
Hari sudah makin larut, cuaca pun sudah makin dingin hingga seakan menembus tulang, tapi Azura seperti nya masih enggan pulang. Entah lah, mungkin karena biasa nya di jam seperti ini ia masih berada di kerumunan orang-orang untuk mengais rupiah jadi ia enggan berada di rumah sendirian. Apalagi saat ini Hasna belum pulang, membuat nya merasa kesepian.
Setelah menandaskan bakso dan teh nya, Azura mengeratkan hoodie yang di kenakan nya agar dingin tidak membelai pori-pori nya dan menusuk tulang. Azura juga menutupi kepala nya dengan tudung hoodie tersebut agar ia bisa berjalan dengan nyaman dan santai.
Azura menghembus kan nafas panjang sambil melangkah kan kaki nya menjejaki jalanan malam yang terasa lengang dengan otak yang sibuk berputar-putar memikirkan bagaimana mencari jalan keluar dari masalah yang sedang membelit nya. Untuk saat ini memang ia masih merasa aman, namun itu hanya sementara. Bisa saja dalam hitungan jam, menit, bahkan detik semua akan berubah 180 derajat. Siapa yang tidak tahu kemampuan netijen zaman now? Yang hanya dengan handphone di dalam genggaman mereka, mereka dapat menjungkirbalikkan kehidupan seseorang, baik dengan menyebar luaskan berita yang belum tentu kebenaran nya atau pun juga dengan komentar pedas mereka yang kadang hanya berupa asumsi hingga berujung fitnah.
Bila dahulu lidah itu lebih tajam daripada pisau, maka sekarang jari-lah yang lebih tajam dari para pisau. Sebab hanya dengan tarian jemari di atas papan keyboard ponsel mampu membuat kehidupan seseorang jadi kacau.
__ADS_1
Makin malam angin justru berhembus makin kencang, pun dingin yang kian menusuk-nusuk. Azura tetap melangkah kan kaki nya dengan tangan yang berada di dalam saku hoodie. Mata nya nampak memandang ke sekeliling yang telah mulai sepi, walaupun masih terlihat 3 sampai 4 kendaraan yang lewat di jalanan yang di lalui nya hingga ia melihat sebuah jembatan yang sering di gunakan untuk menyeberang sungai kecil yang lebih kelihatan seperti waduk. Jembatan itu tidak terlalu jauh, Azura pun menerus kan langkah nya menuju jembatan itu. Entah apa yang menarik dari jembatan itu, tapi Azura ingin sekali ke sana dan menikmati sepi dan dingin nya malam di sana.
Setibanya ia di sana, Azura berdiri di tepi jembatan dengan menghadap ke sungai. Lantas ia pun merentang kan kedua tangan nya dengan kepala sedikit mendongak sambil menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan. Menenangkan, itulah yang Azura rasakan saat udara dingin nan bersih menyejukkan itu masuk ke saluran pernafasan nya hingga tiba-tiba ia mendengar sebuah teriakan yang memanggil nama nya. Azura pun lantas menoleh dan mendapati seseorang yang sedang menjadi target misi nya melompat dari dalam mobil dan segera berlari menghampiri diri nya dengan nafas yang memburu.
Azura membeku di tempat dengan alis berkerut dan mata membola, bertanya-tanya sedang apa laki-laki itu di sini.
"Gawat! Pasti si dokter galak ngirain gue yang nyebarin foto itu. Gue harus kabur secepat nya dari sini" gumam Azura saat melihat jarak Alfi tidak sampai 10 meter lagi dari diri nya.
__ADS_1
...🌹🌹🌹🌹🌹...
...Jangan lupa Like dan Vote...
...Terima kasih....
Jangan lupa mampir ke cerita ku yang lain ya kak
__ADS_1