
"Astagaa.." ucap Velicia sambil menutup mulutnya dengan jari tangannya.
Rehan tersenyum menyungging bibirnya sebelah, "treasure" ucapnya memutar setengah badannya menatap ke arah Velicia.
Ruangan yang lumayan besar dan isinya membuat mata Velicia terkagum juga terkejut. Bagaimana tidak, ruangan itu berisikan barang-barang antik dan juga barang-barang mahal yang berkilauan.
Ada sebuah ranjang yang sepertinya peninggalan jaman kuno bersejarah, guci guci dan tembikar sebagai hiasan. Lalu lampu-lampu antik dari kaca dan kristal dan juga meja kursi antik.
"Sepertinya milik kakak yang tertinggal." kata Velicia sambil menyentuh dan memperhatikan barang-barang itu satu persatu.
"Emm.. sepertinya begitu. Dan tempat ini sepertinya sering di kunjungi." Rehan meraba ranjang antik yang atasnya terdapat kasur modern jaman sekarang. Dan tempat itu tak berdebu sama sekali. Meski tak ada AC atau saluran udara lain ruangan itu juga tidak pengap.
"Pasti desain kak Belle." gumamnya.
Dia menebak karena kakak iparnya itu sangat pandai dalam desain ruangan, termasuk gedung apartemen ini, yang di desain olehnya. Pun yang ia tinggali sekarang masih atas nama Regan, meski kakaknya itu sudah memberikannya untuknya.
"Terlihat kokoh. Berapa usianya? Apa tidak rapuh ya?" ucap Velicia mengagumi sambil mengusap tiang-tiang penyangga kelambu yang berdiri di empat sudut ranjang.
"Ingin membuktikan?" goda Rehan dengan bertanya.
Velicia memiringkan kepalanya tak mengerti, "hm?"
Kode begini pun Velicia juga tak mengerti, masa iya dirinya harus meminta secara terang-terangan. Memang lebih baik ditahan dulu saja, pikir Rehan. Namun tetap saja nalurinya menolak. Getar gairah yang dia tahan sejak setelah ciuman tadi seperti mulai menjalar kembali ke aliran darahnya hingga membangkitkan sesuatu di bawah sana.
Haah sepertinya dia tidak akan bisa menahannya kali ini. Biasanya weekend dia pakai untuk bekerja lembur namun sekarang dia pakai untuk istirahat di rumah. Mustahil dengan tidak melakukan apa-apa, apalagi ada istrinya yang juga hanya diam di rumah.
__ADS_1
"Membuktikan apakah ranjang ini masih kokoh." kata Rehan.
"Maksudnya?" Velicia masih belum menangkap kemana arah pertanyaan Rehan.
Langsung saja Rehan menarik tubuh Velicia hingga terjatuh terlentang di atas kasur tersebut. Dia lalu naik ke atas kasur dan memposisikan diri di atas Velicia. Tubuhnya kini mengurung tubuh Velicia dalam kungkungannya.
"Membuktikan langsung di tempat." ucap Rehan di samping telinga Velicia dengan sedikit berbisik.
Velicia dibuat meremang karenanya, seketika itu pula matanya membola. Sepertinya sekarang dia tahu maksud Rehan tadi apa. Rehan memasang senyum jahil melihat ekspresi istrinya.
"Kenapa? Tidak mau?" tanyanya menatap intens mata indah sang istri.
"Glek" air ludah seolah susah ditelan oleh Velicia.
Apa Rehan akan melakukan sekarang? Sungguh melakukan? Dengan serius? Tidak akan menggantungnya lagi? Meninggalkannya lalu membiarkannya dalam keadaan sedang ingin?, semua pertanyaan itu berputar di otaknya. Matanya terus menatap lurus menyelami netra sang suami.
"Aku mau." dengan cepat Velicia menjawab.
"A-aku si..ap." katanya dengan gagu untuk meyakinkan suaminya.
Mana mungkin dia menolak sesuatu yang tengah ingin dia rasakan setelah beberapa kali di gantung oleh Rehan. Untung saja dia belum keluar kemana-mana, bisa saja dia ditanya oleh teman atau kerabat keluarganya tentang bagaimana ceritanya malam pertama mereka. Mau jawab apa dia, bahkan melakukannya saja belum.
"Kau.. kau yakin?" kini Rehan yang berbalik bertanya karena ragu, benarkah jika Velicia memang sudah siap.
"Emm.." angguk Velicia dengan muka bersemu merah. Kemudian dengan berani dia mengalungkan tangannya ke leher sang suami.
__ADS_1
"Astagaaa.. ini mungkin terasa sakit." Rehan merasa lega, lalu berkata di telinga sang istri.
"Tidak apa, aku juga sudah mempersiapkan diri." Velicia meyakinkan Rehan.
"Aku juga sudah mencari tahu dulu di internet." ucap Velicia polos.
Mereka polos bukan dalam artian lugu dan tidak tahu sama sekali. Mereka juga tahu reproduksi dari pelajaran biologi dan banyak juga situs internet yang memberikan informasi tentang pelajaran tersebut.
Belajar sendiri dari film biru atau cerita-cerita dewasa. Hanya saja mereka belum melakukan prakteknya.
Rehan terkekeh kecil mendengar pengakuan Velicia, kemudian ia mulai mencium lembut telinga sang istri dengan sedikit mengulluum daun telinga sang istri. Bibirnya turun ke bawah menjelajah leher jenjang sang istri, menyeessap meninggalkan bekas kemerahan. Velicia masih bisa menahan suaranya agar tak keluar.
Dibukanya outer gaun tidur Velicia lalu ia menyusupkan tangannya ke dada sang istri. Kemudian Rehan beralih mencium bibir Velicia, membuka mulutnya dan kembali bersilat lidah. Dari sinilah sensasi senssitiff yang dirasakan Velicia tadi bangkit kembali.
Setelah melakukan pemanasan cukup lama yang sekarang mereka sudah tanpa busana dengan Rehan hampir membuat jejak di seluruh tubuh Velicia dari dada, bahu, punggung, pinggang hingga pangkal pahanya yang membuat Velicia meracau dan mendessahh.
Kini dia bersiap memasuki Velicia dengan kesaktiannya. Dengan perlahan dan beberapa kali percobaan dia memasukinya, akhirnya lepas juga darah yang disebut dara untuk sang perawan hingga mengeluarkan bunyi robekan pada selaput tersebut.
πΎπΎ
...^^^----------------^^^...
hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
__ADS_1
enjoy the reading π€ π