
"Sudah apa Ra?" tanya Alfi penasaran apa yang ingin di katakan Azura.
"Ah nggak, nggak kenapa-kenapa. Saya tutup dulu ya pak dokter telepon nya. Saya ngantuk mau tidur" ujar Azura kemudian langsung menutup panggilan itu tanpa mendengar respon Alfi sama sekali.
Tut Tut Tut ...
Panggilan di tutup, membuat Alfi terpaku sambil memandang layar ponsel nya yang menampilkan wallpaper foto Azura dan Angkasa saat berada di arena bermain. Senyum itu tampak cerah dan manis. Padahal baru beberapa hari berlalu semenjak tragedi itu, tapi mengapa seakan sudah lama sekali Alfi tidak melihat senyum cerah dan manis istri nya?
Alfi teringat kembali pertanyaan Azura yang terakhir, entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal dari kalimat tanya itu. Seperti menyiratkan sesuatu, tapi apa ia tak tahu.
'Tapi kenapa baru sekarang? Di saat semua nya tak kan lagi sama. Di saat saya sudah...'
__ADS_1
"Tidak mungkin kan ia berpikir untuk meninggalkan ku? Aku mohon Ra, jangan sampai kau menyerah dan meninggalkan ku! Aku akan benar-benar hancur kali ini bila aku kembali di tinggalkan apalagi itu oleh mu. Aku pasti tak kan bisa bertahan lagi, aku tak kan sanggup bertahan bila kau pergi meninggalkan ku. Aku benar-benar akan mati bila kau tak lagi di sisi ku" gumam Alfi yang tanpa sadar meneteskan air mata, tak sanggup membayangkan bila ia kembali di tinggalkan oleh orang yang baru ia sadari begitu berarti bagi hidup nya.
*****
Lelah terus menangis, tiba-tiba Azura merasa lapar. Beberapa hari ini memang ia kurang berselera makan. Apalagi ia sempat demam karena terlalu lama menangis di bawah guyuran shower. Dengan langkah gontai, Azura berjalan menuju kulkas untuk memeriksa persediaan makanan di dalam sana. Azura menghela nafas panjang, di dalam sana ia tidak memiliki sesuatu untuk di cemil.
Sesaat ia memeriksa aplikasi yang melayani delivery order, tapi ia tak berselera satu makanan pun. Akhir nya ia memutuskan untuk membeli cemilan dan minuman ringan di minimarket yang berada di seberang apartemen itu.
"Mau apa kau datang kesini?" tanya Azura sinis dengan tangan terlipat di depan dada.
Vina tersenyum mengejek sambil menatap Azura dari atas sampai ke bawah, membuat Azura merasa risih. Tatapan mata nya seakan menelanjangi nya di depan umum. Azura mengepalkan tangan nya dengan dada yang bergemuruh. Peristiwa itu lagi-lagi melintas di benak nya.
__ADS_1
Dengan tanpa basa-basi, Vina mendorong bahu Azura seraya melangkah kan kaki nya masuk ke apartemen itu. Dengan tangan bersedekap di depan dada, mata Vina tampak memindai seisi apartemen itu dengan senyuman mengejek.
"Cck... foto pernikahan aja nggak ada, keliatan banget kalau kalian itu cuma nikah settingan" cibir Vina dengan satu sudut bibir terangkat ke atas.
...🌹🌹🌹🌹...
...Jangan lupa Like dan Vote...
...Terima kasih...
Jangan lupa mampir ke cerita ku yang lain nya ya kak
__ADS_1