Gadis Unik Ku

Gadis Unik Ku
182


__ADS_3

"Iya, kenapa? Nggak boleh!" desis Azura sambil menggigit bibir bawah nya untuk menahan segala rasa yang kian bergelora karena gerakan tangan Alfi telah mampu menguasai sisa-sisa kesadaran nya.


"Kenapa marah?"


"Udah tau nanya" ketus Azura.


"Mau makan bakso, hm?"


Azura mengangguk pelan dengan bibir yang mengerucut.


"Kenapa telepon nya ditutup? Kan mas belum selesai ngomong"


"Buat apa? Ending nya juga pasti sama kan, aku nggak boleh makan bakso di... "


"Kata siapa? Maka nya jangan asal tutup telepon, dengar kan dengan jelas terlebih dahulu. Mas bilang nggak boleh tapi bukan nggak boleh makan bakso tapi nggak boleh pergi sendiri. Mas nggak mau ambil risiko terjadi sesuatu yang buruk pada kalian karena kalian adalah separuh nafas mas. Jadi mas yang akan anterin ke sana" jelas Alfi membuat mata Azura seketika berbinar indah.


"Mas Alfi serius?" tanya Azura penuh semangat dengan kedua tangan yang telah melingkari leher Alfi.


Alfi mengangguk lembut dengan tatapan mata yang telah tertuju pada bibir Azura.

__ADS_1


"Jadi?"


"Kasi mas makan dulu sebentar, oke? Mas udah lapar" Ucap Alfi dengan sorot mata memuja.


Azura yang paham kemana arah pembicaraan suami nya hanya bisa mengangguk pasrah. Toh, dia juga suka. lya kan para readers!


Lalu terjadi lah apa yang seharus nya terjadi di tengah hari itu. Makan bakso nya terpaksa di pending dulu karena ada bayi besar yang sudah tak sabar ingin menyantap hidangan istimewa nya.


******


"Ra, cabe nya jangan banyak-banyak, nanti perut kamu sakit!" peringat Alfi saat melihat istri nya menyendok kan cabai sudah lebih dari tiga sendok sampai-sampai kuah nya pun terlihat mengerikan. Pekat warna kecap, di tambah saos sambal, lalu cabai yang entah sudah berapa sendok Azura tuang kan ke dalam bakso nya. Itu lebih pantas di sebut makan cabai pakai bakso dari pada bakso pakai cabai. Alfi sampai bergidik ngeri sendiri melihat nya.


"Ra ingat, di dalam perut kami itu ada calon baby kita! Selain itu, makan sesuatu yang berlebihan itu nggak baik bagi kesehatan. Kalau kamu lupa, tempo hari kamu pernah di rawat di rumah sakit karena asam lambung kamu naik, kamu nggak mau kan hal itu terjadi lagi? Kamu nggak mau juga kan membahayakan anak kita?" Tukas Alfi mencoba memberi pengertian agar istri nya itu tidak hanya memikirkan kesenangan nya sendiri tapi juga dampak kesenangan nya itu.


Azura yang tadi nya hendak kembali menyendok kan cabai yang menurut kata nya kurang pedas lantas meletakkan kembali sendok cabai nya ke tempat nya semula. la menghela nafas berat, padahal ia sudah tak sabar ingin menikmati bakso ekstra pedas nya, tapi mendengar kata-kata pak dokter kesayangan nya membuat nya berpikir ada benar nya apa yang di katakan suami nya itu. Apalagi ia adalah seorang dokter, mantan dokter lebih tepat nya, pasti apa yang ia kata kan ada benar nya. Ia tak menampik hal itu. Alfi mengingat sesuatu bukan karena tak suka, tapi demi kebaikan nya dan juga calon buah hati nya.


Tangan Azura lantas terangkat dan berpindah mengusap perut datar nya yang mulai mengeras seraya tersenyum.


Melihat hal tersebut, Alfi bernafas lega arti nya istri nya itu dapat menerima nasihat nya.

__ADS_1


Namun, senyum penuh kelegaan itu hanya bertahan sepersekian detik karena pada detik berikut nya, mangkok bakso super pedas Azura sudah berpindah ke hadapan nya, sedangkan bakso milik nya sudah di kuasai istri nya itu dengan senyum tanpa dosa.


"Ra, itu... "


"Kita tukaran aja mas, aku takut sakit perut terus dedek nya ikutan mules. Nggak papa kan!" Ujar nya dengan wajah innocent nya.


Alfi hanya bisa cengo melihat wajah tanpa dosa sang istri. Entah harus menyesal karena sudah menasihati atau tersenyum lega karena Azura menuruti nasihat nya, yang pasti kini ia hanya bisa memakan bakso nya sambil berdoa dalam hati semoga perut nya aman-aman saja.


"Kenapa mas?" tanya Azura seperti tak mengerti kegalauan nya sama sekali atau memang tak paham sama sekali.


"Ah, ng-nggak papa. Ayo buruan makan!" Ucap nya sambil menyendok kan bakso ke dalam mulut nya seolah tidak masalah padahal dalam hati ia sudah was-was.


'Astaga, pedasnya! Auto sedia obat diare ini' desah nya dalam hati.


...🌹🌹🌹🌹...


...Jangan lupa Like dan Vote...


...Terima kasih...

__ADS_1


...Jangan lupa mampir ke cerita ku yang lain nya ya kak...


__ADS_2