Gadis Unik Ku

Gadis Unik Ku
138


__ADS_3

Sudah 3 hari Alfi berada di Bali, sudah 3 hari juga ia tidak berjumpa dengan sang istri. Perlahan, benih-benih rindu itu mulai menggerogoti hati dan pikiran nya. Tidur tak nyenyak, makan tak nafsu, bahkan saat duduk di antara para dokter selama mengikuti seminar pun hati nya tak tenang terlebih ia meninggalkan Azura dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Alfi menghela nafas lelah lalu melempar handuk yang baru saja ia gunakan untuk mengelap rambut nya asal. la pun segera menghempas kan tubuh lelah nya di atas kasur kingsize di kamar hotel itu. Alfi membalik tubuh nya menjadi tengkurap lalu mengacak rambut nya sendiri. Mengapa kini ia selalu terbayang istri nya itu?


Tak bisa menahan rasa rindu yang kian menggebu, Alfi pun bergegas mengambil ponsel nya yang terkapar di atas nakas kemudian segera menghubungi Azura. Terserah bila ia bersikap dingin seperti 2 hari kemarin, yang penting ia bisa mendengar suara nya lagi dan meredakan sedikit rasa rindu yang kian meletup-letup di dada nya.


1 kali diabaikan.


2 kali diabaikan.


3 kali masih diabaikan.

__ADS_1


Berdiri, Alfi berjalan mondar-mandir di dalam kamar nya dengan gelisah. la takut istri nya melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Ia kembali teringat saat gosip mengenai mereka viral tempo hari. Beruntung saat itu ia berhasil menemukan Azura, bila tidak, mungkin ia takkan pernah merasakan kebahagiaan seperti yang di alami nya akhir-akhir ini. Alfi takut, sangat takut. Ia masih mengira tempo hari Azura hendak melompat dari atas jembatan. Ia takut, Azura melakukan hal serupa.


la pun kembali mencoba menghubungi Azura. Entah sudah beberapa kali panggilan nya masih di abaikan. Hingga akhir nya terdengar suara lirih dan sedikit serak dari seberang sana, membuat hati Alfi tiba-tiba merasa nyeri. la merasakan sakit, tapi tak berdarah. Azura-nya kini tengah bersedih tapi diri nya tak ada di sisi nya saat ia sedang dalam keadaan terpuruk.


Alfi mencengkram rambut nya frustasi, mengapa jadwal seminar nya harus saat ini. Seandainya ia memiliki kekuasaan untuk menunda, tentu ia akan lebih memilih menemani Azura dan menunda seminar ini.


"Ra kamu kenapa?" tanya Alfi lirih dengan perasaan bersalah yang menggerogoti benak nya.


Di saat sendiri seperti ini merupakan saat terbaik bagi Azura untuk menumpahkan segala kesedihan nya. Walaupun ia hanya bisa menumpahkan nya seorang diri, itu lebih baik sebab ia tidak sanggup bila harus mencurahkan juga menumpahkan segala sedih dan sesak di dada nya kepada orang lain.


Azura bersyukur Alfi memiliki jadwal seminar di luar kota jadi ia bisa menenangkan diri dan menumpahkan kesedihan nya tanpa takut ada yang melihat atau pun ketahuan. Biarlah ia menelan semua pil pahit kehidupan ini seorang diri. Ia bukan lah orang yang dapat secara terang-terangan terbuka pada orang lain meskipun itu orang terdekat nya sendiri. Karena itu, setelah beberapa saat kepergian Alfi, Azura lantas masuk ke dalam kamar dan menumpahkan segala sesak di dada nya seorang diri.

__ADS_1


Azura meringkuk di atas sofa sambil memeluk lutut nya sendiri. Ia meraung dalam kesendirian, menangisi segala kepedihan dan kemalangan yang menimpa nya beberapa tahun ini, tepat nya setelah kepergian kedua orang tua nya.


Mengapa diri nya harus mengalami semua permasalahan ini?


Mengapa ia harus mengalami segala kesakitan ini ?


...🌹🌹🌹🌹...


...Jangan lupa Like dan Vote...


...Terima kasih...

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke cerita ku yang lain nya ya kak


__ADS_2