
Beberapa bulan kemudian.
"Pak... diluar.. pak Candra.. sedang menuju kemari." kata pengawal pribadi Arbre terengah-engah setelah berlari menghampiri ruangan Arbre.
"Candra? Hari ini aku tidak ada janji dengannya kan Romi?" tanya Arbre melihat ke arah ajudannya.
Romi melihat jadwal harian Arbre. "Tidak ada pak." jawab nya tegas.
"Ada apa ini?" Arbre mulai khawatir.
Selang berapa lama kemudian Candra memasuki ruangan Arbre tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Selamat siang pak Arbre. Maaf atas kunjungan saya yang tiba-tiba. Saya ingin mengatakan sesuatu..." dia melirik ke sekeliling ruangan.
"Baiklah. Kalian boleh keluar lebih dulu." kata Arbre kepada pengawal pribadinya dan ajudannya.
Mereka lalu membungkuk dan undur diri keluar dari ruangan.
"Sebaiknya hentikan sekarang dan simpan baik-baik untuk anda sendiri bapak Arbre Effendi. Jika masih ingin kehidupan kalian tenang." kata Candra sambil meminta berkas pada anak buah disampingnya.
Anak buahnya lalu memberikan amplop coklat besar, di lemparnya amplop itu ke meja kerja Arbre.
"Ini peringatan." kata Candra sambil tersenyum lalu pergi dengan seketika.
__ADS_1
Arbre yang masih terpaku dengan kehadiran Candra merasa jantungnya berdegup kencang.
"Pak, mereka sudah keluar." Romi yang masuk menyadarkan bosnya.
Arbre lalu terperanjat dan segera sadar. "Ah. Romi, beritahu Rehan untuk jangan mengantarkan Velic ke kantor. Katakan juga untuk jangan keluar rumah terlebih dulu." kata Arbre dengan nada sedikit gemetar.
"Baik pak." jawab Romi.
Dia lalu menghubungi Rehan agar tak mengantarkan Velic ke kantor. Namun Rehan sedang berada dalam perjalanan akan mengantar Velicia ke kantor.
"Lalu bagaimana asisten Romi?" tanya Rehan.
"Jangan dulu kesini atau putar arah kembali menuju ke rumah." jawab Romi.
"Tapi aku takut jika Candra menyuruh anak buahnya mengikuti kalian. Kau.. lakukan apapun untuk melindungi Nona." kata Romi dengan nada khawatir dan bingung.
Namun belum berapa jauh dia menjalankan mobilnya dia merasa sedang diikuti oleh dua kendaraan bermobil. Setiap arah dan jalan yang dia ambil mobil dibelakangnya pun mengikuti. Velicia yang duduk di belakang pun merasakan hal yang sama.
"Nona, sepertinya kita harus ke tempat yang ramai." kata Rehan pada Velicia.
"Tempat ramai bagaimana?" tanya Velicia dengan khawatir sambil melihat ke arah belakang.
"Ikuti apa yang saya lakukan dan perintahkan." kata Rehan lalu memutar arah mobilnya menuju ke parkiran sebuah pusat perbelanjaan yang besar. Velicia lalu mengangguk mengerti.
__ADS_1
Mereka lalu turun dengan segera dan berjalan dengan sedikit berlari menuju gedung pusat perbelanjaan.
"Jangan lepas tangan saya. Pilih baju yang kasual dan tertutup. Bayar terlebih dahulu lalu minta untuk ganti di tempat." jelas Rehan sambil sedikit berlari.
"Baik." jawab Velicia.
Setelah sampai di bagian fashion mereka memilih model baju setelan berhoodi lalu mengambil sneaker dan topi, tak lupa juga mengambil masker. Setelah membayar mereka lalu mengganti baju di tempat. Dititipkan baju mereka yang sebelumnya dipakai ke tempat penitipan barang.
"Nona sering berlari kan?" tanya Rehan di sela langkahnya yang cepat.
"Iya." jawab Velicia.
"Baiklah. Keluar dari sini kita akan berjalan lalu menaiki kendaraan umum." jelas Rehan. Velicia mengangguk mengerti dan mengikuti Rehan dengan langkah cepat.
Mereka yang melewati lantai bawah melihat anak buah Candra berkeliaran mencarinya. Dengan langkah cepat mereka berbaur dengan kerumunan lalu meninggalkan gedung pusat perbelanjaan tersebut.
Begitu bus trans lewat mereka lalu menaikinya.
πΎπΎ
...Β ^^^----------------^^^...
hola readers π
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
enjoy the reading π€ π