Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Cuaca yang Mendukung


__ADS_3

Perlahan Alea membuka matanya di pagi hari yang terasa dingin itu. Dia meraba Raffa yang sudah tidak ada di tempatnya, seketika Alea membuka matanya lebar. Dia mengedarkan pandangannya tapi Kevin juga tidak ada di kamar itu.


Perlahan Alea duduk sambil menguap panjang. Dia mengucek matanya melihat jam dinding. "Sudah jam 8, Kevin kok gak bangunin aku sih. Kasihan kan Raffa waktunya minum."


Alea menyingkap selimutnya. Badannya terasa remuk seperti habis maraton berkilo-kilo meter. Semalam dia dihajar Kevin sampai dua ronde dengan durasi lama pantaslah pahanya sekarang terasa kaku.


"Tuh, Mama udah bangun."


Bayi lucu berumur dua bulan itu tertawa gemas di bahu Kevin saat Kevin membuka pintu kamarnya.


"Kok gak bangunin aku?"


"Kamu masih nyenyak tidurnya. Tenang aja Raffa udah kenyang tadi aku kasih ASIP dibantu Bi Sum. Udah wangi juga nih." Kevin mencium pipi chubby itu.


"Terus Reka?" tanya Alea.


"Reka lagi santai sambil nonton tv." Kevin duduk di tepi ranjang lalu menurunkan Raffa di tengah ranjang agar kakinya bebas bergerak menendang angin.


Alea kembali merebahkan tubuhnya lagi dengan berbantal paha Kevin. Rasanya dia malas untuk bergerak hari itu.


"Sayang kamu makan dulu." Tangan Kevin beralih mengusap rambut Alea yang masih berantakan.


"Rasanya lelah banget. Badan aku pegal semua. Gara-gara semalam sampai dua ronde, mana lama lagi."


Kevin tersenyum lalu mencubit gemas pipi Alea. "Iya, udah lama gak lakuin jadinya kaget. Besok-besok udah terbiasa lagi."


"Ih, capek. Baru punya anak dua kayak berasa udah jadi nenek-nenek. Gampang capek gini." Alea memiringkan dirinya dan bermain dengan tangan Raffa.


"Banyak minum air putih. Kamu kan lagi me nyu sui, jadi mudah dehidrasi dan lelah."


"Iya." Belaian dari Kevin membuat Alea ingin rasanya tertidur kembali. "Jadi ngantuk lagi." Alea kembali memejamkan matanya tapi Kevin justru mencubit kecil pipi Alea.


"Makan dulu udah mau siang nih. Atau mau aku ambilkan?"


Alea menggelengkan kepalanya lalu dengan malas dia duduk. "Mandi aja deh biar segar."


"Ya udah. Bentar lagi Raffa juga pasti tidur lagi."


Bukannya beranjak tapi Alea malah duduk di pangkuan Kevin dan mencium bibir Kevin dengan lembut.


"Katanya capek tapi mancing singa yang lagi tidur."

__ADS_1


"Iya sih capek. Tapi hawanya pengen dimanja banget." Alea mengalungkan tangannya di leher Kevin.


"Hawa-hawa pengantin baru ini." Kevin kembali mencium bibir Alea, kali ini semakin dalam dan menuntut.


"Hmm, Kev.." Alea sedikit mendorong dada Kevin sebelum dia benar-benar terlena dan terbuai permainan Kevin.


"Mau lagi? Ayo."


"Ih," Alea mencubit lengan Kevin lalu bangkit dari pangkuan Kevin. "Aku mau mandi dulu terus makan. Udah lapar banget."


Kevin hanya tersenyum lalu membungkukkan badannya dan menggoda Raffa lagi.


"Raffa, ngantuk ya." Kevin menciumi kedua pipi itu lagi yang sedang menguap panjang. "Raffa tidur sama Papa ya." Kevin merebahkan dirinya miring di sebelah Raffa sambil mengusap lembut rambut Raffa.


Beberapa saat kemudian mereka berdua tertidur. Alea yang baru saja keluar dari kamar mandi tersenyum melihat pemandangan itu. Mereka berdua tidur dengan lelapnya dan sangat nyaman.


Alea berjalan mendekat lalu menyelimuti mereka berdua.


Kemudian dia berganti pakaian lalu menyisir rambutnya. Setelah rapi dia keluar dari kamar.


"Reka sudah makan?" tanya Alea pada Reka yang sedang duduk di ruang tengah sambil menonton televisi.


"Sudah, Ma. Tadi sama Papa. Mama kenapa baru bangun?"


"Ma, Reka telepon Ayah boleh?" tanya Reka.


Alea kini duduk di sebelah Reka. "Besok saja ya. Diluar hujan, Ayah pasti masih tidur." Mengingat cuaca yang sangat mendukung untuk bercocok tanam, dia bisa menebak apa yang dilakukan pengantin baru saat ini.


"Iya deh, Ma. Tapi Reka besok mau main ke rumah Ayah sama Bunda Luna."


"Iya, besok biar diantar Papa ya. Ya udah, Mama mau makan dulu."


"Iya, Ma."


Alea berdiri dan berjalan menuju dapur. Perutnya sudah terasa sangat lapar.


...***...


Sedangkan di rumah Luna, sepasang pengantin baru ini baru saja keluar dari kamarnya dengan senyum yang merekah.


"Tuh kan, cuaca sangat mendukung jadi pengantin barunya baru keluar dari kamar," seloroh Bu Rini sambil menyiapkan makanan untuk mereka berdua.

__ADS_1


"Ih, Mama. Ini kan masih pagi," kata Luna yang kini telah duduk di kursi makan.


"Iya, masih pagi jam 9." Bu Rini masih saja tertawa. "Ya sudah, kalian makan yang banyak ya. Mama sama Ayah sudah makan." Kemudian Bu Rini berlalu meninggalkan mereka berdua.


Niko meraih piring lalu mengisinya dengan nasi dan lauk. "Sini aku ambilkan buat kamu." Niko meletakkan piring yang telah terisi itu di depan Luna.


"Mas, aku bisa sendiri. Harusnya aku yang ambilkan Mas Niko."


"Gak papa, tangan kamu masih sakit. Lagian sama aja, suami istri harus saling melayani," kata Niko.


Luna tersenyum mendengar kalimat Niko. Semoga saja sikap Niko selalu manis sampai nanti.


Mereka mulai menyantap makanannya. Perut sudah terasa sangat lapar hingga satu piring nasi itu habis dengan cepat.


"Mas Niko kalau masih kurang nambah aja," kata Luna yang melihat piring Niko telah tandas.


Niko menggelengkan kepalanya. "Aku sih kurangnya nafsu yang lainnya." Niko terkekeh. Dia masih terbayang-bayang adegan panas barusan yang dia ciptakan.


"Ih, Mas Niko." Satu cubitan mendarat di pinggang Niko. Luna masih saja malu-malu jika membahas keintiman mereka.


"Kita jadi ke rumah kapan? Besok?" tanya Niko.


Luna menganggukkan kepalanya. "Iya, besok aja deh. Hari ini mager banget. Aku juga belum nyiapin baju aku."


"Bawa baju seperlunya aja. Nanti yang lainnya aku siapkan di rumah."


Luna menghabiskan suapan terakhirnya lalu mengambil air putih. Setelah meminumnya baru dia melanjutkan obrolannya dengan Niko.


"Kamu beneran mau kan tinggal di rumah aku?" tanya Niko lagi memastikan.


Luna menganggukkan kepalanya. "Ya mau, Mas. Kemanapun Mas Niko mah tinggal, aku mau ikut."


"Sebenarnya aku mau ajak tinggal di rumah sendiri tapi setelah aku pikir-pikir kasihan kalau Mama sama Papa tinggal berdua di rumah."


"Iya Mas, aku ngerti. Kalau di sini aku masih punya adik. Bulan ini sudah wisuda dan bisa menemani Mama sama Ayah di rumah."


"Kamu pengertian banget." Niko menggenggam tangan Luna dan menautkan kelima jemarinya. "Ke kamar yuk, aku mau vc Reka."


Luna menganggukkan kepalanya lalu berjalan kembali ke kamar bersama Niko.


Begitulah pengantin baru, menghabiskan waktu seharian di kamar ditambah cuaca yang sangat mendukung. Mungkin melakukan panggilan video dengan Reka hanyalah 10 menit sedangkan selanjutnya, yeah, you know what they will do... 🤭

__ADS_1


.


.


__ADS_2