
Lalu Alfi menarik tangan Azura menuju balkon kamar nya. Seperti yang di katakan Alfi, memang melihat bintang-bintang dari kamar Alfi jauh lebih menyenangkan dan menarik. Bintang-bintang terlihat lebih jelas.
"Wah bener kata mas dokter, liat bintang dari sini lebih menarik!" seru Azura seraya berdecak kagum.
"Mau lihat bintang lebih jelas?" tawar Alfi.
"Emang bisa?" tanya nya dan Alfi mengangguk dan meminta nya menunggu sejenak.
Lalu Alfi kembali lagi dengan membawa perlengkapan teleskop reflektor milik nya membuat mulut Azura menganga tak percaya bisa melihat alat-alat canggih seperti itu.
"Ini... "
"Teleskop reflektor. Dengan ini kita bisa melihat benda-benda langit seperti bintang dengan lebih jelas dan tajam, tampilan warna nya juga lebih jelas" jelas Alfi.
"Benar kah?" tanya Azura antusias.
__ADS_1
Alfi mengangguk lalu ia membimbing Azura untuk berdiri di samping karena peephole teleskop reflektor terletak di samping. Lalu Alfi mengarahkan arah pandangan Azura dan membimbing cara mengamati bintang-bintang di langit menggunakan teleskop reflektor itu. Keunggulan menggunakan teleskop jenis ini, orang-orang dapat mengamati objek-objek dengan intensitas cahaya kecil sekalipun.
Karena sambil membimbing Azura, posisi mereka jadi begitu intim. Alfi berdiri tepat di belakang Azura hingga tanpa sadar Alfi dapat menghirup aroma tubuh Azura yang terasa begitu menenangkan.
"Wah, bagus banget! Mas dokter hebat bisa punya teleskop kayak gini. Mas dokter juga suka liat bintang ya?" tanya Azura dengan mata masih fokus mengamati objek-objek yang terproyeksi di cermin teleskop.
"Hmmm kamu juga?"
"Iya, dulu waktu mendiang papa masih ada, papa suka ngajakin ke bukit gitu buat liat bintang-bintang. Kadang kalau beruntung kami bisa liat bintang jatuh"
"Nggak lah, minta kok sama bintang" sahut Azura seraya tersenyum lalu ia menoleh ke belakang. Karena Alfi masih berada di belakang Azura, membuat wajah mereka nyaris berbenturan.
Azura dan Alfi terpaku di tempat, tak bisa bergerak, seakan sedang saling menyelami kedalaman mata masing-masing. Hidung mereka saling beradu, bahkan nafas mereka pun saling menerpa wajah masing-masing. Hingga entah siapa yang lebih dulu memulai, wajah mereka kian mendekat dan kedua nya saling memiring kan wajah hingga kemudian bibir mereka pun saling beradu.
Tangan kanan Alfi terulur menarik pinggang Azura hingga tubuh mereka saling merapat, lalu telapak tangan kiri nya menarik tengkuk Azura membuat kedua nya makin memperdalam ciuman itu.
__ADS_1
Tangan Azura kini mengalungi leher Alfi. Ciuman kian terasa panas, saling mengecup, memagut, menyesap, dan melu*mat. Suara decapan kini memenuhi balkon kamar Alfi.
Kaki Azura tanpa sadar telah melingkar di pinggang Alfi. Dan entah bagaimana caranya, kini kedua nya telah berada di atas ranjang king size milik Alfi. Mereka berdua terbuai dalam ciuman panjang dan dalam. Ciuman itu sempat terlepas untuk meraup oksigen, kemudian kembali berlanjut bahkan kini bibir Alfi telah meninggalkan jejak basah di sepanjang rahang, leher, dan tulang belikat Azura.
Nafas Alfi kian memburu saat tangan nya tanpa sadar telah meremas salah satu gundukan kenyal milik Azura. Azura pikir mungkin inilah saat nya, ia pikir malam ini ia akan memberikan segala nya pada Alfi. Azura pikir, ia akan menjadi istri seutuh nya mulai malam ini. Tapi ...
Tiba-tiba Alfi tersentak saat mendengar desa*han keluar dari bibir tipis Azura. Alfi terkejut bukan main saat melihat dress milik Azura telah tersingkap ke atas hingga mempertontonkan bukit kembar nya yang masih aman berada dalam sangkar nya. Benak nya tiba-tiba terguncang, sekelebat bayangan kelam melintas membuat nya sontak berlari tunggang langgang menuju kamar mandi meninggalkan Azura yang terpaku tidak mengerti.
"Mengapa? Apa yang sebenar nya terjadi? Apakah... apakah aku semenjijikan itu bagi nya sehingga membuat nya enggan menyentuh ku lebih dalam?" gumam Azura yang masih dengan posisi seperti semula.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
...Jangan lupa Like dan Vote...
...Terima kasih...
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke cerita ku yang lain nya ya kak