
"Berhenti, kita ke kucingan dulu. " Ajak Farhan.
Tapi Syakir terus saja menyetir mobilnya tanpa menghiraukan Farhan.
"Woy, dasar bocah kampret. Berhenti lah" Kata Farhan menepuk bahu Syakir.
"Syakir ngantuk Pak Lhek, kalau Pak Lhek mau ke angkringan ataunkucungan itu, tak tinggal ya. Syakir sama Abang ngantuk besok sekolah" Kata Syakir.
"Lha trus kalau aku di tinggal, aku balekke pie? " Tanya Farhan.
"Mlaku lah (Jalan lah) " Jawab Akbar.
"Kurang ajar, yo wis pulang aja. Udah jauh juga kucingannya kok" Kata Farhan.
Sampai di rumah, Aisyah membuatkan minum untuk Mala. Leah mulai deh mengintrogasi Mala, yang sedari tadi menahan pertanyaan yang cukup banyak.
Syakir dan Akbar pun masuk ke kamar mereka, dan melanjutkan tidurnya, karena Syakir jadwal giliran adzan subuh nanti, dan Akbar masih ada hal yang harus di kerjakan pagi buta nanti.
Farhan tertidur di ruang keluarga, yang katanya mau nangkring di angkringan melihat janda bohay, malah tertidur pulas.
"Om, Tante, sebelumnya Mala minta maaf ya, udah bikin kacau suasana kayak gini, malam malam pula" Kata Mala.
"Suasana kacau ya karena ini nih. Pergi gak bilang bilang" Kata Leah mencubit lengan Aisyah.
__ADS_1
"Oh ya, kamu ini kenapa dan mau kemana bawa koper segala? " Tanya Leah.
"Mala mau pergi dari rumah Tante, Mala gak mau kehilangan Anak Mala" Kata Mala menangis.
"Gak mau kehilangan anak maksud nya? " Tanya Ruchan.
Leah, Ruchan dan Aisyah bingung saat Mala menangis, mereka tidak tau apa yang seharusnya mereka lakukan. Mala pun mulai menceritakan kejadian yang sebnarnya.
Dari awal di perkosa oleh anak lurah di mana ia nyantri, hingga hamil. Awalnya Mala takut jujut dengan orang tuannya, sebab itu Mala menyembunyikan kehamilannya. Sampai usia kandungan mau menginjak 4 bulan, perut Mala sudah terlihat buncit, bahkan pola makan pun berbeda, Mala jadi sering mual dan muntah, tak selera makan itu yang membuat Ibu Mala curiga.
Ibu Mala pun mencari cari bukti tentang ciri ciri orang hamil, ternyata saat Mala keluar rumah, Ibunya menemukan buku kesehatan ibu dan anak di almari Mala, dab itu atas nama Mala, dan menunjukan usia kandungan 4 bulan.
Ibunya menangis dan segera melapor ke suami dan Kakak Mala yang sudah berumah tangga lama dan belum juga di beri keturutan. Kakak Mala cewek ya gaes...
Namun Mala malah hamil sebelum menikah, Kakaknya memberi saran agar Mala tetap melahirkan anak itu dan nantinya akan di adopsi oleh kakak nya. Namun Mala menolak.
Ayah Mala semakin marah dengan Mala, ia menyuruh Mala untuk menggugurkan kandungannya, jika Mala yak bersedia memberikan anaknya kepada Kakaknya.
"Janin ini sudah bernyawa Pak, Mala denger detak jantungnya, Mala gak mau gugurin anak ini. Ataupun memberikan kepada Mbak Dinda, karena mbak Dinda juga gak suka anak kecil" Kata Mala menangis.
Ibu Mala hanya bisa pasrah dan menangis, Ayah Mala mengurungnya di kamar, dan memberinya waktu 24 jam untuk berfikir. Antara harus menyerahkan hak asuhnya kepada Kakaknya, atau mengugurkan kandungannya.
Mala menangis di kamar, ia pun tak ingin berada di posisi itu, ia marah, sedih dengan dirinya sendiri. Bagaimanapun juga, anak itu tidak berdosa, kenapa harus di gugurkan? Dan anak itu adalah anaknya, kenapa orang lain yang merawat?
__ADS_1
Tak sampai di situ saja ketakutan Mala. Suatu malam, Kakak iparnya (Suami Dinda) Mengetuk pintu kamar Mala, dengan alasan ingin memberikan solusi lain.
Awalnya Mala tak curiga, ia pun membukakan pintu untuk Kakak iparnya itu. Ketika Kakak iparnya masuk, ia heran kenapa pintunya di kunci dari dalam.
"Loh kok di kunci sih Mas? " Tanya Mala.
"Biar gak ada yang ganggu aja La, kebetulan Bapak sama Ibu sedang keluar dengan Dinda, jadi bagaimana jika kita diskusikan masalah kehamilan mu ini secara pribadi kita berdua" Kata Kakak Iparnya.
"Maksud Mas apa? " Kata Mala mulai panik.
"Maksud Mas, kita bikin anak kamu ini gugur dengan sendirinya, contohnya kita memadu kasih malam ini. Cocojk juga kan suasananya, hujan deras, dingin. Mas bisa menghangatkan kamu kok " Kata Kakak iparnya.
"Mas mau apa? Mas ini suami Mbak Dinda, aku ini adik Mas juga kan? Jangan seperti ini Mas" Kata Mala memberontak ketika Kakak Iparnya sudah mulau menyentuh tubuhnya.
"Kamu ini jangan munafik La, kamu pasti pengen juga kan? Wanita jika sekali pernah melakukan pasti ingin lagi, dan Mas lagi berbaik hati ini. Wah besar juga ya. Punya Dinda kecil" Kata Kakaknya yang menjijikkan itu.
Saat itu tubuh Mala sedang demam, jadi dia lemas tak bisa memberontak lebih kuat saat Kakak Iparnya menyerangnya. Ciuman demi ciuman di luncurkan di setiap lekuk tubuh dan wajah Mala, Mala mulai menangis ketika tangan Kakak nya masuk ke dalam baju dan rok Mala.
Mala meronta ronta ketika dadanya di remas kencang oleh Kakaknya yang bejat itu, dan malam itu. Mala tak bisa menceritakan dengan detail apa yang telah terjadi padanya. Yang pasti, ia telah ternodai oleh dua laki laki yang bejat untuk kedua kalinya.
Pagi harinya, Mala membereskan pakaiannya dan kabur lewat pintu brlakang. Ia luntang lantung di kota besar itu, bingung mau kemana. Pertama ia sudah pergi ke rumah Sera, namun ternyata Sera meneruskan kuliahnya di Jogja.
Sekitar jam 8 malam, Mala berangkat ke Jogja untuk bertemu dengan Aisyah dan berniat meminta tolong padanya. Dan Aisyah pun tanpa ragu, dengan sekali telfon langsung menemui dan menjemputnya di terminal. Berbeda dengan keluarganya yang acuh tak acuh dan malah menginginkan Mala mengugurkan kandungannya.
__ADS_1