
Jihan meregangkan tubuhnya, perlahan ia mulai membuka mata. Samar-samar ia bisa melihat cahaya lampu ruangan itu, dilihatnya Langit-langit ruangan itu berwarna brown ke emasan, ia pun akhirnya sadar, Jika ini bukanlah kamarnya.
Jihan langsung bangkit dari posisinya, "Dimana ini."
Jihan melihat sebuah pintu, ia pun bergegas berjalan menuju pintu untuk keluar. Betapa kagetnya ia saat ia keluar dan ternyata itu adalah ruang kerja Johan.
Saking kagetnya, ia sampai diam tak bergerak di ambang pintu.
Johan yang sibuk di belakang meja, mendengar suara pintu terbuka, ia tahu jika itu adalah Jihan yang sudah terbangun.
"Kamu sudah bangun," ucap Johan yang kini sudah beranjak menghampiri Jihan.
"Kenapa saya bisa tidur disini?" tanya Jihan.
"Apa kamu lupa, siang tadi kamu tertidur di sofa," ucap Johan.
Jihan mencoba mengingat-ingat kejadian siang tadi, mulai dari ia masuk kedalam ruangan Johan, menjelaskan laporan yang ia bawa, dan ya akhirnya Jihan ingat. Benar, dia memang tertidur di sofa.
"Baiklah kamu benar, tapi kenapa aku bisa berada di dalam ruangan tadi," ucap Jihan.
"Aku hanya ingin kamu tidur dengan nyaman, terbukti kamu tertidur sampai malam hari,"ucap Johan.
Mendengar hal itu, Jihan langsung pergi ke arah jendela, ia membuka gorden dan ternyata benar, hari sudah gelap.
"Jam berapa sekarang?" tanya Jihan yang sudah berbalik melihat Johan.
"Jam tujuh malam," ucap Johan sambil melihat jam di tangannya.
"Apa! jam tujuh malam," ucap Jihan.
"Iya jam tujuh malam, tenanglah, seketaris ku sudah mengurus semuanya, tas mu ada di sofa dan Raksa juga sudah menghubungi tante mu," ujar Johan.
"Dari mana kamu tahu nomor ponsel tante ku?" tanya Jihan.
__ADS_1
"Tidak ada yang tidak aku tahu tentang kamu," ucap Johan.
Jihan memutar bola matanya malas, ia berjalan menuju sofa untuk mengambil tasnya, kemudian ia berjalan menuju pintu keluar. Tentu saja Johan tidak membiarkan Jihan pergi begitu saja.
"Mau kemana kamu?" tanya Johan yang sudah menarik tangan Jihan.
"Tentu saja aku mau pulang," ucap Jihan.
"Kamu akan pulang, jika aku yang mengantar mu," ucap Johan.
"Aku bisa pulang sendiri," ucap Jihan.
"Kamu pikir aku akan membiarkan kamu pulang sendiri, tunggu di sini," ucap Johan.
Dia melangkah mengambil jas dan kunci mobilnya kemudian kembali menghampiri Jihan.
Saat keluar dari kantor, suasana sudah sangat sepi, bahkan beberapa koridor sudah gelap. Jihan dan Johan melewati lorong yang sudah nampak gelap, Johan menyalakan senter di ponselnya, ia kembali berjalan namun ia merasakan Jika Jihan tidak ada di sampingnya.
Benar saja Jihan masih diam mematung di tempatnya, ia menutup matanya dengan kedua tangannya karena takut. Jihan sangat takut akan kegelapan, untuk itu selama bekerja, ia tidak pernah mengambil sip malam.
Terlihat Jihan yang masih memejamkan matanya, saat Johan membelai pucuk kepalanya dan dengan lembut kemudian berkata, "Jihan, hey lihat aku ... Kak Jo ada disini."
Mendengar ucapan Johan, Jihan membuka matanya perlahan, ia bisa melihat wajah Johan dari sorot cahaya remang senter posel, begitu dekat dengannya saat ini, tatapan mata yang sama seperti tujuh tahun yang lalu, Jihan terpana sesaat, apalagi Johan tadi menyebut dirinya kak Jo.
Johan tersenyum saat Jihan kini sudah membuka matanya, ia meraih tangan Jihan, menggenggamnya dengan erat, kemudian kembali berjalan.
Jihan hanya bisa terdiam, ia terus mengikuti langkah Johan, pandangan matanya tak pernah lepas dari Johan, ia terus menatap Johan yang kini berjalan di sampingnya sambil menggenggam erat tangannya.
Perasaan itu muncul lagi, rasa nyaman itu datang lagi, sudah terlalu sering hingga Jihan kadang tak bisa menahan diri, entah karena pertahanan diri yang lemah, atau memang pesona Johan yang membuat pertahanannya goyah.
"Jihan, ayo masuk ... apa kamu akan terus memandangi ku seperti itu," ucap Johan
Seketika jihan langsung tersadar jika kini mereka sudah berada di depan mobil Johan, berada di samping Johan membuatnya lupa jika waktu terus berjalan.
__ADS_1
"Ah iya, maaf," ucap Jihan kemudian lalu melepaskan genggaman tangan Johan.
Jihan melangkah masuk kedalam mobil dengan cepat, ia benar-benar merasa malu karena ketahuan memandangi Johan.
Tak lama Johan ikut masuk kedalam. Jihan benar-benar merasa canggung sekarang.
"Mau pegangan tangan lagi," ucap Johan.
"Apa sih, siapa juga yang mau," ucap Jihan ketus.
Mendengar ocehan Jihan, membuat Johan kembali terkekeh, tingkah Jihan saat ini sama persis dengan Jihan semasa SMA dulu.
Johan menyalakan mesin mobil dan langsung tancap gas meninggalkan gedung utama King grup. Sepanjang perjalanan, jihan hanya duduk diam sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil, karena Jihan hanya diam tanpa bicara Johan akhirnya berinisiatif untuk memutar musik.
Johan menyetel lagu favoritnya apalagi kalau bukan Dealova. Iringan musik tedegar di telinga Jihan, ia langsung menoleh ke arah Johan yang sedang fokus menyetir.
"Lagu ini lagi, apa tidak ada lagu lain yang kamu suka, selain lagu ini ... dari dulu hingga sekarang kamu terus saja memutar dan menyanyikan lagu Dealova," ujar Jihan.
"Kamu pasti sudah tahu Jawabannya tanpa harus aku jelaskan lagi," ucap Johan sambil fokus melihat jalanan.
Jihan terus melihat Johan yang ada di sampingnya, perlahan Kak Jo yang dulu ia petanyakan kehadirannya di dalam diri Johan Alexander pelahan mulai muncul, ia dulu berfikir Jika sosok kak Jo sudah hilang dari diri mantannya itu. Namun semakin kesini, ia kembali merasakan getaran yang sama saat mereka berpacaran tujuh tahun yang lalu.
Jihan menggelengkan kepalanya perlahan, mencoba menyadarkan dirinya, jika ia tidak boleh melampaui batas yang ia buat sendiri. Johan yang sekarang bukanlah Johan yang bisa ia capai.
Jihan kembali menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil, dilihatnya ke arah jendela, lampu-lampu jalan yang berjejeran rapi, perlahan ia memejamkan matanya kembali bukan untuk tidur namun hanya untuk menormalkan dirinya setelah pertahanan diri yang hampir goyah.
Akhirnya mobil Johan sampai di halaman rumah Jihan. Dia keluar dari dalam mobil, di ikuti oleh Johan. mereka melihat sebuah mobil yang terparkir di halaman depan rumah.
"Kak Jihan pulang!" seru Nino yang ternyata sudah menunggu Jihan di ambang pintu.
Jihan dan Johan menoleh kearah pintu, tak lama muncul Mela di ikuti seorang pria di belakang nya, pria itu adalah Malik.
Johan mengeryitkan dahinya, melihat kehadiran Malik di rumah Jihan.
__ADS_1
"Malik," gumam Johan sambil terus fokus melihat Malik, begitu juga dengan Malik, ia terus memandangi Johan dengan tatapan yang susah untuk di artikan.
Bersambung 💕