Gadis Unik Ku

Gadis Unik Ku
127


__ADS_3

"Ra, kamu dimana? Kenapa nomor kamu nggak aktif? Apa yang sebenar nya terjadi? Aku harap kalian baik-baik saja" gumam nya dengan jemari bergetar. Lalu ia meraup wajah nya kasar. Ia panik, ia cemas, ia benar-benar mengkhawatir kan keadaan istri nya dan Angkasa.


Tak putus asa, Alfi pun mencoba menghubungi kediaman orang tua nya untuk menanyakan apa sopir yang di minta nya menjemput Azura telah berangkat


"Bi ini Alfi, apa pak Sarmin sudah berangkat menjemput Azura dan Angkasa?" tanya Alfi to the point saat panggilan nya di angkat salah satu asisten rumah tangga orang tua nya.


"Sudah den, sudah sejak tadi kira-kira udah 2 jam lebih pak Sarmin pergi" sahut asisten rumah tangga orang tua Alfi.


Panggilan pun ia tutup setelah mengucap kan salam. Ia tak mau membuat keluarga nya cemas, apa lagi hal ini masih abu-abu. la belum menemukan titik terang, apa yang terjadi dengan Azura dan Angkasa. Dengan wajah penuh kepanikan, Alfi langsung meraih kunci mobil dalam laci meja kerja nya dan berlarian sepanjang koridor rumah sakit. Saat ini tujuan nya adalah apartemen. Ia harap, Azura dan Angkasa ternyata telah berada di apartemen tertidur pulas. Di tepis nya segala prasangka yang mulai berdengung di telinga nya, ia tak mau pikiran buruk nya justru jadi kenyataan. Walaupun memang sejak di perjalanan menuju rumah sakit tadi ia sudah merasakan perasaan tak nyaman. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi, tapi apa? Alfi tak mengerti.


"Al lo kenapa? Wajah lo kok kayak panik gitu? Apa terjadi sesuatu?" tanya Mario saat berpapasan dengan Alfi yang hendak masuk ke dalam lift.


Alfi menoleh dengan nafas memburu.

__ADS_1


"Gue nggak tau Yo, perasaan gue nggak nyaman banget. Tadi gue ninggalin Azura sama Angkasa di taman karena ada panggilan darurat. Selesai operasi, gue mau hubungi Azura tapi nggak bisa. Sopir keluarga yang gue utus buat jemput mereka juga nggak bisa di hubungi, padahal menurut ART pak Sarmin udah berangkat lebih dari 2 jam yang lalu. Gue takut Yo, gue khawatir udah terjadi sesuatu sama Azura dan Angkasa" ujar Alfi dengan wajah penuh kepanikan. Mata nya bahkan sampai memerah.


"Sial! Seharus nya gue bawa mereka kesini dulu, bukan nya gue tinggalin gitu aja. Astaga, gimana ini Yo? Gue beneran takut terjadi sesuatu"


"Lo harus tenang dulu Al! Mungkin aja mereka udah pulang dan tidur di apartemen lo. Lo jangan panik dulu" tukas Mario mencoba menenangkan.


Alfi mengangguk.


"Gue ikut, biar gue yang nyetir. Tangan lo tremor, gue nggak mau terjadi apa-apa sama lo gara-gara mengemudi dalam keadaan panik" tukas Mario.


Lalu mereka pun segera pergi menuju apartemen. Tapi setiba nya di apartemen, hasil nya nihil. Ia tak menemukan jejak Azura maupun Angkasa. Alfi menyugar rambut nya frustasi.


"Ra please, kasi tau aku kamu dimana!" gumam Alfi dengan mata berkaca-kaca. Tak mampu ia tutupi, kini ia benar-benar khawatir. Mario pun bisa melihat nya dengan jelas.

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel Alfi berdering. Dengan gerakan cepat Alfi memeriksa si penelepon, berharap itu merupakan dari Azura. Tapi ternyata itu merupakan panggilan dari William, membuat nya mengerutkan kening nya. la pun segera mengangkat panggilan itu.


"Halo Wil, ada apa?"


"Al gue mau nanya, kalau nggak salah pak Sarmin itu merupakan sopir keluarga lo kan?" tanya William dari seberang telepon membuat jantung Alfi makin bertalu-talu.


...🌹🌹🌹🌹...


...Jangan lupa Like dan Vote...


...Terima kasih...


Jangan lupa mampir ke cerita ku yang lain nya ya kak

__ADS_1


__ADS_2