
Setelah memasangkan cincin, Azura mencium punggung tangan Alfi dengan takdzim. Walaupun pernikahan ini sementara, ia berharap ia bisa melaksanakan tugas nya sebagai seorang istri dengan baik. Namun kenapa tiba-tiba hati Azura merasakan berdenyut nyeri saat membayang kan ia harus meninggalkan Alfi beberapa bulan kemudian. Tanpa sadar, setitik air mata jatuh di telapak tangan Alfi membuat Alfi mematung.
Setelah Azura mencium punggung tangan Alfi, kini giliran Alfi mencium dahi Azura. Ciuman itu cukup lama. Seketika, kehangatan tiba-tiba menjalar di dada Alfi. Ia tak mengerti perasaan apa itu, namun ia tak mau terlalu memikirkan nya sebab ia tau tujuan pernikahan ini tidaklah seperti pernikahan lainnya.
Pernikahan adalah sesuatu yang tak pernah Alfi inginkan. Pernikahan... keinginan itu telah lama mati. Bilapun kali ini ia terpaksa menikah, itu bukan karena keinginan nya melainkan untuk memuaskan keinginan orang-orang yang selalu saja ikut campur dengan segala urusan nya. Dia berharap, setelah menikah ia mendapatkan kebebasan nya lagi. la sudah jengah dengan segala macam teror pernikahan yang dilancarkan orang-orang terdekat nya. Mungkin, mewujud kan satu keinginan mereka tak ada rugi nya bukan. Setidak nya itu yang ada di benak Alfi saat ini.
"Tangan mu kenapa?" bisik Alfi saat para tamu sudah di persilah kan makan. Sedang kan mereka berdua, telah duduk di kursi pengantin yang khusus di sediakan untuk mereka.
"Ternyata kau bisa gugup juga" ejek nya.
Azura mendengus.
"Hei pak suami, aku ini wanita jadi ada kala nya gugup juga apalagi ini pernikahan pertama ku" jawab nya sambil melengos.
Kening Alfi berkerut dalam.
__ADS_1
"Memangnya kau mau menikah sampai berapa kali, hah?" delik Alfi dengan sorot mata tajam nya.
"Mau berapa kali terserah aku dong. Aku kan cantik, jadi mau berapa kali pun suka-suka aku apalagi kalau suami ku ketus terus kayak gini, bisa-bisa bulan depan udah ganti suami. Apalagi calon suami cadangan aku banyak" jawab Azura santai membuat sorot mata Alfi makin tajam, bahkan lebih tajam dari scalpel.
"Baru beberapa detik lalu kita menikah, kamu udah ada rencana mau ganti suami?" desis Alfi tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Azura terkekeh.
"Itu tergantung pak suami kok, kalau suami aku yang ganteng ini bisa lebih baik, lembut, dan perhatian, aku jamin nggak bakalan ganti suami"
"Mimpi" desis nya.
"Wah, baru aja nikah udah diancam jadi calon duren nih!" ejek Mario yang kini telah naik ke atas pelaminan.
"Wah, pak dokter Mario kirain nggak datang!" seru Azura dengan tersenyum lebar. Alfi mendengus melihat ekspresi itu.
__ADS_1
"Mana mungkin aku nggak datang kan aku juga pengen liat kamu. Ternyata sesuai dugaan aku, kecantikan kamu jadi berkali-kali lipat dengan gaun pengantin ini. Sayangnya ... " Mario melirik Alfi.
"Sayang nya apa?" tanya Azura polos.
"Ra... " panggil seseorang dari balik punggung Mario.
"Eh, lo Za!"
"Selamat ya! By the way, omongan gue tempo hari masih berlaku. Selama lo nggak bahagia sama dia, gue siap tunggu janda lo Ra" tukas Eza santai membuat dada Alfi serasa meletup-letup. Berbeda dengan Alfi, Azura justru tergelak karena nya.
...Yuk yuk, jangan lupa vote like serta komen nyaaaa😘😘😘...
...🌹🌹🌹🌹🌹...
...Jangan lupa Like dan Vote...
__ADS_1
...Terima kasih...
...Jangan lupa mampir ke cerita ku yang lain nya ya kak....