Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.10


__ADS_3

Salah satu kesalahan yang pernah Jihan putuskan dalam hidupnya adalah, saat ia mendengarkan kata-kata orang lain dan tidak mendengarkan kata hatinya sendiri.


Jujur saja waktu itu ia masih begitu lemah, jalan pikirannya masih sangat labil, mentalnya masih begitu rapuh. Namun kini, pelajaran di masa lalu membuat Jihan terbentuk menjadi pribadi Mandiri, kuat, dan cerdas.


Hari ini  genap satu minggu Jihan bekerja sebagai karyawan King group. Ia mulai terbiasa dengan suasana ruangan yang begitu heboh saat jam kerja belum di mulai, baik perempuan maupun wanita sama saja di ruangan staf bagian keuangan itu.


Seperti pagi ini, Jihan yang baru saja masuk ke ruangan, Namun ia langsung mengeryitkan dahinya saat melihat Cika, Jenny, Rendy, dan bahkan Malik berkumpul di meja pak Kus.


 


“lagi pada ngapain sih ... ada gosip baru,” ucap Jihan yang berjalan mendekati meja pak Kus.


 


Sontak Semua berbalik menatap Jihan yang berada di belakang mereka, Jenny langsung menarik tangan Jihan agar berdiri di sampingnya, ia meletakkan ponselnya di hadapan Jihan.


 


“Ini kabar terpanas yang menghebohkan seluruh kantor,” ucap Jenny sambil memperlihatkan sebuah foto seorang pria yang baru saja tiba di bandara, lengkap dengan masker dan kacamata hitamnya.


 


“Ini siapa, wajahnya tidak terlihat,” ucap Jihan, sambil terus memperhatikan foto itu.


Jihan beralih menatap Malik untuk mencari jawaban namun Malik hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu.


"Pak Toni, akan segera lengser dari jabatannya, dan putra semata wayangnya akan menggantikan posisinya, sebagai CEO baru," ujar pak Kus.


"O begitu," ucap jihan sambil menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan ucapan pak Kus.


"Bukan hanya itu ... kabarnya CEO baru kita ini sangat tampan loh," ucap Jenny tiba-tiba, Membuat para rekannya kaget.


"Jenny ... Jenny, orangnya saja pakai masker dan kacamata begitu, bagaimana kamu bisa mengatakan dia tampan," ucap rendy.


"Dari postur tubuhnya saja bisa mencerminkan jika dia adalah pria tampan!" pekik jenny.


"Kalau tiba-tiba, saat maskernya di buka, giginya tonggos bagaimana," ucap Rendy, membuat semuanya tertawa, kecuali Jenny yang malah terlihat kesal.


"Haha ... sudah, sudah, jam kerja sudah di mulai, ayo kembali ke meja kerja kalian masing-masing," ucap pak Kus.


Jihan dan rekan kerjanya kembali ke tempat masing-masing. Malik mendorong kursinya untuk mendekati jihan yang memang duduk bersebelahan dengannya. Jihan yang tadinya sedang fokus ke layar laptopnya, kini beralih menatap Malik yang berada di sampingnya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya jihan.


"Apa kamu mau tahu, CEO baru kita itu memang tampan," ucap Malik.


Jihan mengeryitkan dahinya, "Kamu tahu dari mana jika dia tampan, kamu saudaranya?" tanya jihan, membuat malik kaget, karena ia memang saudara sepupu Johan."


"Bu .. bukan begitu, aku hanya pernah melihatnya di sebuah artikel," ucap Malik.


"Sudahlah, aku tidak peduli mau dia setampan apa, aku tidak perduli, yang aku perdulikan sekarang ... bagaimana kita akan menyelesaikan laporan keuangan secepatnya, jadi mohon kerjasamanya rekan Malik," ujar Jihan lugas.


"Siap rekan Jihan," ucap Malik lalu kembali ke belakang meja kerjanya, kembali mengecek setiap laporan yang masuk.


~~


Johan sudah tiba di Jakarta tiga hari yang lalu, namun sepertinya ia masih Betah berada di rumah. Seperti hari ini, ia mengeluarkan motor yang ia pakai semasa SMA dulu dari dalam garasi.


Johan membersihkan motor itu dari debu-debu yang menempel di badan motor. Matanya tiba-tiba saja tertuju pada tangki bensin motornya yang tertempel sticker berinisial JJ, masih sama seperti dulu tidak pudar sama sekali. Johan melepaskan sticker itu dari motornya, baginya itu hanya sisa sampah masa lalu yang tak ingin ia simpan lagi.


Di tengah ke asikkannya membersihkan motor kesayangannya, seorang pelayan menghampirinya, " Maaf mengganggu tuan, nyonya maria Memanggil tuan untuk menemui nyonya di ruang keluarga," ucap pelayan wanita itu.


"Baiklah, katakan pada ibu, aku akan segera kesana," ucap Johan.


~


Johan berjalan menghampiri ibunya yang sedang duduk di sofa yang ada di ruang keluarga sambil menyeruput teh herbal. Johan langsung duduk di hadapan ibunya.


"Kamu dari mana saja, ibu dari tadi memanggil kamu, tapi kamu baru datang sekarang," ujar Maria.


"Maaf Bu, aku habis membersihkan motor lama ku," ucap Johan.


"Motor butut kamu sewaktu SMA?" tanya Maria.


Johan tak menjawab pertanyaan ibunya, ia hanya tersenyum lalu memakan sepotong kue yang tersedia di atas meja.


"Untuk apa kamu membersihkan motor itu, jika kamu mau kan tinggal beli yang baru saja," ucap Maria.


"Aku tidak ingin mengendarainya lagi, aku hanya ingin melihat kondisinya, setelah tujuh tahun tak terpakai," ucap johan pada ibunya.


"Ibu sampai lupa maksud ibu memanggil kamu ke sini," ucap maria.


"Memangnya apa yang ingin ibu katakan?" tanya johan.

__ADS_1


"Kapan kamu akan mulai menggantikan posisi ayah kamu?" tanya Maria balik.


"Besok, aku akan ke kantor untuk menghadiri rapat direksi, sebelum pergantian posisi ayah kepada ku," ujar Johan.


"Baguslah, lebih cepat lebih baik."


Maria kembali menyeruput teh herbal miliknya, Sementara johan malah Menghembuskan nafas berat karena memikirkan perkejaaan yang telah menantinya.


~


Hari-hari yang di tunggu telah tiba, semua karyawan king group berjajar rapi di lobby, untuk menyambut kedatangan CEO baru mereka. Jihan yang baru saja datang seperti orang kebingungan, untung saja Cika langsung berteriak memanggil namanya.


"Jihan kesini!" seru cika yang sedang berdampingan dengan jenny.


Jihan beranjak menghapiri Cika dan jenny, namun tanpa ia sadari kartu identitas pegawainya terjatuh di depan pintu masuk.


"Ada apa sih, kenapa berkumpul di sini?" tanya jihan pada Jenny dan Cika.


"Kita berkumpul untuk menyambut CEO baru kita, pastikan penampilan kita serapi mungkin itu pesan dari pak Kus," ujar jenny.


Jihan merapikan pakaiannya, namun ia baru sadar jika kartu identitas pegawainya tidak tergantung di saku kemejanya. Ia mulai panik, ia kembali berbalik mencari kartu identitas pegawainya.


Dari kejauhan jihan bisa melihat kartu identitasnya tergeletak di depan pintu masuk kantor, ia langsung berjalan menuju pintu , namun baru separuh perjalanan, tiba-tiba para pegawai king group mulai heboh.


Jihan masih diam di posisinya, ia kebingungan saat semua orang mulai berbisik-bisik. Jihan kembali beralih Melihat ke arah pintu. Nampak seorang pria berperawakan tinggi, putih dengan setelan jas berwarna hitam dan sepatu kulit hitam berjalan dengan gagah di kawal dua orang bertubuh kekar di samping kiri dan kanannya.


Jihan diam mematung di tempatnya, ia merasa seperti pernah melihat pria itu pikirnya. ia bahkan lupa untuk mengambil kartu identitasnya yang masih tergeletak di depan pintu masuk.


Johan berjalan memasuki lobby, ia menghentikan langkahnya saat merasakan kakinya menginjak sesuatu. Ia menunduk dan mengambil benda kecil yang di injaknya tadi.


Keningnya mengkerut, saat membaca nama yang tertera di kartu identitas pegawai itu. keterkejutannya tak sampai di situ saja, saat matanya menangkap sosok seorang wanita yang sedang berdiri sekitar lima meter darinya.


Johan membuka kaca matanya, seolah ingin memperjelas apa yang dia lihat, wanita itu, wanita yang ia fikir telah mengkhianatinya tujuh tahun yang lalu.


Jihan memandang Johan tak berkedip, waktu seakan sedang berhenti, di zona hanya ada mereka berdua dan tak ada orang lain.


Pandangan mata mereka bertemu kembali setelah tujuh tahun.


Saat kehidupan baru yang sama-sama mereka impikan tanpa bayangan masalalu, kini telah sirna, takdir mempertemukan mereka kembali.


Bersambung 💕

__ADS_1


__ADS_2