
"Eh mbak... Eh maksud nya iya mbak, perkenal kan saya Azura" ucap Azura pura-pura memperkenal kan diri karena hampir saja keceplosan.
"Oh hai, saya Zie kakak nya Alfi. Kamu kekasih adik saya ya?" tanya Azura sambil melirik Alfi yang acuh tak acuh.
Azura pun menoleh ke arah Alfi, lirikan mata nya seolah bertanya 'Aku harus jawab apa?'
Tapi Alfi tetap acuh tak acuh membuat Azura kesal.
"Bu..."
"Kalau iya kenapa? Ini yang kakak inginkan kan!" potong Alfi seraya mendesis.
"Apa? Dia pacal om? Angkasa juga mau punya pacal!" ujar Angkasa sambil menghentakkan kaki nya membuat Zie terkekeh dan Azura membulatkan mulut nya.
"Astaga, kamu lucu banget sih!" seru Azura.
"Dia putri ku, keponakan Alfi. Udah yuk masuk, ayah udah nungguin kalian" ucap nya lalu Zie pun membuka pintu ruang kerja sang ayah.
__ADS_1
"Silahkan duduk Azura" ujar Zie saat ia telah di dalam. Mulut nya terkunci saat melihat seorang pria yang usia nya sudah senja duduk dengan gagah di sofa single dengan kaki terlipat dan tangan berada di atas pegangan sofa. Sorot mata nya tajam, penuh intimidas membuat Azura jadi panas dingin.
"Jadi kamu gadis yang ada di dalam foto itu?" tanya ayah Damar datar.
"I-iya yah, eh om" sahut Azura gugup.
"Yah? Apa kau pikir dengan di undang nya kamu kesini berarti kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ku?" desis ayah Damar membuat Azura kian tertunduk dalam.
"Ayah... "sergah Zie.
"Maaf" cicit Azura membuat Alfi menghela nafas kasar.
"Sebegitu tidak betah nya kamu di rumah ini hingga kamu ingin cepat-cepat pergi?" jawab ayah Damar dengan senyum menyeringai.
Alfi pun hanya tersenyum kecut mendengar penuturan ayah nya.
"Ya sudah, ayah langsung ke inti nya saja. 2 Minggu dari sekarang pokok nya kalian berdua harus menikah. Tenang saja, segala urusan pernikahan mu, kakak mu Zie yang akan mengatur" ucap ayah Damar tegas dan dingin membuat Azura dan Alfi terkejut setengah mati.
__ADS_1
"Ayah... " Alfi mencoba bicara tapi ayah nya mengangkat telapak tangan kanan nya. Itu arti nya tak ada bantahan ataupun penolakan, Alfi pun hanya bisa terdiam dengan rahang mengeras.
Beda hal nya dengan Azura, ia justru mematung tak percaya dengan apa yang dia dengar. Tidak bisa kah ia berpendapat? Mengapa orang kaya selalu cenderung semena-mena pikir nya.
Setelah mengucap kan itu, ayah Damar pun berlalu di ikuti Zie meninggalkan Azura dan Alfi yang sibuk berperang dengan pikiran masing-masing.
*******
Konferensi pers baru berakhir beberapa menit yang lalu, akhir nya Azura dapat bernafas dengan lega setelah berhasil menjawab serentetan pertanyaan dari awak media yang jiwa kepo nya melebihi lambe-lambe lalu lintas.
Sebenar nya bukan Azura yang lebih banyak menjawab, tapi si kulkas 10 pintu lah yang dominan sebab ia pun bingung harus menjawab seperti apa. Khawatir nya, ia salah bicara atau jawaban nya tidak sesuai dengan keinginan si pak dokter galak itu. Jadi lebih baik tutup mulut rapat-rapat tapi tetap sedikit di lengkung kan dengan indah seindah pelangi di matamu.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
...Jangan lupa Like dan Vote...
...Terima kasih....
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke cerita ku yang lain ya kak