
Sore ini semua membantu Aisyah dan Rifky pindah dan beberes rumah pemberian Ruchan. Bukan pemberian sih, lebih tepatnya untuk sementara waktu. Sampai kuliah semester pertama Aisyah di Jogja kelar, mereka akan tinggal di tumah itu. Sebelum berangkat ke Korea.
Sore itu, rumah kecil nan sederhana itu sangat ramai penuh dengan canda tawa Akbar, Kabir dan Syakir.
"Ahhh Alhamdulillah, akhirnya beres semua. Bir!!! Keluar sana beli makanan, laper nih" Kata Akbar.
" Ah mager. Abang aja sana sama Syakir" Kata Kabir.
"Ck, sini uangnya! "Kata Syakir.
"Eh, tante Amara udah bagi hasil loh bulan ini. Uangnya udah di transfer tadi siang, sana pakai uangmu dulu lah" Kata Akbar.
"Curang!!" Kata Syakir.
"Udah udah ah. Nih beli pakai uang Kakak. Jangan boros, beli aja apa yang kalian ingin makan. Sekalian ya beliin ini" Kata Aisyah memberi daftar belanja.
"Asyik jajan" Kata Syakir girang.
"Bocah!" Kata Rifky tersenyum.
Syakir keluarga sudah cukul lama, hingga Kabir sudah tidak bisa menahan laparnya lagi. Ia pun membuat mie instan sebagai pengganjal perut. Kesalnya Kabir, setelah mie instannya selesai. Syakir malah baru saja pulang membawakan banyak makanan dan ada beberapa snack juga.
"Fiks aku emang anak tiri di keluarga ini. Semuanya gak sayang sama aku!" Kesal Kabir sambil membuka plastik yang ternyata nasi padang.
__ADS_1
"Anak tiri yang teraniaya mana ada segemuk dan sesegar kamu Kabir" Kata Aisyah.
"Ada lah Kak. Nih Kabir contohnya. Malang nian ya nasibku" Kata Kabir menyantap ampela ati kesukaannya. (semua makanan dia mah suka suka aja).
"Haih, teraniaya pun makam seenak itu. Kabir Kabir!"Kata Akbar.
"Abang mah enak, Abang adik kesayangannya Kak Ais. Dan sekarang Abi pun sudah memiliki anak kesayangan juga tuh!" Kata Kabir melirik Rifky.
"Iya deh, kalau gitu yang sayang sama tukang ambekan dan tukang makan ini Kak Iky aja deh. Gimana?" Tanya Rifky.
"Idih, emang Kabir cowok apaan. Maaf ya, Kabir tak semutrah itu!!" Kata Kabir.
Semua pun tertawa melihat tingkah lucu Kabir yang selalu menghibur.
"Kak Ais, Kak Rifky. Kita semua pamit dulu ya. Tuh si Kabir udah teler duluan di mobil. Kebanyakan makan dia" Pamit Akbar.
"Assallamualaikum Kak" Salam Akbar dan Syakir seraya mencium tangan Aisyah dan Rifky.
"Waalaikum sallam. Hati hati ya?" Kata Aisyah.
Setelah mereka pulang, Rifky mengajak Aisyah untuk masuk dan istirahat. Betapa girangnya Rifky, akhirnya mereka bisa berduaan sepuasnya.
Aisyah tinggal mencuci gelas saja malam itu, tiba tiba Rifky pun memeluknya dari belakang. Jantung Aisyah berdetak sangat kencang, hingga Rifky pun bisa mendengarnya.
__ADS_1
"Sayang" Bisik Rifky di telinga Aisyah.
Ternyata, walau memakai hijab, telinga Aisyah sangatlah sensitif. Tubuhnya tiba tiba menggeliat.
"Jangan menggeliat dong, entar dedek kecilku bangun gimana?" Bisik Rifky.
"Mas, jangan gini dong. Ais jadi gak bisa gerak" Pinta Aisyah.
"S3 dulu baru lepas pelukan" Kata Rifky.
"S3 apa Mas?" Tanya Aisyah.
"Masa iya kamu gak tau sih Yang?" Kesal Rifky memeluk Aisyah makin erat.
"Aw, tangan Mas nyentuh bagian itu" Kata Aisyah.
"Wajar dong, suami istri. Habisnya kamu gak tau S3 sih!!" Goda Rifky.
"Emang Ais gak tau lah Mas! Emang apaan sih" Tanya Aisyah.
"Sun Seng Sue Yaaang!" Kata Rifky.
"Oh itu,... Gak mau ah, maunya Mas aja yang Sun Ais. Katanya Malam ini mau itu... Harusnya Mas Iky yang harus ajarin Ais" Kata Aisyah yang membuat Rifky tergoda.
__ADS_1
Tiba tiba Rfiky memutar badan Aisyah hingga mengahadap ke dirinya, lalu di pepetkan Aisyah ke pinggir kulkas, ya di tembok itu agak luas juga. Tangannya memegang pipi Aisyah dengan sangat lembut. Hingga perlahan Rifky mulai melumat bibir mungil Aisyah dengan sangat lembut.