GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 112


__ADS_3

"Jangan merasa terbebani, bukan kau yang salah." kata Arman pada temannya itu.


Arman tak ingin nanti hubungan pertemanan dan bisnis mereka lantas terputus dan berakhir begitu saja hanya karena ancaman dan kejadian semacam ini. Justru akan percuma jika perjuangannya bertahan menentang Candra selama ini jika kerjasama mereka berakhir begitu saja. Dan pengorbanannya yang sampai berpisah dengan sang putri dan menjadi korbannya sendiri akan sia-sia jika hubungan bisnis dan pertemanannya berakhir begitu saja. Candra pun pasti akan lebih bersorak gembira jika itu sampai terjadi.


Setelah pembicaraan yang panjang akhirnya Andra berpamitan untuk pulang.


"Haahh.." Arman menghembuskan nafas panjang.


"Velic, bagaimana kabar putri kita?" tanya Arman yang tiba-tiba ingat kepada sang putri kecilnya setelah pembicaraannya yang lama dengan Andra.


"Dia sangat baik katanya. Pak kepala desa akan memberikan kabar setiap minggunya" kata Velicia yang memang sudah menanyakan kabar tentang putrinya dua hari yang lalu. Begitu pula dia mengabari apa yang sedang menimpanya dan Arman saat ini agar disampaikan kepada Brata dan keluarganya. Arman pun mengangguk mendengar penjelasan dari sang istri.


"Aku ingin cepat pulang, kira-kira kapan aku sudah diperbolehkan untuk pulang?" Kini ia bertanya dengan nada putus asa. Seperti kecewa tak lagi bisa menemui putrinya karena alasan keselamatan putrinya, juga mungkin dirinya sedang banyak pikiran karena pekerjaan yang terbengkalai.


Velicia menghembuskan nafas panjang perlahan, "nanti kita tanyakan kepada perawat yang akan memeriksa mu."


Akhirnya, setelah beberapa minggu di rawat di rumah sakit dan selalu dijaga secara bergantian oleh Velicia dan Arbre juga ditemani oleh beberapa orang, sekarang Arman sudah bisa dibawa pulang kembali ke rumahnya.


Tanpa menunggu lagi untuk istirahat besoknya ia sudah kembali beraktivitas memulai kesibukannya. Sudah pasti sibuknya sangat luar biasa karena banyak pekerjaan yang menumpuk juga banyak pertemuan yang ia tunda bahkan juga dibatalkan oleh sang sekretaris karena para investor atau klien bisnis yang pertemuannya tak ingin diwakilkan tetap tak akan melakukan kerjasama jika tak dihadiri langsung oleh Armana.

__ADS_1


Arman tak memusingkan laporan asisten pribadinya itu, yang terpenting sekarang adalah memulai pekerjaannya dan menanganinya agar terkontrol kembali.


Seiring berjalannya waktu ia akhirnya bisa mendapatkan jadwal untuk mengunjungi sang ayah, meski memakan waktu berbulan-bulan lamanya karena kesibukannya. Ia bertolak ke luar negeri bersama Velicia dan juga Arbre Effendi sang ayah mertua.


Dan tanpa terasa waktu pun berjalan dengan cepatnya hingga akhirnya sang pilar besar keluarga Aditama mengumumkan yang akan menjadi penerus selanjutnya dari perusahaan induk Aditama karena Rain Aditama sekarang sudah menginjak diusianya yang sudah mampu mengemban tugas itu.


Rain kecil sudah menjadi Rain dewasa yang mampu bahkan bisa melampaui ayahnya dalam menjalankan bisnis dalam perusahaan Aditama. Bukan hal mendadak, hal ini sudah disepakati dan dibicarakan serta dirapatkan bersama para pemegang saham dan dewan direksi yang lainnya. Semua orang setuju dengan keputusan itu karena memang kompetensi Rain di bidang pembangunan bisnis sangat diakui oleh mereka, dan cakupan bisnisnya pun sudah merambah jauh dari kemampuan yang mereka miliki.


Hingga pada suatu malam saat ulang tahun Rain yang ke 25 digelar di hotel berbintang, Candra memulai lagi aksinya. Aksi yang tak segan bermain dengan nyawa seseorang. Bisa dikatakan kali ini dengan banyak nyawa orang, dan orang-orang ini adalah orang-orang terdekatnya.


Candra dalam duduknya menikmati hidangan malam ulang tahun Rain yang disajikan oleh para pelayan namun dalam pikirannya ia sedang merencanakan sesuatu yang akan mencelakai sang pemilik hari istimewa ini.


"Rain, anak itu meski sudah dewasa tapi keinginannya seperti anak kecil saja. Ulang tahun pun masih ingin dirayakan." cibir Candra sambil menyunggingkan sebelah bibirnya.


Padahal tanpa Candra tahu bahwa acara ulang tahun yang selalu Rain rayakan adalah janjinya untuk menghibur sang ibu dan tante tercintanya yang juga istrinya, Angel. Namun malam ini Angel tak bisa menghadiri acara yang anak kecil itu dulu janjikan kepadanya, merayakan bersama sang ibu dan tante. Alasannya karena sekarang Angel berada di luar negeri.


Ya, setelah kejadian yang menimpa Arman dulu sampai membuat suami sahabatnya itu terbaring lama di rumah sakit, Angel murka. Dia mendengar kabar itu dari salah seorang pelayan yang dipercayakan oleh Fariska, pelayan itu mengatakan bahwa suami Velicia mengalami kecelakaan.


Dan sudah pasti pelayan itu menceritakan semua informasi yang dikatakan Fariska kepada Angel. Saat itu juga Angel yang biasanya diam dan selalu menghindari Candra, dengan penuh emosi menghampiri laki-laki yang berstatus suaminya itu setelah Candra pulang dari kantor.

__ADS_1


Tanpa bertanya atau meminta penjelasan kenapa dan apa alasannya Candra melakukan semua itu kepada Arman dan Velicia, Angel lalu menampar wajah Candra dengan kuat kuat hingga tangannya terasa kebas.


Dengan tatapan nyalang ia memaki laki-laki yang menjadi suaminya itu. "Biadab! Iblis berwujud manusia! Setelah nyawa orang tuaku kau juga akan mengambil nyawa teman-teman ku?!" teriak Angel kala itu.


Hingga setelahnya ia mengeluarkan semua kata-kata yang tentu saja tak enak di dengar oleh Candra. Dan akhirnya malam itu Angel dan Candra berdebat, beradu mulut sangat lama hingga sampai melampiaskan kemarahan masing-masing pada barang-barang disekitarnya.


Bisa dibilang malam itu terjadi pertengkaran hebat dalam rumah tangga mereka yang meskipun Angel tak menginginkan rumah tangga itu. Dia tak hanya menangis tapi juga mengumpat, memaki dengan marah karena memang saat itu hatinya penuh dengan emosi.


Hingga pada akhirnya ia yang diliputi oleh nafsu amarah dan tertelan kegelapan, potongan sebuah guci hiasan yang telah hancur berserakan di lantai di ambil olehnya.


Benar-benar gelap mata, ia menusukkan serpihan guci itu ke dada Candra, tidak sampai dalam namun bisa sampai mengeluarkan darah dari tempat benda itu mendarat. Darah merah keluar dari dada Candra hingga terlihat membasahi kemeja putihnya.


Teriakan para pelayan yang melihat kejadian itu menyadarkan Angel hingga akhirnya dia pun terkesiap, terkejut dengan apa yang baru saja sudah ia lakukan.


Tak ada rasa takut dan bersalah di wajah Angel justru ia malah menyunggingkan senyum sebelah bibirnya, menyeringai, seolah merasa puas dan meremehkan laki-laki di hadapannya itu.


🐾🐾


hola readers πŸ‘‹

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih πŸ˜πŸ’ž. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih πŸ˜˜πŸ’ž.


__ADS_2