagian belakang sudah terbuka lalu terkena hembusan angin atau karena tangan kekar sang suami bekas dia mandi sepertinya masih ada. Tubuhnya meremang dibuatnya.
"Ahmm.." dehem Velicia dengan lembut. "Apakah sudah?" tanyanya tak ingin menciptakan kecanggungan.
"Ah iya, sudah." jawab Rehan cepat, secepat itu pula ia menarik tangannya yang sudah hampir menyentuh pinggang belakang istrinya.
πΎπΎ
...^^^----------------^^^...
hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
enjoy the reading π€ π
__ADS_1