Gambaran Hati

Gambaran Hati
Terbayar Dengan Ciuman


__ADS_3

"Cukup Rifky, jangan menangis lagi. Baju Abi baru ini" Hibur Ruchan, walau dalam hatinya ia juga sakit.


"Semua ini salah Rifky, andai saja Rifky menunggu Aisyah, Aisyah Tak akan terluka seperti ini, dan ini semua karena Aisyah menolong Rifky, andai saja Aisyah tak mendorongku, maka Aisyah akan tetap baik-baik saja Bi" Kata Rifky yang masih mengis di bahu Ruchan.


"Andai? Iya Ky. Andai kamu yang tertusuk, hati Aisyah yang akan jauh lebih sakit, Alhamdulillah Aisyah bisa selamat, kita harus bersyukur, janganlah kita menyesali apa yang sudah terjadi, karena itu takdir. Ikhlas lah Rifky" Kata Leah menghapus air mata Rifky menggunakan hijabnya.


"Tapi, karena pisau itu, Aisyah tak lagi bisa memberikan kalian cucu lagi, bisa hamil namun beresiko sangat tinggi." Kata Rifky dengan menyatukan tangannya.


"Astaghfirullah hal'adzim, Allah masih sayang sama Aisyah, dia bisa selamat dari masa kritisnya, itu sudah bersyukur Rifky. Soal anak, kita harus difikirkan lain waktu lagi ya. Yang penting sekarang, bagaimana caranya agar Aisyah kembali sehat dan ceria seperti semula" Kata Ruchan.


Seharian juga Aisyah tak kunjung sadar, Ruchan ditemani Yoona sedang mengurus Senior Dae, sedangkan Bona menemani Leah dan Ceasy dirumah. Rifky selalu setia menunggu Aisyah di sampingnya, tangannya terus ia genggam sangat erat. Seakan takut untuk di tinggal pergi.


"Tuan, Ica pasti akan baik-baik saja, ayolah makan demi sedikit. Karena aku tau sedari tadi kau belum makan" Kata Min Ah.


"Terima kasih, nanti aku makan ya" Kata Rifky sedih.


"Lihatlah, ohh betapa bahagianya Dokter Ica, mendapat suami seperti cowok itu. Gak pernah beranjak dari sampingnya loh, dia hanya pergi ketika sembahyang saja" Kata perawat di sana. Ralat, maaf ya aku tulis sembahyang, karena di Korean sholat juga di artikan sembahyang. Berdoa kepada Tuhan gitu.

__ADS_1


Karena Ceasy harus mulai sekolah, dengan amat terpaksa, Leah dan Ruchan harus pulang membawa Ceasy ke Jogja. Rifky pun tidak mempermasalahkan itu, karena mertuannya juga pasti memiliki kesibukan sendiri.


Malamnya, Aisyah tersadar. Ia mendapati suaminya yang sedar tidur di sampingnya. Betapa beruntungnya Aisyah memiliki suami seperti Rifky.


"Ai......." Kata Yoona yang baru saja kembali dari resto.


"Sstt," Kata Aisyah melirik ke Rifky.


"Sejak kapan kamu bangun?" Bisik Yoona.


"Aku bawain makanan, suamimu belum makan sejak pagi. Aku pulang dulu ya. Daahhh" Kata Yoona bisik-bisik.


Tak lama setelah Yoona keluar, masuklah biang brisik Bona, dengan keras ia berteriak karena saking senangnya Aisyah sudah sadar.


"Ica !!!!!" Teriak Bona.


Rifky pun kaget, dan terbangun. Nampak wajah Aisyah yang menyeramkan, Bona langsung kabur tanpa mengatakan sepatah kata pun begitu saja.

__ADS_1


"Sayang kamu sudah bangun?" Tanya Rifky membelai pipi Aisyah.


"Jilbab !!" Kata Aisyah.


"Ini, Mas bawain kok. Mas pakaikan ya" Kata Rifky memakaikan jilbab Aisyah. Mungkin Rifky hendak mengganti jilbabnya, namun karena sangat mengantuk, jadinya Rifky hanya menggenggam jilbab Aisyah.


"Loh kok nangis? Ada yang sakit ya? Perutnya masoh sakit?" Tanya Rifky khawatir.


"Senior Dae, dia..." Kata Aisyah yang mulai menangis dan tak bisa mengatakan apa yang akan dikatakan.


"Sstt, Senior itu udah di adili kok. Tenang ya, ada Mas disini. Maaf ya kalau Mas kemaren gak nungguin kamu sayang. Harusnya kemaren Mas nunggu kamu, mungkin hal seperti ini gak akan terjadi" Kata Rifky memeluk Aisyah.


"Senior Dae mencium bibirku Mas, dan aku mengigitnya dengan keras" Kata Aisyah menangis terus menerus. Ia takut karena itu hal yang berdosa.


Tanpa memperdulikan itu dimana, Rifky mencium bibir Aisyah dengan sangat lembut, air mata Aisyah jatuh sangat deras bak air terjun sekar langit di daerah Magleng, Jawa Tengah.


Rifky tak menyalahkan Aisyah karena ciuman itu, karena Rifky tau, Aisyah hanyalah korban dari Senior Dae.

__ADS_1


__ADS_2