GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 60


__ADS_3

"Aku berjanji akan menjadi kakak yang terbaik untuk Rehan. Terimakasih sudah menyayangiku selama ini, ibu." ucap Regan sambil mengelus nisan Natali Agustino.


Setelah acara pemakaman selesai, orang-orang satu persatu meninggalkan tempat dimana Natali dibaringkan untuk selamanya.


Hingga setelah kepergian Natali yang sudah lama, Agustino mulai mendirikan perusahaan Danbi di kota kelahirannya yang kini sedang berjalan di bawah tangan Regan. Dan dia juga mulai sibuk mengurus berkas-berkas surat kepemilikan Natali untuk dibagikan sesuai amanat Natali.


"Ayah, Rehan belum siap untuk memimpin Danbi. Pengalaman dan potensi kak Regan lebih bagus dari ku." tolak Rehan.


"Ini amanat dari ibumu." ucap Agustino.


"Tetap saja. Aku bahkan tidak berminat untuk menjadi pemimpin, ayah. Jika ayah masih sanggup, kenapa tidak ayah pegang dulu." Rehan masih mengelak.


"Dan juga mendiang ibu dulu pernah berkata tidak akan keberatan jika kak Regan ingin menjadi pemimpinnya." Rehan mengelak dengan menginginkan pesan ibunya dulu.


"Ayah sudah membangun perusahaan ini dengan bekerja keras. Dan itu juga amanat dari ibumu. Lagipula ayah juga sudah terlalu lama bekerja hingga menjadi seperti ini dan ini saatnya giliran kalian." kata Agustino masih berkukuh pada kalimat amanat istrinya.


"Dan pula ayah sudah mendirikan cabang di kota kelahiran kakak mu dan kakak mu juga sudah menjadi pemimpinnya disana." kata Agustino lagi. Mereka terdiam sesaat.


"Ayah, aku belum siap. Maafkan aku." ujar Rehan lalu membungkukan badan dan meninggalkan ruangan ayahnya.


Agustino hanya menatap kepergian anaknya sambil menghela nafas panjang.


"Dia masih merasa terbebani Natali." gumamnya.


Keesokan harinya di kantor ruangan Agustino.


"Apa maksudmu tidak ada di kantor? Lalu dia juga tidak ada dirumah?" tanya Agustino kepada ajudannya.

__ADS_1


"Kemana anak ini? Padahal dia akan persentasi untuk meeting kali ini." gumamnya sedikit khawatir sambil menghubungi Rehan melalui handphone.


"Kata sekertaris diluar, Tuan Rehan menelpon memberi tahu file persentasi sudah disiapkan di ruang kerjanya." ucap ajudannya lagi.


"Apa maksudnya? Lalu pergi kemana malahan dia?" tanya Agustino tak mengerti.


"Handphonenya juga tidak aktif. Kemana bocah ini? Sarapan tidak ikut. Berangkat kerja tidak memberitahu." gumamnya sambil masih mencoba menghubungi Rehan.


Dia ingat pagi-pagi tadi sebelum berangkat kerja Rehan tak ikut sarapan dengannya. Asisten rumahnya berkata jika dia sudah berangkat ke kantor terlebih dahulu. Tapi kata karyawannya tak ada yang melihat Rehan datang hari ini.


Agustino mulai memegangi keningnya. "Kita langsung menuju ruang pertemuan saja. Ambil file yang dimaksud sekertaris yang telah Rehan siapkan di ruangannya." ujar Agustino kepada ajudannya.


"Baik pak." jawab ajudan itu lalu menuju ruangan Rehan.


"Haah.. anak ini." gumam Agustino sambil menghembuskan nafas panjang.


"Aku khawatir." ujar Agustino. Dia lalu menghubungi Regan yang sedang berada di luar negeri, tempat kelahirannya dulu.


"Dia tidak mengaktifkan handphonenya. Apa dia ada menghubungi mu?" tanya Agustino dalam percakapan teleponnya.


"Kami bahkan sudah ada tiga hari tidak saling berkabar ayah, iya karena saya sangat sibuk disini." jawab Regan.


"Apa sebelumnya terjadi sesuatu? Aku jadi khawatir dia kenapa-kenapa." tanya Regan.


Agustino diam sejenak. Dia lalu mengingat kejadian dua hari yang lalu.


"Kami pernah membahas tentang amanat ibumu untuk kepemimpinan Danbi. Tapi dia tetap menolak. Sepertinya karena itu." ujar Agustino pelan. Regan menghembuskan nafas panjang.

__ADS_1


"Sepertinya sudah jelas alasannya. Tapi sekarang dia entah dimana yang menjadi pertanyaannya." kata Regan.


"Tapi tenang saja ayah, saya akan membantu mencarinya. Jika ada kabar apapun akan Regan hubungi." ujar Regan.


"Baiklah nak, terimakasih." ucap Agustino.


Saat panggilan mereka sedang berlangsung terdengar suara pintu diketuk di ruangan Agustino.


"Maaf pak, rekan kami menemukannya lalu segera menghubungi saya. Katanya ada catatan keluar negeri dalam jadwal penerbangan atas nama Rehan Armana Agustino di sebuah bandara." kata anak buah Agustino melaporkan hasil pencariannya.


Agustino mengangguk mengerti lalu mengisyaratkan anak buah itu untuk keluar. Regan yang mendengar laporan itu dari percakapan telepon sedikit terkejut. Adiknya berani berbuat nekat kabur dari ayahnya.


"Saya akan bantu ayah mencari keberadaannya. Ayah jangan terlalu banyak pikiran." kata Regan menenangkan ayahnya.


"Iya terimakasih Regan." Mereka lalu menutup panggilannya.


Regan lalu menghubungi informan yang handal di kotanya sekarang berada.


🐾🐾


...^^^----------------^^^...


hola readers πŸ‘‹


Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih πŸ˜πŸ’ž. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih πŸ˜˜πŸ’ž.


enjoy the reading πŸ€— πŸ’

__ADS_1


__ADS_2