
"Lo aja yang pulang sana! Biar kami yang jaga Azura" tukas Leon acuh tak acuh.
"Pergi nggak! Atau gue... " Gertak Alfi hampir berteriak.
"Astaga... iya iya tuan pemarah!" potong Mario kesal lantas ia berdiri dan mengajak Leon dan Eza keluar dari ruangan itu.
Namun sebelum ia benar-benar keluar, Mario membalik badan nya menatap Azura.
"Ra nyambung yang tadi nih, calon suami cadangan kata kamu itu. Emm... kalau kamu nggak tahan sama si tuan pemarah ini, aku bersedia kok jadi pengantin penggantinya. Dengan senang hati aku bersedia jadi suami kamu" pungkas Mario dengan ekor mata menatap Alfi yang wajah nya sudah memerah menahan marah.
"Heh, lo pikir lo aja! Gue juga Ra, apa yang gue bilang tempo hari masih berlaku. Jadi jangan ragu hubungin gue, gue nggak masalah kok jadi calon suami cadangan lo. Syukur-syukur bisa jadi suami lo beneran" tukas Eza dengan memasang senyum terbaik nya.
"Bye enengnya aak Eza, sampai jumpa besok" imbuh Eza berpamitan dengan Azura.
"Bye Ra. Besok gue datang lagi ya! Kalau
ada yang kamu butuh kan, telepon aja. Gue
siap 24 jam seperti biasa khusus buat lo"
tukas Leon sambil melambaikan tangan.
"Sampai jumpa juga. Hati-hati di jalan!
Oke" pekik Azura riang.
Brakkk ...
__ADS_1
Alfi membanting pintu hingga
tertutup lalu mengunci nya saat
ketiga orang itu telah menghilang dari
pandangan nya. Dengan tatapan tajam,
Alfi mendekat ke arah Azura yang
sedang bersandar di kepala ranjang. Azura
mengerut kan kening nya, bingung melihat
aura gelap di wajah dokter galak nya itu.
Azura bersikap acuh tak acuh lalu ia
kotak cheese cake yang dibawakan
Leon, tapi sebuah tangan kekar telah
lebih dahulu menangkap tangan nya dan
menekan kedua tangan nya itu ke sisi kiri
dan kanan Azura.
__ADS_1
"Ada apa lagi sih?" ketus Azura dongkol melihat sifat pemarah Alfi yang tak tahu tempat dan waktu.
Sebenar nya jantung Azura rasa nya hendak berlompatan sebab jarak wajah Alfi sangat dekat dengan wajah nya. Deru nafas Alfi pun sampai terdengar begitu jelas, apalagi aroma nafas nya yang begitu menggoda iman. Azura sampai menelan ludah nya dan memalingkan wajah agar mereka tidak saling bertatapan. Tapi dengan lancang nya, Alfi menarik dagu Azura hingga mereka dapat saling melihat ke dalam netra masing-masing.
"Kau... seharusnya kamu sadar siapa kau itu" desis Alfi membuat alis Azura bertaut mencoba memahami perkataan Alfi.
"Aku sadar siapa aku. Aku hanyalah gadis biasa yang tiba-tiba saja beruntung bisa jadi calon istri seorang dokter tampan, mapan, dan kaya raya. Tapi entah, sampai berapa lama keberuntungan itu akan berpihak kepada ku" jawab Azura.
"Kalau kau sadar, seharusnya kau bisa menjaga jarak dengan mereka. Ingat, kau itu calon istri ku" tekan Alfi dengan suara rendah.
"Kenapa? Aku nyaman dengan mereka" sahut Azura acuh tak acuh.
"Kau... " geram Alfi.
"Kau itu calon istri ku" desis Alfi
Mendengar kata calon istri Azura lantas tersenyum dengan semanis mungkin.
"Bila aku memang calon istri mu, perlakukan aku sebagaimana mesti nya. Bukan nya di ketusin dan di marahin mulu" ujar Azura sambil mencebik kan bibir nya.
"Oh... Jadi kau ingin diperlakukan sebagaimana mesti nya" imbuh Alfi dan Azura mengangguk polos.
Lalu tanpa aba-aba, Alfi menyapu bibir Azura dengan begitu lembut membuat Azura membelalak kan mata nya. Ciuman itu begitu lembut hingga Azura tanpa sadar mengalungkan tangan nya di leher Alfi. Menyadari hal itu, Alfi pun tersenyum di sela-sela ciuman nya.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
...Jangan lupa Like dan Vote...
__ADS_1
...Terima kasih...
...Jangan lupa mampir ke cerita ku yang lain nya ya kak....