GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 92


__ADS_3

hola readers.. karya ini aku ikutkan dua perlombaan ya. buat kalian yang baca karya ku tolong kasih vote like dan komennya untuk semangat author. terima kasih πŸ™


...- - - - - - - - - - -...


"Tidak apa Nyonya Fariska, terimakasih sudah berkenan hadir di acara yang suami saya adakan." ucap Velicia. Setelahnya para perempuan yang lain pun ikut memperkenalkan diri masing-masing lalu mereka mulai perbincangan dengan obrolan yang biasa perempuan bahas dalam perkumpulan.


"Ah sepertinya Tuan Muda sudah kelelahan jadi tertidur. Bagaimana kalau di tidurkan dulu di kamar yang tersedia di sini Nyonya." ujar Velicia menawarkan saran karena melihat Rain tertidur pulas di pangkuan sang ibu.


"Akan saya antarkan Nyonya." Velicia melanjutkan ucapannya.


"Jika tidak keberatan Nyonya Velicia." jawab Fariska menyetujui saran Velicia.


"Tentu saja tidak sama sekali Nyonya. Anda kan tamu kami." ujar Velicia lalu memberi kode kepada salah satu penjaga keamanan pesta untuk membantu membawa Rain kecil.


Di gendongnya Rain oleh penjaga tersebut lalu berjalan mengikuti Fariska dan Velicia dari belakang menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai atas. Kamar 43, Fariska di antar masuk oleh Velicia dan penjaga keamanan yang kini sudah merebahkan Rain di atas kasur yang empuk. Penjaga itu pun pamit undur diri lalu keluar meninggalkan mereka.


"Maaf Nyonya Velicia saya jadi tidak bisa lama ikut bergabung dengan yang lainnya." ujar Fariska setelah mengucapkan terima kasih kepada penjaga yang sudah merebahkan Rain dan Velicia karena telah mengantarnya ke kamar ini.


"Tidak apa nyonya Fariska, lain waktu jika berkenan kita bisa membuat janji temu di luar. Agar lebih nyaman untuk kita saling berbincang." ujar Velicia.


"Tentu saja Nyonya. Saya sangat ingin sekali punya teman yang di ajak berbincang di luar rumah dan tidak keberatan jika saya membawa seorang anak." ujar Fariska lalu mengarahkan pandangannya kepada Rain yang sedang tertidur dengan lelap.

__ADS_1


"Tentu saja saya tidak keberatan. Dia terlihat lucu dan menggemaskan." timpal Velicia yang juga menatap ke arah Rain yang sedang tidur dengan damai. Kemudian mereka saling berbagi nomor telepon agar bisa menghubungi satu sama lain.


"Baiklah nyonya Fariska, silahkan anda beristirahat juga." ujar Velicia yang akan undur diri.


"Apa perlu saya beritahukan kepada Tuan Andra jika anda sedang beristirahat di sini?" Velicia coba menawarkan bantuan lagi.


"Tidak perlu Nyonya, itu terlalu merepotkan. Saya bisa menghubunginya secara pribadi." ucap Fariska dengan mengangkat telepon genggamnya.


"Ah baiklah nyonya. Saya kembali lagi kepada yang lain. Saya permisi, selamat istirahat nyonya." pamit Velicia sambil menunduk lalu melangkah keluar kamar. Fariska mengangguk mengantar kepergiannya.


Baru dua langkah ia berjalan, langkahnya terhenti karena sosok di depannya. Candra Aditama, mantan musuh? Entahlah, yang menurutnya masih tetap menjadi penjahat karena telah membunuh orang tua sahabatnya meski tidak secara langsung. Dan orang yang pernah, akan menginginkannya.


Sedikit gugup, begitu juga takut, karena dia juga pernah mendapatkan ancaman darinya. Untuk apa laki-laki ini di sini? Mungkinkah ingin istirahat, karena lantai ini berisi kamar untuk para tamu istirahat.


Tak ada jawaban keluar dari mulut Velicia dari sapaan Candra. Dia bergeming lalu tertunduk.


"Ah diam saja. Apa sekarang sudah bisa sombong karena di sampingmu ada Rehan? Aku bertanya-tanya siapa Rehan itu. Ternyata dia adalah orang suruhan mu dulu ya, orang yang kau suruh untuk menyelidiki kematian ayah sahabat mu, Subaki. Ah ngomong-ngomong tentang sahabatmu, Angel. apakah kau tidak merindukannya? Kau pasti bertanya-tanya kenapa dia tidak terlihat di pesta pernikahanmu sebelumnya dan seperti malam ini juga, kau tahu kenapa? Karena aku mengurungnya.


Mulutnya terlalu bawel, berisik, berteriak minta di lepaskan dan ingin kabur. Itu tidak mungkin aku lakukan tentu saja, karena dia adalah kunci. Jika dia buka suara, aku tidak mungkin membiarkan diriku hancur bukan?" bicara Candra dibuat panjang tanpa jeda dibuatnya agar Velicia merasa tertekan.


Mulut bak Sangkuni itu bicara dengan semaunya sendiri tanpa melihat lawan bicara membalasnya. Dan itu berhasil membuat Velicia benar-benar merasa tertekan karena sekarang rasanya dia berada di satu ruangan yang sempit, menghirup udara yang sama dengan Candra.

__ADS_1


"Satu lagi fakta yang membuatku sedikit terkejut, di belakang suami mu ternyata berdiri Regan Armana dan Arman Agustino. Aku tidak menyangka, kau pandai mencari tameng ya ternyata. Cara apa yang kau gunakan? Ah apakah dengan menjual perusahaan ayah mu itu? Atau.." kata-kata Candra menggantung lalu menatap Velicia dengan menelisik, "malah dirimu." ucapnya dengan menunjuk tubuh Velicia dengan dagunya.


Bagai terhujam dada Velicia, dia tak sanggup lagi mendengar ucapan mulut bak Sangkuni ini. Kepalanya yang terus tertunduk kemudian luruhlah air matanya melewati kedua pipinya. Dia menangis tanpa suara, lidahnya terasa kelu untuk terisak apalagi membalas ucapan Candra. Dadanya sesak, pandangannya mulai kabur karena genangan air mata di pelupuk matanya. Terasa gelap terang saja pandangannya kini, membuat tubuhnya berdiri tak seimbang.


"Selamat malam Tuan. Apakah Anda tersesat?"


Suara yang membuat Candra seketika menoleh ke arah belakang. Velicia, begitu mendengar suara itu nyawanya seolah kembali ke raganya dan kesadarannya pun ikut kembali lagi.


"Ah, tidak Tuan, saya sudah menemukan kamar saya." sahut Candra lalu membungkuk kepada Rehan untuk pamit pergi. Sedikit dia melirik ke arah Velicia yang masih tertunduk lalu melewati wanita yang sedang menangis tanpa suara itu.


Setelah kepergian Candra, Rehan menghampiri Velicia. Dia tahu apa yang terjadi dengan istrinya yang sedang mematung itu. Di angkatnya dagu sang istri dan di tatap dengan nanar, "maaf, pasti sudah lama." ucapnya.


Tidak mungkin dia menanyakan kepada sang istri apakah dirinya baik-baik saja sedangkan terlihat jelas olehnya bahwa Velicia sendiri dalam keadaan menangis. Dia meminta maaf, karena datang terlalu lama dan terlambat untuk membuat Velicia dan Candra agar tak bertemu dan beradu pandang yang menyebabkan istrinya menangis seperti sekarang.


🐾🐾


...^^^----------------^^^...


hola readers πŸ‘‹


Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih πŸ˜πŸ’ž. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih πŸ˜˜πŸ’ž.

__ADS_1


enjoy the reading πŸ€— πŸ’


__ADS_2