Gadis Unik Ku

Gadis Unik Ku
37


__ADS_3

Namun aksi nya kembali gagal karena William telah menembak ban mobil lelaki itu.


"Sial!" umpat nya sambil memukul kemudi.


"Aaargh... " ringisnya tak sadar kalau tangan kanan nya tengah terluka.


Dalam hitungan detik, lelaki itu telah di ringkus bawahan William. Setelah lelaki itu di bawa ke tempat yang semestinya, Stevan dan William pun menghampiri Alfi yang tengah membaringkan Azura di dalam mobil nya.


"Lo kenal?" tanya Stevan penasaran. Sebab setahu nya, ia tak pernah terlihat dekat dengan perempuan manapun setelah peristiwa yang terjadi di masa lalu nya.


Alfi hanya diam. Ia sedang mengecek denyut nadi Azura kemudian memasang kan sabuk pengaman dan menutup pintu mobil nya dengan perlahan.


"Al, lo kenal sama tuh cewek? Tumben-tumbenan lo mau ikut turun tangan nolongin orang" tanya William yang juga penasaran.


"Hanya ungkapan rasa kemanusiaan, apa nggak boleh?" ucap Alfi datar membuat kedua orang itu makin bingung.

__ADS_1


"Bukan nggak boleh Al, justru itu bagus. Arti nya rasa kemanusiaan lo masih hidup. Tapi yang jadi pertanyaan nya itu, kami merasa aneh sama tingkah lo terus apalagi lo sampai emosi gitu tadi. Kalau lo nggak kenal kan nggak mungkin" cecar Stevan mengeluarkan unek-unek nya.


Alfi hanya diam sambil melirik jam di pergelangan tangan nya. William yang paham Alfi enggan memberi kan keterangan pun lantas mengalihkan pertanyaan nya.


"Dia baik-baik aja kan?" tanya William.


Alfi pun mengangguk.


"Dia pingsan karena obat bius. Tapi bibir nya robek dan pipi nya memar, dan kemungkinan dia melakukan perlawanan dengan ba-jingan itu" tukas Alfi menjelaskan.


"Rumah sakit. Dia butuh di visum juga kan buat laporan"


William mengangguk setuju. Kemudian mereka pun berpisah di parkiran club malam Miracle.


************

__ADS_1


Sayup-sayup terdengar suara kicau burung. Langit tampak begitu cerah, bahkan cahaya mentari telah menerangi sebagian bumi di pagi itu. Azura tampak mengerjapkan mata nya, penglihatan nya masih agak terganggu akibat pusing yang di dera nya. Setelah semua telah terlihat jelas, Azura terduduk dengan mata melotot. Aroma ini, ruangan ini, ia tau ini dimana.


Lalu ingatan nya berputar kembali saat ia diseret oleh seorang lelaki yang tidak di kenal nya kemudian lelaki itu membekap mulut nya dengan sapu tangan yang ia yakini telah di beri obat bius. Tapi dari suara nya, ia tau kalau itu lelaki yang menyewa ruang VIP dan hendak melecehkan nya. Azura mengepalkan tangannya saat mengingat hal itu.


"Breng-sek! Dasar ba-jingan." geram Azura dengan sorot mata penuh amarah.


Azura memeriksa seluruh tubuhnya, ia khawatir lelaki itu telah berbuat macam-macam pada nya. Pakaian nya memang telah berganti menjadi pakaian pasien, namun ia tidak menemukan apa-apa kecuali memar di pergelangan tangan nya akibat cengkraman lelaki itu. Azura menggerakkan rahang nya, namun ternyata masih terasa sakit. Azura menghela nafas panjang. Namun ia penasaran, mengapa ia bisa sampai di rumah sakit ini? Apakah ada yang telah menolong nya saat ia pingsan? Tapi siapa? la tidak mengingat apa-apa setelah nya.


"Kau sudah bangun?" tiba-tiba suara yang akhir-akhir ini begitu familiar terdengar di indra pendengaran nya.


Azura lantas menoleh dan membelalak kan mata nya saat melihat itu benar-benar Alfi.


Azura mengucek kedua mata nya dengan tangan, namun wajah itu tidak berubah.


...Happy Reading...

__ADS_1


...❤️❤️❤️...


__ADS_2