
5 jam perjalanan mereka.
Tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu, Rifky langsung menuju ke rumah sakit yang sudah Tantenya sms-in.
Hati Rifky sudah begitu tak tenang, ia terus saja teringat apa kata dokter terakhir. "Berakibat Fatal". Aisyah berusaha menenangkan Rifky dengan menyuruhnya beristighfar dan berdoa, Aisyah pun melantunkan sholawat untuknya.
"Makasih ya Yang, dalam keadaan seperti ini, suara sholawatmu membuatku tenang. Walau Mas masih kefikiran Bundha" Kata Rifky membelai kepala Aisyah.
"Istighfar ya Mas, kita harus yakin kalau Bundha baik baik saja" Kata Aisyah.
Matahari sudah berada tepat di atas kepala.
Akhirnya mereka sampai di rumah sakit kota, Rifky berlari menggandeng tangan Aisyah ke arah dimana ibunya di rawat.
"Om, Tante. Gimana Bundha?" Tanya Rifky.
"Assallamualaikum" Salam Aisyah.
__ADS_1
"Waalaikum sallam, Mbak Rani, masih belum sadar Ky!"Kata Tante Mery.
"Bagaimana bisa Bundha jatuh Tante. Setahu Iky, semua kamar mandi di rumah itu bersih gak ada yang licin"Kata Rifky.
"Kita lihat dulu aja Bundha Mas!"Ajak Aisyah.
Rifky dan Aisyah pun masuk ke ruangan Bundha Rani. Banyak peralatan medis yang melekat pada tubuh Ibunya Rifky.
"Bun, bangun Bun. Ini Iky, Iky datang kesini sama menantu idaman Bundha. Buka mata Bundha, lihat Iky ada di sini Bun" Kata Rifky memegangi dan mencium tangan ibunya seraya menangis.
"Mas, yang sabar ya" Kata Aisyah menguatkan Rifky.
"Bundha, bangun Bun. Bundha mau cucu kan? Iya Bun! Iky akan kasih cucu sebanyak banyaknya untuk Bundha, agar Bundha gak kesepian. Iya kan Yang?" Kata Rifky menarik tangan Aisyah.
Aisyah sedih melihat air mata Rifky yang terus saja mengalir, ingin sekali memeluknya, namum situasi ini tidak tepat baginya.
Tiba tiba hidung dan telinga Bundha Rani mengeluarkan banyak darah, Rifky sangat panik dan segera berteriak memanggilakan dokter.
__ADS_1
"Bund, Ya Allah Bun. Yang Bundha kenapa Yang. Dokter! Dokter! " Teriak Rifky panik.
Aisyah pun memencet bel yang ada di sebelah kiri pasien, berusaha menenagkan Rifky. Dan tak lama Dokter dengan para suster pun datang.
Rifky dan Aisyah pun menangis di dalam, semua alat tengah di kerahkan oleh Dokter. Namun, Allah lebih sayang Bundha Rani. Bundha Rani pergi meninggalkan kita semuaðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ (Sebenarnya ini cerita Ibu Author).
"Innalillahi wainnaillahi roji'un. Jam 13.01 ya. Maaf Pak, kami turut berduka atas meninggalnya Ibu Rani Rahmawati. Andai saja Ibu Rani tidak telat di bawa ke sini. Tapi semua itu kehendak yang kuasa. Sabar ya Pak" Kata Dokter.
Bak di sambar petir tubuh Rifky, ia tak bisa bersama Ibunya di saat Ibunya masih sehat. Air matanya tak lagi dapat menetes, tangannya terus saja menggenggam tangan Aisyah. "Bundha Maaf" Ucap Rifky lirih.
"Innalillahi wainnailahi roji'un. Kamu yang sabar ya Mas!" Kata Aisyah.
Aisyah memeluk Rifky sangat erat, ia bisa merasakan apa yang suaminya rasakan. Akhirnya Rifky bisa meneteskan air matanya di pundak Aisyah. Ia menangis sejadi jadinya walaupun tak bersuara.
Yang lebih anehnya lagi, Dokter bilang "Andai tidak telat membawanya ke rumah sakit?" Dan sikap biasa dari wajah Tantenya membuat Rifky semakin curiga.
Kecurigaan itu masih Rifky tahan , karena ia masih dalam keadaan terluka. Setelah administrasi dan ambulance telah siap. Jenazah Bundha Rani pun dalam perjalanan pulang, tak luput Aisyah memberikan kabar itu kepada keluarga di Jogja. Dan mereka akan berangkat siang ini juga.
__ADS_1
Kali ini, Aisyah menyetir sendiri di belakang ambulance, membiarkan Rifky bersama ibunya terlebih dahulu, karena dalam situasi ini, pasti Rifky sangat terpukul.