
Paginya
Sisi sudah berada di kediaman Aditama melakukan pekerjaan seperti biasa.
"Sisi kau banyak berkeringat hari ini."kata Nia yang membantu Sisi menjemur baju.
"Aku sedikit kurang enak badan."Sisi menjawab lemah.
"Kau sakit? Apa perlu istirahat? Biar kuberitahukan ke ketua Luna."Nia khawatir.
"Tidak perlu aku bisa menahannya."jawab Sisi tersenyum.
"Baiklah. Biar aku saja yang membawa keranjangnya."kata Nia. Hatinya sedikit khawatir karena sepulang dari Sisi dibawa Tuan Rain Sisi jadi sakit. Dia tak bisa berbuat banyak untuk temannya.
"Senang sekali kerjamu ya setelah diajak Tuan pergi lalu besar kepala."Ratih menatap sinis.
"Dia sedang sakit Ratih."Nia membantu menjawab.
"Diam kau! Aku tidak bicara denganmu."bentak Ratih. Nia langsung tertunduk takut. Sisi terus saja melakukan pekerjaannya. Setelah selesai menjemur dia ingin pergi masuk tapi Ratih mencegah dengan menarik lengannya tepat di yang terluka.
"Issh"Sisi meringis kesakitan. "Lepaskan tanganmu."dia membentak dengan mata melotot. Seketika Ratih melepaskan Sisi.
Sisi pergi dengan memegang lengannya masuk ke kamarnya. Asisten Coky yang baru keluar dari ruang kerja Rain melihat Sisi dengan langkah terburu lalu menyusulnya. Dia mengetuk pintu kamar Sisi. Sisi lalu membukanya.
"Apa tanganmu berdarah lagi?"tanya asisten Coky.
Sisi mengangguk "iya".
__ADS_1
"Boleh aku masuk? Aku bantu membalut lukanya."ujar asisten Coky.
Sisi mengangguk membuka pintu kamar lebih lebar. Asisten Coky membuka kotak p3k yang sudah Sisi siapkan dia lalu mengganti perban dan membalut luka Sisi. Asisten Coky lalu menurunkan lengan baju Sisi untuk menutupi lukanya.
Ratih yang melihat dari luar pintu tersenyum licik lalu pergi dari sana. Asisten Coky dan Sisi lalu keluar dari kamar.
"Kau masih disini asisten Coky? Aku kira kau menungguku di mobil."tanya Rain ketika bertemu asisten Coky dan Sisi di ballroom.
"Ah, saya masih disini Tuan."asisten Coky mengangguk lalu pergi menuju mobil yang diparkir. Rain sedikit melirik Sisi lalu pergi mengikuti asisten Coky.
Sisi membungkukan badan pada tuannya. Dia lalu melanjutkan pekerjaan dengan mengelap patung patung unik dan guci guci penghias ballroom.
"Kau pandai juga ya merayu. Apa kau pikir asisten Coky akan tertarik padamu!"suara Ratih mengagetkan Sisi. Sisi mengernyit menaikkan alisnya.
"Jangan karena memiliki paras seperti boneka lalu merasa paling istimewa ya."Ratih menyentuh rambut Sisi.
"Kau. Anak baru disini. Berani sekali melawanku!"Ratih berteriak.
"Bukan kau yang menggajiku tapi tuanku!"balas Sisi.
"Sudah cukup kalian!"Resti yang melihat mereka beradu mulut sedari tadi merasa jengkel.
"Kapan pekerjaan kalian akan selesai jika banyak ngobrol. Hentikan kebiasaan mu mengganggu pegawai baru Ratih."Resti memperingati.
"Baik kepala pelayan."Ratih membungkuk lalu melanjutkan pekerjaannya. Demikian juga Sisi.
Di kantor
__ADS_1
"Aku menyelidiki latarbelakang gadis itu."Rain melempar berkas keatas meja.
Asisten Coky lalu mengambil dan memeriksanya. Berkas profil Sisi menyebutkan dia anak yatim-piatu yang dibesarkan pamannya. Pamannya dan istrinya tidak bisa memiliki anak. Tanpa sepengetahuan suaminya bibinya menjualnya kepada seorang germo. Karena wajahnya yang cantik dan badannya yang menarik germo itu menjualnya ke pelelangan.
Jadi menurut kesimpulan asisten Coky tidak ada yang aneh dari latar belakang Sisi. "Apa ada sesuatu yang mengganggu Tuan?"tanya asisten Coky.
"Bukankah dia terlalu sempurna untuk gadis desa biasa? Dalam enam bulan dia sudah mahir menggunakan pistol. Lalu memanahnya pun seperti seorang ahli."kata Rain dengan nada curiga.
"Setiap orang memiliki kemampuan tersembunyi. Mungkin karena banyak fasilitas yang mendukung disini jadi bakatnya bisa terasah."pikir asisten Coky. Rain hanya terdiam mendengar perkataan asisten Coky.
"Berita kematian istri Gunawan tidak ditindak lanjuti. Apakah ada rencana tersembunyi dari Gunawan?"tanya asisten Coky.
"Dia pecinta wanita, mana mungkin sedih dengan kepergian satu wanita. Pernikahannya hanya untuk menghasilkan pewaris."kata Rain sambil beranjak dari kursinya.
"Tapi jika tau pewarisnya sudah tidak ada..."asisten Coky menghentikan bicaranya.
"Sebelum itu terjadi dia akan segera menyusulnya. Siapapun yang terlibat dalam kejadian itu harus lenyap."kata Rain dingin.
Asisten Coky terdiam. Dia tau perkataan Bosnya tidak bisa disangkal. Dia pemilik segalanya jadi dia bisa mengatur dan mengendalikan semua sesuai keinginannya. Sifatnya yang dominan dan dingin itu berubah ketika ayahnya meninggal tak lama setelah pengumuman pewaris utama dan pemegang perusahaan Aditama ditetapkan. Kejadiannya saat acara ulang tahun yang ke 25nya. Setelah kejadian itu dia mencurigai setiap rekan bisnis ayahnya termasuk juga keluarganya, kedua pamannya.
"Drama kehidupan keluarga kaya sangat mengerikan"dalam hati asisten Coky.
"Atur pestanya dua hari lagi. Pastikan dia memakan umpannya."kata Rain dengan menatap keluar dinding kaca kantornya.
"Baik Tuan."asisten Coky membungkuk meniggalkan ruangan.
πΎπΎ
__ADS_1