
Namun orang bernama Bagus Wibowo itu sudah meninggal dan istrinya sudah menikah lagi tinggallah kini hanya anak dan menantunya yang menempati kediaman itu.
Tak mengapa bagi Arman, karena setelah mengobrol lama dan membicarakan niatnya untuk menitipkan Sisi disana, Brata sangat antusias dan terlihat senang. Apalagi katanya ia sudah lama rumah tangga namun belum juga dikaruniai seorang anak, mungkin Sisi bisa dijadikan pemancing untuk rejeki satu ini, katanya.
Brata juga sangat senang karena ada saudara jauhnya yang masih ingat dan mengakui dirinya sebagai saudara. Dia juga tak menyangka akan memiliki saudara bule. Setelah mengutarakan niatnya kepada Brata dan di sanggupi oleh Brata, Armana dan Velicia pamit pulang.
Arman berjanji akan sering berkunjung dan mengirim biaya hidup untuk Sisi juga beberapa rupiah untuk upah Brata dan istrinya dalam mengasuh dan mengurus Sisi.
"Tidak apa-apa jangan terlalu di jadikan beban, kami sangat senang dan ikhlas kok." ucap Brata.
"Tapi kami tidak punya rekening bank, mungkin untuk membeli susu buat Sisi kirim ke rekening pak kades saja ya. Beliau sangat baik dan sering membantu orang-orang sini yang dapat transferan keluarga dari luar kota atau luar negeri juga kok." jelas Brata.
Karena tak ingin repot membuat rekening baru di sana yang memang jaraknya menuju ke sebuah Bank lumayan jauh dari kampung Brata, Arman lebih baik memanfaatkan yang ada saja. Ia meminta nomor telepon dan nomor rekening Pak kepala desa disana, setelah urusan disana selesai ia benar-benar meninggalkan putrinya sendirian di tempat itu bersama orang-orang asing itu.
"Saya titip ya, tolong jaga dan rawat dia seperti anak sendiri. Pastikan keselamatan dan kesehatannya. Hubungi kami jika ada sesuatu yang di butuhkan lebih." pesan Arman sebelum benar-benar pergi. Helaan nafas panjang bergantian keluar dari hidung Velicia dan Arman, mereka benar-benar berat untuk melepas Sisi dari sisi mereka.
__ADS_1
"Bagaimana lagi, untuk menjaga kamu saja dulu sudah tahu kan seperti apa." tukas Arman dalam perjalanan mereka kembali ke kota. Ia menyetir sendiri mobilnya.
"Iya aku tahu, aku juga sangat berterima kasih kepada mu. Lagi-lagi keluarga mu semuanya tanpa sadar ikut direpotkan oleh ku sampai sekarang." ucap Velicia sambil tertunduk, kini ia tak bisa membendung kesedihan untuk melepaskan putrinya saat ini.
"Sudahlah jangan seperti itu, kita berdoa saja yang baik-baik untuk Sisi." ucap Arman sambil mengelus puncak kepala sang istri.
Ia bersikap seolah ia baik-baik saja padahal sama halnya dengan Velicia dia sangat berat berpisah dengan putrinya dan hal lain pun harus ia pikirkan juga, keselamatan dua orang yang ia cintai sekarang adalah hal yang terpenting. Terlebih Sisi masih sangat kecil untuk ikut terlibat dalam urusan orang dewasa apalagi menyangkut Candra yang tak segan-segan dengan nyawa.
Hari berjalan seperti biasa..
Sesuai perkiraan Arman, seperti kejadian dulu. Setelah sebuah peringatan dari Candra dan jika korban diam maka Candra juga akan diam. Namun Candra salah mengira, disangkanya diamnya Arman dia juga akan mundur dan menyerah? Ia tetap menjadi salah satu pemegang saham di perusahaan Aditama dan itu masih membuat Candra geram. Apalagi tak jarang setiap ada pertemuan Candra bertemu dengan Armana yang masih bisa tersenyum dan kadang tertawa seolah tak pernah terjadi apa-apa pada dirinya dan keluarganya setelah peringatan berupa penculikan putrinya itu.
Dan Andra, dia bukannya tidak mengetahui tentang kejadian yang menimpa Sisi putri temannya itu. Setelah kejadian itu Arman juga menghubungi Andra, dia menceritakan kasus penculikan yang di yakini melibatkan adiknya itu dan Arman berniat membawanya ke jalur hukum. Bukannya tidak setuju, kala itu Andra juga menceritakan tentang bagaimana adiknya yang bernama Candra itu bisa berkuasa. Bukan hanya bagian kepolisian, bagian hukum pun bisa ia bungkam untuk setiap perbuatannya. Bukan hanya dengan uang melainkan dengan cara yang sama ia gunakan kepada Arman, menekan dan mengancam seseorang.
Andra tidak keberatan jika pun Candra di laporkan oleh Arman, namun Andra sekali lagi mengingatkan kepada Arman bagaimana sistem hukum di negara ini. Dan setelah berkonsultasi dengan Pak Teguh, Armana membenarkan semua perkataan Andra.
__ADS_1
Solusi terbaiknya ya hanya dari kakaknya, memisahkan diri dengan Sisi jika dia ingin berbisnis dengan aman.
"Sial! Meski begitu dia tidak ada gentarnya." umpat Candra yang kini sedang berkumpul dengan teman-temannya yang juga salah satu pemegang saham di perusahaan induk Aditama.
Arga Danu, Gunawan, Indra Dirga, Agung Rama adalah pemegang saham dengan jumlah masing-masing yang terhitung cukup besar di antara share holder lainnya. Mereka juga menanamkan sahamnya di anak cabang Aditama. Kenapa bisa begitu? Karena semua pengaruh Candra. Orang yang mau berkoalisi dengannya akan mendapatkan banyak keuntungan, selain menjadi pemegang saham di perusahaan induk Aditama mereka juga di beri kesempatan untuk menanamkan sahamnya di perusahaan anak cabang.
Semua sudah atas pengaturan Candra dan Andra juga sudah tahu semua itu tapi dia hanya diam. Selama orang-orang itu tidak membuat hal yang merugikan perusahaan dia tidak akan bertindak juga, pun cukup sulit bagi Andra untuk melepas orang-orang itu yang sudah bekerjasama dengan baik dari dulu. Apalagi perusahaan yang mereka pimpin masing-masing bukanlah perusahaan dengan skala kecil.
Yang Andra yakini selama ia memimpin adalah jika sama-sama menguntungkan mereka tidak akan berkhianat atau menusuknya lebih dulu.
Mereka pro terhadap Candra karena pengaruh Candra yang terobsesi menjadi pemimpin utama di perusahaan induk Aditama dan mengiming-imingi banyak keuntungan dan peluang lain untuk mereka.
πΎπΎ
Β hola readers π
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
enjoy the reading π€ π