
Farhan keluar dari ruangan dengan wajah lesu dan tak bersemangat, membuat Rifky dan Aisyah semakin khawatir dengan keadaan Mala sekarang.
"Pak Lhek gimana? " Tanya Aisyah.
"Harus oprasi Kak, bayinya belum saatnya lahir dan panggul Mala sempit untuk melahirkan normal" Jawab Farhan.
"Terus? " Tanya Rifky.
"Ya apa boleh buat, harus menjalani oprasi, kalau tidak akan membahayakan bayi nya. Kasihan kan Mala, udah tak di inginkan orang tuanya, masa depannya juga kehidupan pilu yang telah dia alami. Masa iya sekarang akan kehilangan anaknya" Kata Farhan dengan tangan gemetar.
Lama sekali proses operasinya, Farhan mondar mandir tak tenang, sudah seperti suami Mala yang gelisah menunggu lahirnya sang buah hati.
"Gini amat ya mau lahiran? " Kata Aisyah mengusap perutnya.
"Ya enggak semua lah Wel. Ada yang gampang dan mudah saat melahirkan, ada juga yang harus melalui operasi secar, itupun pasti ada alasannya kenapa harus secar. " Jelas Rifky.
"Aisyah takut? " Tanya Rifky.
"Emm itu udah takdir dan kodrat perempuan sih Kak. Tapi kok ngeri ya, jadi takut. Tapi anak anak itu lucu, Aisyah suka" Kata Aisyah.
"Kita berdoa aja yang terbaik untuk Mala dan bayinya ya. Aku samperin Ustad Farhan dulu, bingung juga melihatnya mondar mandir seperti itu. Assallamualaikum " Kata Rifky.
"Waalikumsallam warrahmatullahi wabarokatuh "
__ADS_1
Saat Farhan menghampiri Farhan, Dokter bedah keluar dari ruangan penuh dengan senyuman.
"Dok, bagaimana? " Tanya Farhan.
"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar. Saya kira, bayinya akan lahir prematur, ternyata tidak. Ibu dan bayinya sehat wal'afiat. Dan bayinya sempurna tanpa ada kekurangan dalam fisik maupun dalam tubuh" Jawab Dokter menepuk pundak Farhan.
"Dokter, bayinya laki laki atau perempuan? " Tanya Aisyah.
"Laki laki Pak Buk, Bapak silahkan masuk untuk mengadzani bayinya" Kata Dokter mempersilahkan Farhan masuk.
"Tapi,.. Saya.... " Kata Farhan gugup ia belum resmi menjadi suami Mala, bukan soal mengadzani, namun pasti sekarang Mala masih dalam keadaan terlihat auratnya.
"Pak Lhek, ayok masuk" Kata Aisyah.
"Darurat Ustad. Masuk, yang penting adzani dulu bayinya" Kata Rifky.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar...
Ashadualla illahaillallah..
Waashaduanna muhammadarrosullullah...
Haiya'alasholah..
__ADS_1
Haiya'alafallah..
Allahu Akbar, Allahu Akbar..
Laaillahaillallah..."
Bayi itu nampak tersenyum, merasa nyaman berada di tangan Farhan, seketika Farhan menangis haru, bayi itu bukan miliknya. Namun rasa yang berbeda di hati Farhan yang membuat ia jatuh cinta pada bayi itu, entah apa itu. Farhan sendiri pun tidak megetahuinya.
"Ustad, " Panggil Mala dengan suara lemah.
Farhan tak bisa menoleh ke arah Mala, karena saat itu, hijab Mala lepas dan Farhan tak bisa melihatnya.
"Mala, kamu bisa gak benerin hijab kamu dulu, aku takut! " Kata Farhan gugup.
"Oh, Maaf Ustad. Takut kenapa?" Tanya Mala sambil merapikan hijabnya.
"Takut dosa, itu jadi dosa jahiriyahnya kamu juga, tercatat! di.... di. .. dimana ya?? Pokoknya itu lah... " Kata Farhan.
"Udah kok Ustad, boleh panggilin Aisyah gak? Tolong?! " Kata Mala.
"Bentar ya, aku letakkan dulu anak kita, ehh bayi ini" Kata Farhan.
Mala tersenyum, ia terharu dengan sikap Farhan yang begitu tulus pada dirinya dan anaknnya. Dengan sangat hati hati Farhan meletakkan bayi itu, ia juga mencium kening bayi itu, tersenyum untuk ke sekian kalinya. Sebelum ia keluar memanggil Aisyah. Farhan berbisik kepada Mala
__ADS_1
" 'as-aluka Billah...... Will you marry me? Setelah masa nifas selesai aku akan melamarmu dan menemui orang tuamu" Bisik Farhan.
"Apa? Benarkah ini? Dia melamarku untuk kedua kali, melamarku saat aku hamil, dan sekarang, melamar untuk anak ini? Terbuat dari apa hatinya Ya Allah" Batin Mala seraya meneteskan air matanya.