
Sisi berjalan menuju parkiran menghampiri mobil Rain. Dia membuka pintu belakang dan duduk bersama Rain. Asisten Coky melajukan mobilnya menuju restoran tempat Rain dan Candra mengatur janji. Sisi menggandeng lengan Rain saat memasuki hall restoran. Pandangan beberapa tamu tertuju pada mereka dengan ekspresi terkagum.
Sisi yang mengenakan gaun putih panjang dengan lengan pendek dan bagian leher yang memperlihatkan tulang selangkanya disandingkan dengan Rain yang memakai setelan serba hitam dengan dasi panjang berwarna merah marun. Mereka bak pasangan selebriti yang sedang bersinar malam ini.
Ruang makan VIP pun dibuka penjaga. Candra sudah menunggu bersama ajudannya.
Candra berdiri menyambut Rain "apa kabar nak Rain?".
Rain menjabat tangan Candra "baik Om".
Candra lalu menatap Sisi dan mengulurkan tangan, Sisi pun menyambutnya "Halo saya Sisi. Asisten Tuan Rain."
Candra tersenyum mendengar suara Sisi. "Aku Candra pamannya."katanya lalu melepas jabatan.
"Salam kenal pak Candra" Sisi membungkukan badan.
"Jangan sungkan, silahkan duduk."Candra mempersilahkan mereka.
"Apa om tidak lelah setelah pulang dari luar negeri lalu menemuiku?"Rain memulai basa-basi nya.
"Tentu saja tidak. Karena aku ingin menemui keponakan Om."jawab Candra dengan tertawa ringannya.
"Bagaimana kabar Tante disana? Apakah sehat?"
"Tentu saja Tante mu sangat sehat. Pelayan tolong pesanannya."Candra mengangkat dua jarinya memberi instruksi.
"Oh ya, dari tadi asisten mu diam saja. Apa aku boleh berbincang dengan Nona cantik ini?"tanya Candra dengan nada sedikit menekan.
Sisi melirik Rain "tentu saja" jawabnya.
"Sejak kapan Nona Sisi sudah bekerja dengan keponakan saya?" tanyanya dengan nada lembut tapi menekan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti sedang mengintimidasi. Sisi merasa tak bisa menolak atau tak mau menjawab.
__ADS_1
"Saya baru sebulan bekerja sebagai asisten Tuan Rain."jawab Sisi sigap.
"Oh begitu. Nona sangat cantik, berapa usia Nona sekarang?"
Belum sempat Sisi menjawab ajudan Candra sudah maju duluan. Dia membisikkan sesuatu pada Candra, Candra lalu mengangguk. "Maaf baru saja katanya ada tamu yang sudah menunggu dirumah. Sepertinya Om tidak bisa menemani kalian makan sampai selesai."kata Candra lalu membersihkan mulutnya.
"Tidak apa-apa Om. Nanti kita juga sering bertemu."kata Rain.
"Baiklah. Silahkan dinikmati makan malamnya."Candra beranjak dan meninggalkan Sisi dan Rain. Rain lalu berhenti makan dan dia menghubungi asistennya Coky sedang Sisi melanjutkan makannya dengan lahap.
"Sayang sekali makanan mahal dan mewah seperti ini di sia-siakan"kata Sisi dalam hati yang tak sadar Rain sedang memperhatikannya.
Rain menunggu kedatangan Coky sambil memperhatikan Sisi yang sedang asik makan. Bibir tipisnya yang yang sedang mengunyah memang menggoda, Rain merasakan kembali desiran di dalam tubuhnya.
"Saya datang Tuan."Coky membuyarkan lamunan Rain.
"Antar Sisi pulang jika dia sudah selesai makan. Aku akan disini dulu sebentar."kata Rain membenarkan jasnya lalu beranjak meninggalkan ruangan.
"Hemm"Sisi menganguk
"Apa kau selapar itu? Apa kau tidak takut makanan itu diracuni?"
Sisi hanya menggeleng.
*
*
*
Didalam mobil saat perjalanan pulang Sisi terus saja bergerak di tempat duduknya. Dia merasa tak nyaman karena perutnya yang terlalu penuh.
__ADS_1
"Asisten Coky bisa kita menepi sebentar. Perutku terasa tidak nyaman."kata Sisi yang sedang gelisah takut-takut nanti dia malah muntah.
"Harusnya kau sadar diri. Kau sedang dalam acara menghadiri permintaan makan malam tamu. Makan secukupnya saja. Kau kan juga sedang memakai gaun ramping begitu dibagian perut."kata asisten Coky sedikit memprotes.
"Iya iya. Aku kan hanya kasihan saja dengan semua makanan itu. Chef nya pasti merasa makanannya kurang enak jika tak di habiskan."jawab Sisi.
"Bagaimana bisa seorang gadis yang hidup di desa tahu akan tata cara adab makan yang benar?" pikir asisten Coky.
Coky melihat sekeliling, ada sebuah jembatan dekat dengan aliran sungai yang biasa orang sedang nongkrong. Dia menepikan mobilnya lalu Sisi turun dengan segera. Dia berjalan-jalan disekitar sungai agar perutnya segera mencerna makanannya.
"Kau tidak kedinginan? anginnya kencang!" teriak asisten Coky dari samping mobil.
"Tidak apa-apa. hanya sebentar saja."teriak Sisi. Asisten Coky membiarkannya dan memainkan handphonenya.
Setelah merasa sudah lama ia disana dia lalu melihat ke arah jam tangannya.
"Hei. ini sudah lebih dari 30 menit. Ayo kita pergi."teriak asisten Coky yang ingin segera pulang.
"Iya baiklah. Tunggu sebentar."teriak Sisi lalu naik ke atas.
"Tolong bantu aku" Sisi mengulurkan tangan. Dia tak bisa menaiki pembatas sungai karena memakai dress dan sepatu hak tinggi.
"Merepotkan sekali."asisten Coky menggerutu sambil mengulurkan tangan.
Rain pulang memakai mobil lain dengan diantar oleh sopir kediaman Aditama. Mobilnya melewati jalur yang sama dengan jembatan yang Sisi dan Coky lalui. Dia melihat Coky sedang memegang tangan Sisi.
"Apa ini? Kencan sesama asisten?"pikirnya dalam hati.
Dia terus menatap Sisi dan Coky dari dalam mobilnya hingga tak terlihat lagi dari pandangan.
πΎπΎ
__ADS_1