
"Azura ... " suara teriakan menggema dari luar kamar Azura. Azura yang masih terlelap tiba-tiba tersentak hingga kepala nya menjadi pusing karena terlalu terkejut.
Bruakkk...
Alfi membuka pintu kamar Azura lalu masuk sambil melempar kan pakaian kotor ke wajah Azura.
"Astaga, mas dokter apa-apaan sih! Aku masih ngantuk tau! Terus ini kenapa pakaian kotor di lempar kesini, emang aku ini keranjang baju kotor" desis Azura seraya memijat pelipis nya yang mendadak pening.
"Masih ngantuk? Kamu nggak liat udah jam berapa ini? Kamu nggak kerja?" ucap Alfi seraya berkacak pinggang.
"Jam berapa sih?" lalu Azura melihat jam dilayar ponselnya.
"Astaga, udah telat!" gumam nya lalu ponsel nya tiba-tiba berdering.
"Eza" gumam nya lagi lalu ia pun segera mengangkat panggilan itu.
"Hai, Za"
"...."
"Sorry, gue kesiangan"
"...."
"Iya, tenang entar gue traktir deh sebagai gantinya!"
"Apa? Nonton? Boleh juga. Siang ini? Oke"
__ADS_1
"Bye... " klik. Panggilan pun ditutup.
"Kau mau pergi? Kau tidak boleh pergi kemanapun sebelum kau membereskan dulu semua pekerjaan mu!" titah Alfi seperti seorang majikan memerintah bawahan nya.
"Pekerjaan apa lagi sih mas dokter? Sarapan? Gampang. Nyapu kan kemarin udah. Pakaian ini? Aku bawa ke binatu aja deh. Tinggal siniin uangnya bereskan!"
"Bukan kah aku sudah bilang aku tak suka pakaian ku di sentuh orang lain"
"Ya udah, mas dokter cuci sendiri aja, gitu aja kok repot!"
"Bukan kah sudah tugas seorang istri mencuci pakaian suami nya? Mengurus makanan dan membersihkan rumah, kenapa aku harus repot-repot? Cepat kerjakan kalau kau masih mau pergi!" titah Alfi lagi seraya berlalu dari hadapan Azura.
Dengan menghentak kan kaki, Azura membawa pakaian kotor itu ke ruang mencuci.
Sudah satu jam berlalu, tapi pekerjaan Azura belum ada yang beres. Dengan tubuh bermandi kan peluh, Azura melangkah kan kaki nya lalu berdiri sambil berkacak pinggang di hadapan Alfi yang sedang asik menonton televisi.
"Bukan kah peran suami istri memang seperti itu. Istri beres-beres rumah dan suami menikmati hasil nya" sahut Alfi santai sambil memakan kacang kulit milik nya.
"Ada ya orang nyebelin kayak mas dokter. Entah apa salah dan dosa ku sampai harus terkena kutukan dapat suami menyebal kan kayak kamu" desis Azura yang sudah menghempas kan bokong nya di samping Alfi.
Seakan Azura merupakan sebuah virus, Alfi segera menggeser tubuh nya menjauh dari Azura.
"Dosa mu mau-mau nya bekerja sama dengan kak Zie untuk menaklukkan aku jadi tanggung sendiri risiko nya"
"Jadi mas dokter udah tau?"
"Aku tak sebodoh itu mudah kalian permainkan"
__ADS_1
Azura mendesah lirih sambil melirik Alfi.
"Bagus lah kalau mas dokter udah tau, berarti aku bisa melakukan tugas ku secara terang-terangan mulai sekarang" ucap nya sambil menyeringai membuat Alfi bergidik sendiri.
"Hai, Steven" ucap Alfi saat ia mengangkat panggilan dari Steven.
Azura yang melihat itu lantas segera merebut ponsel Alfi dan berteriak.
"Woi pelakor, udah gue bilangin jangan ganggu suami gue lagi kok lo ngerti nggak sih! Atau pisang lo beneran mau gue bonyokin, hah!" teriak Azura.
Alfi yang melihat itu segera merebut ponsel itu sehingga terjadilah adegan rebut-rebutan hingga kedua nya jatuh berguling di atas lantai dengan Azura berada di atas.
"Wah, mas dokter mau lanjutin yang semalam ya!"
"Jangan mimpi! Semalam aku hanya ingin melihat apakah aku sudah mulai tertarik dengan perempuan tapi seperti nya tidak" lalu Alfi mendorong tubuh Azura hingga jatuh ke samping.
"Kurang ajar, awas ya kamu mas dokter! Aku pasti akan membuatmu bertekuk lutut padaku!" pekik Azura saat Alfi telah berdiri.
"Coba saja kalau bisa. Asal kau tau, aku lebih terangsang melihat tubuh laki-laki dari pada wanita seperti mu" ucap nya membuat Azura kian meradang.
"Baiklah, kita tunggu aja hingga saat itu tiba. Jangan panggil aku Azura bila aku nggak bisa membukti kan ucapan ku" ucap nya dengan penuh kesungguhan.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
...Jangan lupa Like dan Vote...
...Terima kasih...
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke cerita ku yang lain nya ya kak