GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 62


__ADS_3

"Anak ini bukan orang main-main." gumamnya lalu keluar dari ruangan tempatnya bekerja.


Siang hari.


Rehan bangun dari tidurnya yang lelap karena lelah dengan rencana kaburnya yang ternyata membuatnya terdampar di negeri orang. Dan syukurnya ada orang baik yang mau menampungnya. Setelah sadar sepenuhnya dia mengedarkan pandangan ke sekitar.


"Aku masih disini ternyata." ucapnya.


Tak lama pintu ruangan terbuka dan Pak Teguh masuk ke dalam ruangannya. Setelah memeriksa identitas Rehan, Pak Teguh lalu menanyainya dengan bahasa asing yang Rehan pakai sehari-hari. Rehan menjawab jika dia kabur dari rumahnya dan tidak punya saudara disini.


Tapi Pak Teguh mengernyitkan dahinya. "Tapi disini tertulis Rehan Armana Agustino." gumamnya.


"Do you have relative with Mr. Regan Armana Agustino?" tanya Pak Teguh kepada Rehan dengan mimik menyelidik.


"No i don't. I don't know who is he. Maybe we have same last name. Yeah that's right." elak Rehan secara langsung.


"Oh okay. So you don't have relative here and now you're alone. You don't have money, you don't have a home." kata Pak Teguh.


"That's right sir." ucap Rehan sigap.


"Would you like to be my worker? Stay at my house." tawar Pak Teguh.


"If you don't mind sir, i will." jawab Rehan.

__ADS_1


Sepertinya tadi dia tidak bermimpi apa-apa namun kini ada orang baik yang mau menawarinya tempat tinggal dan juga pekerjaan. Dia menganggap itu sebagai suatu keberuntungan.


Pak Teguh mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia lalu membawa Rehan kerumahnya untuk ditampung. Lalu mengajarkan bahasa negara ini seperti yang sudah diminta oleh Regan.


Hingga waktu berjalan sudah satu tahun lebih. Rehan sudah lancar berbahasa bahasa negara ini. Dan sekarang dia bekerja sebagai bawahan Pak Teguh sebagai mata-mata. Berkat keahliannya dalam ilmu komputer jadi menguntungkan baginya yang sebagai orang asing, tak hanya menumpang hidup saja tapi juga bisa dipekerjakan hingga dia punya penghasilan sendiri dan tinggal disebuah apartemen.


Tiga bulan yang lalu dia bertemu kakaknya, tidak secara langsung tatap muka. Tapi melihatnya dari kejauhan. Karena hari itu adalah hari pernikahan Regan Armana Agustino dan disana terlihat Armana Agustino juga hadir.


Rehan yang ditugaskan sebagai pengawal gedung pernikahan tersebut hanya bisa memandang dari posisinya dia berada saat ini. Namun begitu, Regan tahu jika adiknya hadir di pernikahannya sebagai pengawal gedung karena itu juga atas permintaannya kepada Pak Teguh.


Setelah resepsi pernikahan selesai, sampai apartemennya Rehan meminta bertemu dengan Pak Teguh. Dan Pak Teguh pun menyanggupi. Dia datang ke apartemen Rehan karena Rehan yang memintanya. Dari sinilah Rehan mengakui siapa dia sebenarnya. Dia juga memohon kepada Pak Teguh untuk membantu mengganti nama belakangnya agar dia merasa nyaman tinggal di negara ini.


Pak Teguh hanya menyungging senyum dengan wibawa, karena dia juga sebenarnya sudah tahu dari awal siapa sebenarnya Rehan itu. Sesuai permintaan Rehan, dia membantu membuat identitas baru untuk Rehan dan mengubah nama belakangnya.


Dan sekarang sudah ada orang lain yang tahu siapa dia sebenarnya apalagi orang lain itu meminta dirinya untuk menjadi pelindung dan penolong dengan dalih menikah. Dia seperti di todong.


Tak pernah terbesit dalam fikiran nya sebuah kata 'menikah' itu. Apalagi hanya untuk memiliki sebuah perusahaan. Jika dia mau memiliki sebuah perusahaan dia pasti sudah menerima Danbi corporation sebagai miliknya dahulu tanpa harus ada drama kabur-kaburan.


Getar handphone menyadarkannya dari lamunan panjang. Sebuah pesan masuk dari Arbre, "Aku harap kau memberikan jawaban yang terbaik", "Aku sangat menunggu keputusan mu ."tulisnya.


"Terbaik untuk kalian, lalu bagaimana dengan ku." gumamnya lalu memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku.


"Huufftt.." Rehan menghembuskan nafas panjang di sisi jalan layang tempatnya berada saat ini.

__ADS_1


Dia sangat enggan sekali untuk kembali ke apartemen saat ini. Karena jika dia kembali disana ada Velicia, dia akan teringat kembali dengan apa yang baru saja dia bicarakan dengan orang-orang tadi.


Cukup lama ia termenung sambil berdiri di luar mobil hingga angin dingin menuju pagi menusuk wajahnya. Dilihatnya jam di tangannya yang menunjukkan pukul 3:17.


"Pantas dingin sekali." ucapnya lalu masuk ke dalam mobil. Dia mengeratkan jasnya lalu memasang kursi dalam posisi tidur.


Setelah berkutat lama dengan pikirannya dia mulai terlelap.


"Drrtt drrtt drrtt.." getaran handphone di sakunya membangunkannya.


Rasanya baru saja ia akan terlelap tapi sudah ada yang membangunkannya. Dia membuka matanya dan memijit keningnya yang terasa pusing karena tidurnya terganggu.


Handphonenya terus saja bergetar mengganggu ketenangannya.


🐾🐾


...^^^----------------^^^...


hola readers πŸ‘‹


Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih πŸ˜πŸ’ž. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih πŸ˜˜πŸ’ž.


enjoy the reading πŸ€— πŸ’

__ADS_1


__ADS_2