GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 38


__ADS_3

"Dimana Nona mu? Aku ingin bertemu." kata Rain pada salah satu bodyguard Arman.


"Tunggu sebentar. Akan saya sampaikan tuan." jawabnya. Anak buah Arman lalu pergi untuk menemui Sisi.


Setelah berapa lama.


"Mari tuan." ajak bodyguard Arman menunjukkan jalan pada Rain. Mereka menuju taman belakang rumah yang ada kolam renang dan sebuah gazebo.


Dilihatnya Sisi sedang berbincang dengan Velicia di gazebo itu. Rain terkagum melihat wajah Sisi yang tampak bercahaya karena sudah lama tak bertemu. Sisi terlihat sangat ceria dan bahagia. Rain lalu duduk bersimpuh di depan Sisi dan Velicia.


"Selamat pagi nyonya Velicia... Sisi."kata Rain sambil menganggukkan kepalanya.


"Selamat pagi tuan Rain." balas Velicia. Sisi membalas dengan menganggukkan kepala.


"Bagaimana kabar mu?"tanya Rain sambil menatap Sisi.


"Saya baik Tuan."jawab Sisi. Velicia menatap Sisi dan juga Rain. Dia merasa ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan berdua saja.


"Saya akan mengambil beberapa camilan. Sisi mau dibawakan apa untuk sarapan nak?" kata Velicia mencari alasan untuk membiarkan mereka berbicara berdua.


"Sisi ingin makan buah-buahan yang segar ibu."jawab Sisi.


"Ah, terimakasih nyonya Velicia. Maaf merepotkan."ujar Rain.


"Tidak apa. Kalian tunggu ya."kata Velicia lalu berjalan mengajak bodyguardnya. Setelah kepergian Velicia suasana menjadi hening.


"Sisi." kata Rain.


"Iya?" jawab Sisi.


"Maafkan atas segala perbuatan ku pada mu yang selalu menempatkan mu dalam bahaya. Kau sampai terluka hingga hampir kehilangan nyawa. Aku juga tidak tahu kalau kau sedang hamil."kata Rain.

__ADS_1


Sisi tersenyum mendengar pernyataan Rain, "Bukan salah tuan Rain. Itu sudah menjadi resiko pekerjaan saya. Dan juga, semua orang di villa sudah memperingatkan saya kala itu. Tapi saya yang tidak mendengarkan mereka."


"Tolong ijinkan aku menebus dosaku dengan menikahi mu. Aku tidak ingin menjadi laki-laki pengecut yang mengabaikan anak dan ibu yang mengandungnya." kata Rain sambil bersujud dihadapan Sisi. Velicia ternyata diam-diam memperhatikan mereka dari jauh.


"Jangan seperti ini Tuan Rain. Ini juga kesalahan saya. Bangunlah."kata Sisi sambil membantu Rain untuk bangun.


"Saya sudah membicarakan niat baik Tuan dengan ibu. Aku harap Tuan mau menunggu keputusan dari ayah." kata Sisi lagi. Rain mengangguk mendengar perkataan Sisi.


"Apa kau mau menjadi istriku? Aku ingin mempersunting mu secara resmi nanti." tanya Rain yang menginginkan sebuah keyakinan.


"Iya tuan. Saya bersedia menjadi istri tuan. Saya akan tunggu niat baik Tuan." jawab Sisi yakin dengan senyum lebar.


"Kalau begitu aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan restu dari ayah mu." kata Rain sambil tersenyum kecil.


Untuk Sisi yang terpenting sekarang adalah sebuah status, sebuah kepastian. Dia sekarang adalah putri dari orang ternama dan sedang hamil. Dia tidak ingin bersikap egois yang kedepannya nanti jika anak dalam kandungannya sudah lahir akan menanggung beban malu karena tidak memiliki seorang ayah dan akan berpengaruh juga untuk reputasi keluarga dan perusahaan ayahnya.


Tak lama Velicia datang bersama pelayan membawakan cemilan dan buah-buahan yang diminta Sisi. Mereka lalu berbincang-bincang santai sambil meminum teh hangat.


'Rehan Armana' papan nama di meja CEO di peganginya. Dia merasa akhir-akhir ini kehamilan Sisi mengganggu fikirannya. Karena Rain yang berulah dengan segala cara untuk meminta maaf dan ingin menemui Sisi hingga membuatnya kerepotan.


Dia berencana untuk membesarkan anak Sisi tanpa harus menikahkan Sisi dengan Rain. Tapi disisi lain dia takut jika putrinya nanti malu karena hamil tanpa menikah lalu menjadi gunjingan orang yang berdampak pada kesehatan mental Sisi. Apalagi jika anak itu lahir tanpa seorang ayah. Sudah pasti anak itu akan lebih menderita hidupnya.


Belum lagi jika banyak relasi bisnisnya yang tahu maka akan berdampak juga pada perusahaannya.


"Haaah." dia banyak menghela nafas panjang seharian ini. Dia juga masih terngiang-ngiang oleh perkataan putrinya semalam.


"Aku hanya ingin dia mendapatkan kebahagiaan nya." katanya dengan menyadarkan kepalanya ke kursi.


...* * *...


"Selamat datang suamiku." Velicia menyambut suaminya yang baru saja pulang dari kantor.

__ADS_1


"Mm" kata Arman sambil mencium kepala Velicia.


"Ayo kita bicara di ruang kerja."ajak Arman.


"Kau baru saja pulang. Pasti lelah. Mandilah dulu atau setidaknya makan dulu." kata Velicia.


"Itu bisa ditunda. Ini tentang putri kita." jawab Arman.


Velicia mengerti, dia lalu mengikuti suaminya menuju ruang kerja. Mereka lalu membahas tentang putrinya dan keinginan Rain yang akan menikahi putrinya.


"Jadi apa keputusan mu?" tanya Velicia.


"Bagaimana dengan tanggapan Sisi atas niatan Rain?" tanya Arman.


"Dia menerimanya. Dia tinggal menunggu keputusan dari ayahnya." jawab Velicia.


"Dia sangat dewasa Arman. Dia juga memikirkan masa depan anak dalam kandungannya." kata Velicia.


"Jika itu keinginannya. Aku tinggal memastikan dia bahagia." kata Arman.


Velicia tersenyum mendengar keputusan Arman. "Bicarakanlah pada anakmu." tukasnya.


"Baiklah. Aku akan selesaikan dulu pekerjaan ku di kantor yang banyak tertunda lalu aku akan ajak Sisi untuk membicarakan ini." kata Arman lalu merengkuh istrinya. Velicia tersenyum manis mendengar perkataan Arman.


Beberapa hari kemudian.


"Kita lakukan pertemuan keluarga." kata Arman dari telepon.


Rain yang menerima kabar baik itu merasa gembira. Hatinya berjingkrak-jingkrak tak karuan. Dia segera menyuruh Coky mengatur jadwal pertemuan keluarga.


🐾🐾

__ADS_1


__ADS_2