Gadis Unik Ku

Gadis Unik Ku
122


__ADS_3

"Memang nya setelah bercerai, kamu mau ngapain?" tanya Alfi.


"Mau apa ya? Mmm... mau jadi kakak yang lebih baik lagi buat Hasna. Mau memastikan dia lulus dengan baik lalu bekerja di tempat yang bagus. Terus memastikan Hasna mendapatkan jodoh yang baik yang bisa membahagiakan dia, mencintainya apa adanya" ujar Azura dengan tatapan kosong.


Alfi tertegun di tempat.


"Kenapa semua nya tentang Hasna? Bagaimana dengan kamu? Apa kau tidak berniat menikah di kemudian hari?" tanya Alfi penasaran.


Azura lantas menoleh, menatap lekat wajah suami nya itu sambil tersenyum getir.


"Memangnya ada lelaki baik yang mau sama perempuan kayak aku?" ujar Azura seraya menunjuk diri nya sendiri.


"Gadis yang rela menggadaikan harga diri nya demi sejumlah uang. Yang bahkan rela berbuat hal-hal yang merendah kan harga diri nya sebagai perempuan di hadapan seorang pria" ujar nya seraya terkekeh, tapi justru air mata mengalir dari pelupuk matanya. Alfi yang melihat itu merasa sesak, hati nya bagai diiris sembilu. Dari sorot mata nya, Alfi dapat melihat kalau sebenar nya Azura tertekan melakukan segala hal absurd itu. la terpaksa.

__ADS_1


"Orang seperti aku ini nggak ada harga nya di hadapan orang lain, nggak pantes juga buat ketemu pria baik-baik. Jadi aku nggak mau neko-neko, bisa liat Hasna sukses dan bahagia serta menemukan pasangan hidup nya udah bisa buat aku bahagia" imbuh nya lagi.


Air mata Azura turun makin deras. Azura tetap berusaha tersenyum, tapi terlihat pedih. Reflek, tangan Alfi terangkat dan menghapus lelehan air mata itu. Alfi tak pernah tau seberat apa perjuangan Azura selama ini, ia hanya tau gadis itu selama ini hanya tinggal berdua dengan adik nya tak lebih.


"Aku nggak nyangka perempuan kayak kamu bisa merasa rendah diri juga. Aku pikir, gadis kayak kamu cuma tau tinggi hati dan tinggi percaya diri aja"


"Aku juga manusia mas dokter, jadi wajar dong bisa nangis dan sedih" ujar nya mencebik. Lalu pandangan nya menerawang, mengingat kilasan perjuangan nya beberapa tahun ini hingga ia akhir nya harus mengubur mimpi-mimpi nya dan menjalani hidup dengan penuh kegetiran. Berusaha tegar padahal rapuh, berusaha terlihat kuat padahal lemah. Tidak mudah menjadi diri nya, tak ada sanak keluarga tempat untuk mengeluh dan memohon bantuan. Hanya mengandalkan diri sendiri tanpa bisa berbagi. Walaupun ia memiliki Hasna, tapi tak pernah satu kali pun ia berkeluh kesah dengan nya. Cukup lah diri nya yang berjuang mati-matian, cukup lah dirinya yang menderita, jangan adik nya. Ia tak rela.


Beberapa saat sebelum nya.


Selesai makan, Azura pun mengajak Angkasa mencuci tangan nya di wastafel. Baru saja Azura hendak duduk kembali di kursi nya, terdapat panggilan telepon dari Hasna. la pun segera pamit pada Alfi pura-pura ingin ke toilet padahal ia ingin mengangkat panggilan itu.


"Halo dek, kenapa? Kamu masih sakit ya?" cecar Azura saat panggilan telepon itu ia angkat.

__ADS_1


"Kak, hiks... hiks... hiks..." Belum bicara, Hasna sudah lebih dahulu terisak membuat Azura panik.


"Kamu kenapa dek? Sakit kamu makin parah? Kalau iya, kakak segera ke sana" ujar Azura dengan nada panik yang begitu kentara.


"Bu-bukan kak. Hiks bukan itu. Hiks hiks... Hasna udah lebih baik kok. Hiks... hiks... "


...🌹🌹🌹🌹...


...Jangan lupa Like dan Vote...


...Terima kasih...


Jangan lupa mampir ke cerita ku yang lain nya ya kak

__ADS_1


__ADS_2