
"Wah, maaf banget ya sudah membuat mu terkejut! Tadi nya aku cuma mau cari suami ku ini, eh tau nya ada yang sedang membuat pengakuan yang menurut ku.. gila, bahkan sangat gila. Aku sampai nggak bisa berkata-kata karena saking terkejut nya. Kau menyakiti tapi kau berlagak seolah kau yang tersakiti. Wah Daebak!" seru Azura dengan ekspresi keterkejutan nya.
Prok prok prok...
Azura bertepuk tangan meriah sambil tertawa. Bahkan ekor mata nya kini basah karena terlalu terbawa suasana.
"Kau tak usah ikut campur! Ini urusan ku dan Alfi" ucap Vina lantang.
"Urusan suami ku itu juga urusan ku. Kau tidak malu ya, perut udah segede itu masih mencoba merayu mantan pacar yang sudah pernah kau khianati. Kalau aku sih, ih... malu banget. Mau di taruh dimana nih muka, mau di simpan di bawah meja kelihatan, di bawah kasur entar gepeng, ah simpan di dalam beha aja kali ya biar tolol nya nggak keliatan banget. Astaga, aku sampai merinding ingat kata-kata mu barusan"
__ADS_1
"Tutup mulut mu!" bentak Vina.
"Situ yang harus nya tutup mulut! Aku memang nggak tau masalah kalian di masa lalu. Tapi aku mendengar ucapan mu, seolah kau yang sangat tersakiti. Sudah lah tidak usah banyak drama dan berhenti seolah kau yang di campakkan. Kau bilang kau amat tersiksa dan hampir gila karena perbuatan mu sendiri? Bahkan menurut ku hukuman itu masih terlalu enteng untuk peselingkuh seperti kau! Dan satu hal lagi, kau bilang suami ku masih belum move on dan masih sangat mencintai mu? Seberapa berharga nya dirimu hingga suami ku masih pantas mencintai mu? Ingat, seorang penghianat tidak lebih baik dari sampah!" tukas Azura dengan memasang tampang songong.
Vina mengepal kan tangan nya erat, dia mengangkat tangan nya hendak memukul wajah Azura, tapi belum sempat tangan itu menyentuh wajah Azura, Alfi telah lebih dahulu menangkap tangan itu dan menghempas nya kasar.
Lalu Alfi meraih tangan Azura dan menarik nya pergi dari sana. Azura menoleh ke belakang lalu menjulur kan lidah nya, mengejek mantan kekasih suami nya yang tidak tau malu itu.
Vina mendengus kesal, wajah nya merah padam menatap kepergian Azura dan Alfi dengan emosi yang menggebu-gebu. Azura dengan setia mengikuti langkah kaki Alfi yang entah mengajak nya kemana. Bahkan Alfi mengabaikan semua tatapan tatapan pengunjung restoran itu yang menontoni perdebatan itu sejak tadi.
__ADS_1
Alfi dan Azura kini telah berada di dalam mobil. Azura bahkan tidak berani berbicara sama sekali, ia hanya bisa membia rkan Alfi dan kemarahan nya. la hanya pasrah saja membiarkan Alfi hendak membawa nya kemana saja asal kan mereka tetap berdua. Tak mungkin ia membiar kan suami nya sendirian dengan kemarahan nya itu. Walaupun yakin Alfi tak kan mungkin melakukan sesuatu yang bodoh, tapi untuk jaga-jaga ia tetap harus mendampingi nya. Bukan kah seperti itu lah seharus nya seorang istri, menemani sang suami dalam berbagai keadaan dan situasi. Tak peduli sehat, sakit, susah, maupun senang, harus selalu mendampingi. Azura justru senang bisa menjadi bagian dari Alfi dan bisa tetap mendampingi suami nya di saat keadaan seperti ini walaupun ini merupakan keadaan yang tak terduga.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
...Jangan lupa Like dan Vote...
...Terima kasih...
Jangan lupa mampir ke cerita ku yang lain nya ya kak
__ADS_1