
Rifky, Aisyah dan Akbar sampai di bandara, barang barang Akbar juga di bantu bawa oleh Rifky sambil menggendong Airy.
"Sampai sini kak, makasih ya kak udah nganterin Abang." Kata Akbar.
"Kok Abang nangis sih?" Tanya Aisyah.
Akbar tiba tiba memeluk Aisyah, hatinya sangat berat untuk pergi jauh dari Kakak kesayangannya itu. Padahal mereka pernah terpisah selama enam tahun, saat Aisyah nyantri di Jawa Timur.
"Akbar jangan gitu dong, kamu itu harus semangat, buat Kakak dan orang tuamu di sini bangga. Besok kamu pulang jadi orang sukses" Kata Rifkky.
Akbar melepas pelukannya. Dan mencium tangan Aisyah dan Rfiky.
"Abang pamit Kak, doa kan Abang betah disana! Lalu Kakak sama Kak Rifky jadi ke Korea?" Tanya Akbar.
"Emm itu masih Kakak fikirkan nanti" Jawab Aisyah.
"Kabar kabar aja ya kak, dadah keponakan Om yang ganteng dan cantik. Jaga Mama dan Ayah kalian baik baik ya, jangan sampai Ayahmu hilang lagi Ok! Dadah Raihan, by by Airy. Assallamualaikum Kak" Kata Akbar mundur alon alon dengan tangan melambai.
"Waalaikum sallam"
Setelah Akbar pergi, Rifky pun mengajak Aisyah pulang ke rumah Ruchan, karena saat ini mereka pasti merasa kesepian.
"Yang, kenapa sih, di antar adik adik kamu yang lain. Akbar tuh paling deket sama kamu. Padahal kalau di telusuri jauh, Akbar itu kan anak kandung Om Sandy kan?" Tanya Rifky.
"Ya sebnarnya sih gak etis tanya kek gini. Penasaran aja sih" Sambung Rifky.
"Ya karena emang sebelum ada Kabir Syakir udah ada Akbar duluan" Kata Aisyah.
"Iya itu Mas tau lah, ceritain dong dari awal. Keny aja udah tau masa Mas belum" Kata Rifky fokus menyetir.
__ADS_1
"Lah kan Mas bisa tanya Om Keny" Kata Aisyah.
"Widih, udah Om aja manggilnya" Kata Rifky mencolek dagu Aisyah.
"Apa sih, tangannya nakal deh. Kan bahasain Airy sama Raihan, biar nanti terbiasa manggil Kak Keny itu Om" Kata Aisyah.
"Oh iya, istriku ini memang cerdas, kecup dikit boleh dong" Kata Rifky mengusap usap pipinya.
Aisyah kini tak lagi malu malu, ia mencium pipi Rifky sangat cepat. Dan menjahili Rifky ketika menyetir.
"Gak usah mancing hawa nafsu deh Yang, Mas lagi nyetir loh, ntar Mas makan di mobil mau?" Kata Rifky.
"Ada anak anak juga" Kata Aisyah tertawa.
"Mereka kan tidur, oh ini kode ya. Kamu pengen ya Yang. Hayooo ngaku!" Goda Rifky
"Halah Alasan!" Kata Rifky membelokkan mobilnya ke jalan desa yang sepi dan rimbun penuh dengan pohon bambu.
"Loh kok belok kesini sih, lewat sini makin jauh dong ke rumahnya. Loh kok berhenti sih Mas?" Kata Aisyah menengok ke kanan dan kiri.
Rifky turun dari mobil dan mengambil Raihan dari pangkuan Aisyah, dan di tidurkan di jok belakang yang sudah ada tempat tidur khusus Airy dan Raihan.
Rifky kembali masuk mobil.
"Sst stt" Goda Rifky.
"Apa sih Mas?"Tanya Aisyah tersenyum.
Rifky tiba tiba mencium bibir Aisyah dengan lembut, tangannya mulai mengelus elus pipi Aisyah, ciuman nan lembut itu berubah jadi semakin panas, entah sejak kapan Aisyah kini bisa menyeimbangi permainan Rifky, malah semakin lihai.
__ADS_1
"Ah" Aisyah menggigit bibir Rifky hingga berdarah.
"Kok gigit sih? Sakit tau Yang" Kata Rifky manaja.
"Tangannya lari kemana itu tadi, nakal deh. Meremas apa tadi? Dari pada di sini mending di rumah lah, malu kali banyak penunggu di pohon bambu" Kesal Aisyah.
"Ih marah? Mau kan?Ajak pulang dan melakukan di rumah karena mau kan?"Hayoo ngaku?"Goda Ruchan.
"Amm enggak gitu, Aisyah.. emmm" Kata Aisyah malu dengan pipi memerah.
"Ih malu? Ck, sama suami sendiri juga, ayo ya. Mau lagi. Semalam kurang Yang" Goda Rifky.
"Hah? Udah beberapa kali masih kurang?" Tanya Aisyah heran.
"Habis nya kamu manis banget sih, bikin nagih"Kata Rifky mengusap usapkan kepalannya di lengan Aisyah.
"Ini apa coba, iya deh iya, tapi pulang dulu ya. Botol Si Kembar udah kosong, repot ya. Asi Aisyah gak keluar, kasihan mereka harus minum sufor" Keluah Aisyah.
"Loh kok murung, jangan sedih dong" Kata Rifky.
"Aisyah merasa gak sempurna aja jadi Ibu, masa iya Asi Aisyah gak keluar, padahal Ibu ibu yang lain semua ngasih Asi ke anaknya" Kata Aisyah murung.
"Sayang, kamu hanya belum beruntung. Tapi kamu ini istimewa loh, kamu melahirkan bayi kembar secara normal, 9 bulan hamil tanpa di dampingi suami, setia sampai suaminya pulang. Mampu merawat sendiri bayi kembar selama kurang lebih tiga bulan ini, tanpa bantuan Mama sama Bundha. Nikmat mana yang kau ragukan lagi sayang."Kata Rifky mencolek Aisyah.
"Kamu kan juga gak minum Asi kan? Karena Asi Mama dulu gak keluar juga. Santai sayang" Hibur Rifky.
"Berarti kita pulang meneruskan ronde tadi pagi kan? Yes!!" Kata Rifky girang.
Aisyah hanya tersenyum melihat cara Rifky menghibur dirinya, Asi Aisyah memang tidaj keluar sama sekali, entah kenapa Aisyah juga tidak tau. Padahal selama kehamilan Aisyah selalu menjaga pola makannya sesuai dengan panduan buku Ibu dan Anak.
__ADS_1