Gadis Unik Ku

Gadis Unik Ku
35


__ADS_3

"Pak dokter udah gila ya? Sakit tau. Untung hidung aku yang minimalis ini nggak patah. Gimana kalau patah coba, emang pak dokter mau kasiin hidung pak dokter yang mancung itu untuk ganti nya?" omel Azura dengan bibir mengerucut sebal.


Alfi lantas tanpa sadar tersenyum tipis dan menjentik dahi Azura.


"Ini bukan hidung minimalis namanya, tapi pesek"


"Pesek? Mana? Ini mancung tau, mancung yang tertunda" ujarnya seraya terkekeh.


"Ssst... sakit juga nih luka" desis nya menahan sakit di sudut bibir nya.


"Sebenar nya itu kenapa?" tanya nya lagi tapi Azura menggeleng enggan memberitahukan nya.


"Udah dulu ya pak dokter, pacar pak dokter mau lanjut kerja dulu" ujar nya seraya terkekeh lalu segera melarikan diri.


"Pacar? Dalam mimpi" desis Alfi saat melihat Azura melarikan diri.


Malam kian larut, irama musik EDM justru kian menghentak membuat para pengunjung makin menggila larut dalam kegembiraan sesaat. Sedangkan di sisi lain, tampak ada sepasang mata yang sedari tadi menatap tajam setiap pergerakan Azura dalam mengantarkan setiap cangkir dan botol minuman ke meja para pemesan. Saat Azura melintas di sebuah lorong menuju ke area belakang untuk meletakkan botol-botol yang sudah kosong, tiba-tiba ada sepasang tangan yang menarik dan membekap mulut Azura.

__ADS_1


"Hmmmmpppp... hmppp... hhmmmppp... '


Pencahayaan yang remang membuat Azura kesulitan mengenali siapa pelaku yang membekap mulut nya itu. Tangan nya terkunci di belakang membuat nya kesulitan untuk melepaskan diri. Tenaga pria itu sungguh luar biasa, badan nya pun hampir 2 kali lipat diri nya. Azura mencoba memberontak sambil mengayun-ayunkan kaki nya, tapi cengkraman dan bekapan itu justru makin kuat. Lelaki itu menyeret Azura sekuat tenaga menuju pintu keluar dan semua orang tampak sibuk dengan kesenangan nya sendiri sehingga tiada yang menyadari bahkan peduli pada Azura yang sedang berjuang mati-matian untuk melepas kan diri.


Drrrttt...


"Ya, halo!"


"......"


"Ada apa?" tanya Steve pada William saat melihat raut wajah sahabatnya itu sungguh menakutkan.


William sontak berdiri dan memeriksa ulang peluru yang ada di dalam pistol milik nya.


"Ba-jingan itu membuat ulah, dia menyeret salah seorang pelayan wanita dengan paksa. Ternyata sebelumnya ia mengalami penolakan saat di ruangan VIP dan sepertinya ba-jingan itu marah dan ingin membalas perbuatan wanita itu karena telah berhasil kabur" tukas William sibuk menyelip kan pistol nya kembali ke belakang pinggang nya.


Alfi yang mendengar itu lantas membelalak kan mata nya. Ia ingat luka di bibir juga lebam di pipi Azura. la pun bergegas berdiri saat melihat William hendak pergi keluar menyusul rekan-rekannya.

__ADS_1


"Lo mau kemana Al?" tanya Steve saat melihat Alfi berdiri.


"Lo mau pulang?" tanya nya lagi.


Alfi menggeleng-gelengkan kepala nya.


"Gue mau ikut William" tukas nya dengan raut wajah datar tapi cukup mengejutkan Steve sebab setahu nya Alfi paling enggan melibatkan diri pada urusan orang lain.


"Hah, lo serius? Tumben?" cecar Steve yang ikut berdiri. Lalu ia meletakkan beberapa lembar uang merah di atas meja yang ia yakini lebih dari cukup untuk membayar ruangan dan minuman ringan yang mereka pesan.


"Ck... lo kalo mau pulang, pulang aja!" ketusnya seraya melangkah kan kaki nya secepat mungkin.


...Jangan lupa untuk like dan votenya ya readers tercintaku 😘😘...


...Happy Reading...


...❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2