
"Hasna, itulah guna nya seorang kakak. Kakak itu bukan hanya sebuah gelar yang di sandang saudara yang lebih tua, tapi ada tanggung jawab di dalam nya. Bukan hanya pengayom, tapi juga penjaga dan pelindung. Seorang kakak yang baik pasti akan selalu memikirkan kebahagiaan adik nya, bahkan kadang sampai lupa kebahagiaan nya sendiri. Seorang kakak akan bahagia bila melihat adik nya bahagia. Seorang kakak juga tak pernah meminta imbalan atas apa yang ia lakukan dan korban kan. Sebab melihat sang adik dapat hidup bahagia adalah imbalan terbesar bagi seorang kakak" tukas Zie yang ikut menimpali sambil melirik Alfi yang turut mendengar kan.
Hal tersebut pun di benarkan Azura. Setelah itu, pasangan pengantin itupun turun ke ballroom hotel. Para tamu tampak sudah memadati ruangan megah itu. Mereka bersorak-sorai saat melihat pasangan pengantin yang tampak begitu serasi itu memasuki ruangan. Semua orang tampak begitu berbahagia. Bahkan untuk pertama kali nya, Alfi memamerkan senyum manis nya di hadapan para tamu sampai membuat Azura terkesima.
"Masya Allah, pak dokter senyum mu... duh bikin aku meleleh. Manis banget deh, pak dokter ibu nya waktu hamil pak dokter itu ngidam apaan sih? Kok bisa manis gitu? Bagi resep nya dong? Siapa tau entar aku berhasil hamil anak pak dokter kan bisa di terapin tuh biar anak kita senyum nya semanis senyum pak dokter" bisik Azura di telinga Alfi.
Sontak saja, aksi itu mendapat godaan dari para tamu. Mereka terlihat bagai pasangan yang saling mencintai, mungkin takkan ada yang menyangka kalau pernikahan ini terjadi akibat rencana seseorang.
"Jadi... kau mau mengandung anak ku,
hm?" desis Alfi dengan mata
menyipit.
"Ya maulah pak! Aku cantik dan pak dokter
ganteng, anak kita nanti jadi nya pasti
cakep banget tu soal nya dia terbuat
__ADS_1
dari bibit unggul kita berdua. Emang pak
dokter nggak mau?" goda Azura dengan
mata berbinar.
Alfi hanya bisa geleng-geleng kepala
mendengar godaan Azura yang makin
berani saja itu.
**********
Apakah gerangan yang terjadi?
Flashback on
"Pak dokter?" panggil Azura sedikit merengek.
__ADS_1
Alfi yang sejak tadi masih berkutat dengan ponsel nya lantas menoleh.
"Apa?" jawab Alfi datar seperti papan triplek.
Azura berdecak pelan sambil mengerucut kan bibir nya. Ia kini tengah berdiri di depan meja rias, ia baru saja melepas kan satu persatu aksesoris di rambut nya. Azura pikir Alfi akan sedikit bersikap romantis dengan membantu melepas kan aksesoris yang jumlah nya cukup banyak itu, tetapi ternyata tidak. TIDAK SAMA SEKALI. Dasar pak dokter nggak ada perasaan!
"Bantuin!" rengek Azura dengan puppy
eyes'nya.
Alfi mengerutkan kening nya.
"Sini dulu ih! Nggak peka banget jadi suami. Nggak liat apa istri lagi kesusahan buka gaun pengantin nya? Pak dokter liat nih di belakang, kalau gaun lain kan pakai resleting tapi gaun yang ini pakai kancing mutiara. Mana jumlah nya banyak banget dan panjang, udah kayak rel kereta apa aja. Bukain!" cerocos Azura yang minta tolong sembari mengomel membuat Alfi menghela nafas panjang.
Maaf ya readers ku kalau up nya lama. Tapi tenang aja, author bakal tetep usaha ada waktu buat up ya😘😘
...🌹🌹🌹🌹🌹...
...Jangan lupa Like dan Vote...
__ADS_1
...Terima kasih...
Jangan lupa mampir ke cerita ku yang lain nya ya kak