
Nia lalu mematikan kompornya dan selanjutnya menyiapkan hasil masakannya kepada majikannya. Di ruang makan Rain dan Sisi sudah menunggu. Setelah menyajikan hasil semua masakan dibantu pelayan yang lain Nia kemudian undur diri untuk kembali bekerja.
Rumah besar sekarang sedang sepi karena Nyonya Ratna, Coky dan Luna sedang berada di Villa Bougenville.
"Bagaimana kabar mu Nak?" Tanya nyonya Ratna setelah cucu menantunya tiba di Villa Bougenville bersama sang cucu.
"Baik Nek." Ucap Sisi setelah melepas pelukannya dari nyonya Ratna kemudian ia kembali berdiri. Perut yang sudah semakin membesar membuatnya susah untuk berjongkok lebih lama. Rain membantu sang istri untuk berdiri.
"Kalau ingin bertemu harusnya kau mengabari dulu, biar nenek yang datang ke sana. Biar Coky yang antar. Kasihan Sisi sudah hamil besar begini." Ujar nyonya Ratna kepada sang cucu sambil mengusap perut Sisi yang sudah terlihat besar.
"Tidak apa Nek. Sisi masih sanggup untuk beraktivitas kok." Jawab Sisi sebelum Rain memberanikan jawaban kepada nyonya Ratna.
"Bagaimana kabar Nenek selama di sini?" tanya Sisi setelah melempar senyum kepada suaminya.
"Nenek selalu baik-baik saja Sisi. Tidak ada yang lebih baik selain tinggal di sini." Jawab nyonya Ratna.
Dan setelah itu perbincangan yang panjang terjadi dengan Coky yang sudah datang dari luar ikut bergabung pada obrolan mereka.
"Makan siangnya sudah siap." Bibi Susan memberi tahu kepada mereka yang masih tengah asyik dalam perbincangannya.
"Luna. Apa kabar?" Sisi kemudian berdiri dari sofa tempat duduknya menghampiri Luna yang berdiri di samping bibi Susan saat memberi tahukan jika makanan sudah siap dihidangkan tadi.
"Kabar baik Sisi. Bagaimana dengan mu juga?" Luna menyambut pelukan Sisi padanya lalu menanyakan kabarnya sembari mengusap perut Sisi yang sudah terlihat besar itu.
"Aku baik, dia juga."
"Laki-laki atau perempuan?" Tanya Luna yang masih mengusap perut buncit ibu hamil itu.
"Kami belum melakukan USG lagi." Jawab Sisi sambil melirik ke arah Rain.
"Mungkin jika sudah masuk ke bulan terakhir kami akan melakukannya." timpal Rain.
Dia sebenarnya juga penasaran dengan jenis kelamin pada janin yang ada dalam rahim istrinya itu. Tapi selama ini dia sering terlupa untuk melakukan USG itu selama tinggal di rumah mertuanya.
__ADS_1
Pikiran banyak tertekan karena penuh dengan cara untuk berhadapan dengan Arman. Merasa berdosa sekali dia kepada Sisi dan calon bayinya karena ia jarang mengantarnya untuk melakukan periksa kandungan juga.
Baru terhitung dua kali ia pernah mengantar Sisi ke dokter kandungannya. Tanpa sadar ia mengembuskan nafas secara kasar dan itu bisa dilihat oleh Coky. Teman masa kecil dan juga asistennya itu tahu jika Rain sedang dalam pikiran yang rumit.
Setelah acara makan siang selesai para perempuan kini berada di ruang keluarga yang ada televisi besar di dalamnya. Mereka berbincang-bincang memberikan pengertian kepada calon ibu untuk persiapan saat akan melahirkan nanti.
Sedang Rain dan Coky berada di bangku taman belakang. Coky sengaja mengajak Rain untuk ke sana untuk berbincang-bincang antara lelaki.
Meski sering bertemu di kantor tapi sekarang mereka jarang untuk melakukan perbincangan antara laki-laki dan juga Rain terlihat lebih sangat sibuk, bahkan raut wajahnya terlihat sangat terbebani setiap laki-laki itu berada di kantor.
"Apa perlakuannya masih sama?" Tanya Coky membuka pembicaraan yang sedari tadi mereka hanya duduk terdiam.
"Hmm.. begitulah." Jawab Rain lalu menoleh ke arah Coky.
Di hari libur dan sedang di luar kantor dan luar rumah sang mertua seperti sekarang ini, Rain terlihat pikirannya sedang entah dimana. Coky tersenyum terkekeh tanpa suara, takut teman dan juga atasannya itu tersinggung.
"Katakan saja semuanya. Apa perlu bantuan ku juga Tuan?" tanya Coky agar Rain merasa tak terbebani.
Rain lalu menghela nafas panjang sebelum kemudian ia bercerita tentang kehidupannya selama tinggal di rumah sang mertua.
"Padahal beliau selalu terlihat profesional dan berwibawa jika kita sedang ada pertemuan bersama dengannya."
Tanggapan Coky sama dengan apa yang Rain lihat. Namun Armana terlihat berbeda ekspresi jika hanya tinggal mereka berdua saja. Itu membuat Rain merasa tertekan.
"Aku harus bagaimana?" Rain mendengkus sambil bertanya pada dirinya sendiri.
Setelah mengatakan itu handphone Rain yang ada di saku celananya bergetar tanda ada panggilan yang masuk. Ia kemudian mengambil handphonenya lalu memperlihatkan nama panggilan yang masuk pada layar pipih itu kepada Coky.
Coky kembali tersenyum terkekeh, "baru saja dibicarakan. Seposesif itu terhadap putrinya." Ucap Coky yang kemudian mempersilahkan Rain untuk menjawab panggilan itu.
"Iya ayah?"
". . . ."
__ADS_1
"Datang ke rumah?"
". . . ."
"Tapi kami sedang di luar, di Villa Bougenville, mengunjungi nenek."
". . . ."
"Jaraknya lumayan jauh, takut nanti Sisi akan kelelahan jika harus kembali lagi. Jadi kami akan menginap di sini."
". . . ."
"Iya baiklah. Kami akan mengabari lagi." Dan setelah itu panggilan pun ditutup.
"Kenapa?" Tanya Coky.
"Dia akan berkunjung ke rumah besar." Jawab Rain setelah ia mendudukkan dirinya kembali di bangku taman.
"Kami juga akan kembali ke sana. Jadi tenang saja." Kata Coky lalu menepuk pundak Rain, bermaksud memberikan semangat kepada sang Tuan. Lagi-lagi Rain kembali membuang nafasnya kasar.
Sementara itu di ruang tengah.
"Jadi benar sudah menikah?" Tanya Sisi memastikan kepada semuanya hingga yang disana mengangguk semua.
"Tega sekali tidak mengundang ku juga tidak memberi tahu ku." Kata Sisi dengan nada kecewa menatap ke arah wajah Luna.
"Maafkan Luna nak Sisi, bukan salah dia tapi salah anak Bibi. Coky sangat tidak sabaran. Jadi mereka hanya melangsungkan pemberkatan pernikahan saja tanpa resepsi karena Coky ingin buru-buru mengikat Luna." Jelas bibi Susan memberi pengertian kepada Sisi.
Ya, Luna dan Coky sudah menikah secara sederhana dan itu juga dihadiri oleh Rain dan anggota keluarganya. Hanya kala itu Rain tak mengajak Sisi untuk hadir. Rain sendiri saja lupa jika waktu itu Coky akan menikah karena ia sibuk bekerja dan sibuk dengan pikirannya juga. Juga karena jarak antara rumah Armana ke distrik Villa Bougenville yang amat jauh Rain tak mengajak Sisi meskipun sebelumnya Coky memperingatkannya untuk mengajak Sisi datang.
"Ah iya, aku juga tahu itu Bi. Saat bekerja bersama mereka dulu, Coky sangat perhatian sekali kepada Luna. Tidak tahunya ternyata memang Coky sangat menginginkan Luna untuk dijadikan istrinya." Kata Sisi dan kemudian mereka kembali melanjutkan perbincangan mereka.
πΎπΎ
__ADS_1
hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.