GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 76


__ADS_3

"Jadi kau akan berangkat besok?" tanya Regan yang sekarang obrolan mereka membahas tentang keberangkatan Rehan dan Velicia.


"Iya, rencananya begitu." jawab Rehan.


"Ah ini sudah jam sebelas malam, waktu tidak terasa cepat berjalan ya." ujar Belleza yang melihat ke arah jam dinding.


"Bagaimana kalau kalian menginap saja disini? Besok saja pulangnya." tawar Belleza.


Rehan dan Velicia hanya lalu saling menatap saat Belleza menawarkan mereka untuk menginap.


"Ah.. se.."


"Tenang saja, disini ada empat kamar." Regan menyela sebelum Velicia melakukan penolakan.


"Ah, bagaimana kalau kita berbagi kamar. Rehan dengan Regan dan Velicia dengan aku." imbuh Belleza menatap ke arah suaminya.


"Tentu saja. Ide bagus." sahut Regan menatap istrinya sambil tersenyum.


Sedangkan Rehan dan Velicia tak bisa berbuat apa-apa. Ingin menolak tapi tak enak hati, tapi jika harus pulang, ini sudah terlalu malam. Karena Rehan yang menyetir takut besok kelelahan jika langsung melakukan terbang ke luar negeri. Dengan sangat terpaksa mereka menyanggupi tawaran pasangan suami istri itu.


"Baiklah Velicia, ayo kita istirahat sekarang." ajak Belleza yang tak sungkan lalu menggandeng tangan Velicia dan berjalan menuju kamar.


"Ah, tapi kak, bagaimana meja makannya." Velicia berjalan terburu karena langkanya sedikit diseret oleh Belleza.


"Stt.. tenang saja, kan ada para lelaki." bisik Belleza sambil mengerlingkan sebelah matanya.


Ah dia tahu sekarang maksud calon kakak iparnya itu sekarang, menghindari dari tugas cuci piring. Velicia pun tersenyum lalu mengikuti langkah Belleza dengan semangat.

__ADS_1


"Sudah beritahu ayah mu?" tanya Belleza yang sedang memakai skin care rutinitas malam di meja riasnya setelah keluar dari kamar mandi.


"Sudah kak." jawab Velicia yang sedang menyandarkan badannya di headboard.


"Bagus. Ijin orang tua lebih penting." ucap Belleza lagi. Setelah selesai dengan aktivitasnya dia lalu menyusul Velicia dan ikut duduk di samping Velicia.


"Jangan terlalu canggung pada ku, anggap saja aku seperti saudara mu." ujar Belleza. Velicia mengangguk sambil tersenyum malu-malu.


"Oh iya, apa kau punya saudara?"


Velicia menggelengkan kepalanya, "Aku anak tunggal." jawabnya.


"Oh berarti sama ya. Kalau begitu kita bisa menjadi saudara." ucap Belleza lalu tanpa ragu memeluk Velicia dari samping. Velicia sedikit terkejut, rasanya dia belum terbiasa.


"Biasakan dirimu. Sebentar lagi kan kita benar-benar akan menjadi saudara." ucap Belleza.


"Aku sedikit canggung dan tidak tahu harus bagaimana bersikap terhadap keluarga, mm.. calon suami." ucap Velicia sedikit malu.


"Aah.. aku tahu kau pasti bingung dan malu." kata Belleza sambil mencolek dagu Velicia. Velicia tertunduk tersipu.


"Dengar, ayah Regan dan juga Rehan, Tuan Armana Agustino, beliau sebenarnya adalah orang yang pemilih tentang pasangan hidup anaknya."


Velicia membulatkan matanya terkejut mendengar pernyataan Belleza, hatinya merasa sedikit menciut untuk bersanding dengan Rehan.


"Iya, karena pengalaman pernikahan pertama beliau yang gagal membuat dia mewanti-wanti kepada anak-anaknya agar mencari jodoh yang mau di ajak bersama sehidup semati dalam keadaan apapun." jelas Belleza. Velicia mendengarkan setiap kata yang terucap dari Belleza.


"Beliau tidak ingin anaknya mengalami nasib yang sama seperti dirinya, terlebih untuk Regan yang sudah mengalami pahitnya hidup bersama beliau akibat perpisahannya dulu dan bagaimana dia harus meninggalkan Regan untuk merintis usahanya agar menjadi orang sebesar ini. Beliau sangat berharap Regan benar-benar menemukan jodoh yang sangat menyayangi dia dan mau bertahan bersama dalam keadaan apapun." cerita Belleza.

__ADS_1


"Lalu bagaimana kak Belle bisa menikah dengan kak Regan? Dan Tuan Agustino bisa langsung merestui hubungan kalian." Velicia menanggapi dengan cerita Belleza dengan penasaran.


Belleza tertawa mendengar pertanyaan Velicia. "Haha.. kau sama seperti Rehan. Pertanyaan mu. Kau tahu, Rehan dengan sengaja datang menemui ku untuk menanyakan hal itu." ucap Belleza. Velicia yang mendengar perkataan Belleza kembali tersenyum malu.


"Tapi itu bagus juga untuk mu bertanya dulu. Karena kau butuh kesiapan mental untuk bertemu dengan ayah, Tuan Agustino." ujar Belleza.


Belleza menarik nafas panjang lalu mulai bercerita, "waktu itu sore hari setelah pulang kerja aku sedang ada kencan buta yang di atur oleh ayah ku jadi aku datang untuk bertemu orang itu. Dan pada hari itu juga malamnya ayah menyuruh ku untuk menemui Rehan sebagai partner kencan buta selanjutnya." Belleza mengubah posisinya menjadi tidur terlentang.


"Haah.. kau tahu sebalnya menjadi anak orang terpandang itu. Orangtuanya sangat pemilih untuk urusan jodoh, sama seperti orang tua ku. Mereka selalu mengatur jadwal kencan setiap minggunya, aku merasa seperti barang saja." gerutu Belleza yang kesal mengingat kejadian dulu.


"Setelah kencan pertama selesai dan aku merasa lelah karena partner kencan yang ku temui ini sedikit rewel dan menuntut serba perfeksionis, aku pun mengakhiri pertemuan dengannya. Sampai rumah aku langsung membersihkan diri dan mengganti gaun yang ribet ku pakai itu dengan baju piyama. Saat aku merebahkan diri dan melihat handphone ku, aku baru tersadar jika ada kencan selanjutnya. Tapi waktu temu yang di janjikan sudah melewati batas, aku coba hubungi nomor Regan dan ternyata panggilan ku di jawab. Kau tahu, saat itu dia masih menunggu ku di tempat kami mengadakan janji temu. Dengan segera aku datang menyusul ke tempat itu tanpa mengganti baju ku terlebih dahulu. Sampai tempat itu aku menuju ruangan yang dimaksud dan aku lihat dia masih menunggu sambil mengerjakan pekerjaan kantornya yang belum selesai." Belleza kemudian terkekeh sambil menatap ke arah Velicia.


"Aku sangat malu sekali saat dia menyapaku sambil mengulurkan tangannya, saat menyambut tangannya aku baru tersadar jika aku datang hanya mengenakan baju piyama. Seketika aku menarik uluran tangan ku. Tapi Rehan terlihat profesional dan menyuruh ku untuk duduk. Kami hanya berbincang sebentar dan sebagai permintaan maaf atas kecerobohan ku yang melupakan janji temu aku mengajaknya untuk makan malam lain waktu. Dia menyanggupi dan kami pun saling pamit untuk pulang, sebelum pergi dia meminjamkan jasnya kepada ku agar aku tak merasa begitu malu hanya mengenakan piyama. Yah meski restoran itu memang restoran milik ayah ku tapi aku merasa tidak profesional saja." jelas Belleza.


"Waah.. pantas saja kak Regan terlihat sangat mengagumi kakak, ternyata dari awal bertemu kak Regan sudah tertarik dengan kakak." puji Velicia.


"Iya kau benar. Setelah pertemuan berikutnya dan berikutnya lagi aku merasa sangat cocok dengannya. Dia orang yang terbuka dan menerima ku apa adanya. Dia tak pernah menuntut atau meminta ku untuk menjadi orang sempurna atau sesuai keinginannya. Dia membiarkan ku menjadi diriku sendiri. Dari situlah aku merasa nyaman setiap bertemu dan sering berbincang dengannya." tutur Belleza lagi.


"Lalu bagaimana kakak diperkenalkan kepada ayah kak Regan?" Velicia mengungkapkan penasarannya.


🐾🐾


...^^^----------------^^^...


hola readers πŸ‘‹


Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih πŸ˜πŸ’ž. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih πŸ˜˜πŸ’ž.

__ADS_1


enjoy the reading πŸ€— πŸ’


__ADS_2