
Pagi hari yang cerah ini, di awali dengan olahraga pagi seluruh peserta camping, tak terkecuali Johan yang juga ikut berlari pagi, menyusuri hutan lindung yang nampak sangat asri.
Johan melirik kanan kiri tapi tak juga menemukan Jihan, ia berhenti sejenak, membiarkan peserta lain mendahuluinya, Raksa pun juga ikut berhenti mengikutinya.
"Kamu kenapa berhenti?" tanya Johan.
"Saya harus terus mendampingi tuan bukan," jawab Raksa.
"Ya sudah, terserah kamu saja," ucap Johan dengan mata yang sibuk mencari keberadaan Jihan.
"Tuan sedang mencari siapa?" tanya Raksa saat memperhatikan Johan yang seperti sedang mencari seseorang.
"Aku tidak mencari siapa-siapa, aku hanya lelah, ingin berhenti sebentar," ucap Johan, mencari alasan.
Tak lama terlihat Jihan yang sedang berjalan bersama dengan teman-temannya, termaksud Malik dan rendy tentunya. Buru-buru Johan berpura-pura melakukan pemanasan, dan pura-pura tidak melihat Jihan.
Jihan dan teman-temannya melihat Johan bersama raksa, tentu saja jenny yang paling cepat menyapa keduanya
"Selamat pagi tuan Johan dan seketaris Raksa,"ucap Jenny dengan centilnya.
"Ah iya, selamat pagi," ucap Johan.
"Kenapa tidak ikut berolahraga tuan,"ucap Rendy.
"Saya hanya beristirahat sebentar ... ini juga mau lanjut lagi," ucap Johan.
"Bareng kita saja tuan," ucap Cika.
Jihan menoleh ke arah Cika, kenapa juga Cika malah mengajak Johan, pikirnya.
"Boleh juga ... kalau begitu ayo kita lanjut lagi," ucap Johan.
Jihan dan Jenny kembali berlari, di ikuti oleh johan dan Raksa dan yang lainnya dari belakang. Baru saja Johan ingin berlari di samping Jihan. Tapi langsung di dahului oleh Malik yang sudah lebih dulu berada di samping Jihan.
Rasa kesal mulai menghampiri Johan, sepertinya firasatnya benar, jika Malik benar-benar memiliki perasaan kepada Jihan. Sia-sia saja ia menunggu jika pada akhirnya ia tidak bisa berlari bersama wanita yang ia cintai.
Akhirnya mereka sampai juga di area perkemahan. Jihan pergi ke tenda bersama Cika dan Jenny, rendy dan Raksa pergi untuk membeli air mineral di luar lokasi perkemahan.
Tinggallah Johan dan Malik yang kini sedang duduk beristirahat di sebuah batang pohon yang telah tumbang. Johan menhusap wajahnya yang penuh keringat, menggunakan handuk kecil di tangannya.
Johan melirik Malik yang berada di sampingnya sekarang. Jujur saja hubungan antara ia dan Malik tidak begitu akrab, karena mereka jarang bertemu.
"Kamu masih menyembunyikan identitas mu?" tanya Johan pada akhirnya.
"Begitulah, hanya Jihan saja yang tahu," ucap Malik sambil menoleh ke arah Johan yang sedang duduk di sampingnya.
"Kamu dan Jihan terlihat sangat akrab," ucap Johan.
"Begitulah ... lebih tepatnya, aku selalu ingin dekat dengan dia," ucap Malik kemudian melebarkan senyumnya.
"Kenapa?" tanya Johan.
"Karena aku menyukainya," ucap Malik dengan entengnya.
__ADS_1
Deg.
Johan langsung menoleh ke samping, melihat Malik yang sedang tersenyum-senyum sendiri. Mendapatkan hati Jihan kembali saja sudah sangat sulit, kenapa harus ada Malik lagi sebagai pesaingnya.
"Dia sangat cantik bukan," ucap Malik pada Johan.
"A-Apa ... tidak juga," ucap Johan.
"Semua orang berkata begitu, di luar itu semua, aku menyukai semua yang ada padanya ... kak Johan, sepertinya aku akan menyatakan perasaan ku padanya," ucap Malik pada Johan.
Johan mencengkeram erat handuk kecil yang ada di tangannya. Hatinya seperti terbakar saat mendengar ucapan Malik barusan. tidak pernah ia bayangkan, akan ada malik di antara Dia dan Jihan.
**
Setelah mengantri cukup lama, akhirnya Jihan selesai mandi juga. Jenny dan Cika sudah lebih dulu selesai, sehingga mereka kembali lebih dulu ke tenda.
Jihan yang sudah berpakaian namun rambutnya masih terlilit handuk, berjalan menuju tenda. Tiba-tiba saja Clara datang dan menghadang langkahnya.
"Maaf saya mau lewat," ucap Jihan.
"Sebelum kamu melanjutkan perjalanan mu, aku ingin bertanya sesuatu," ucap Clara.
"Bertanya, bertanya apa?" tanya Jihan bingung.
"Apa hubungan kamu dan tuan Johan?" tanya Clara sambil berpangku tangan.
"Saya?" tanya Jihan memperjelas.
"Ya iyalah kamu!" seru Clara.
"Lalu kenapa tuan Johan begitu perhatian sama kamu," ucap Clara.
"Saya pernah menjadi sekretaris tuan Johan, meskipun hanya sebentar, kalaupun tuan Johan perhatian dengan saya, apa urusannya dengan Anda," ujar Jihan yang sudah mulai kesal.
"Kamu berani dengan saya!" ucap Clara dengan nada suara yang cukup keras.
Clara memang sudah mengagumi Johan, jauh sebelum Johan mengambil alih perusahaan ayahnya. Clara beberapa kali bertemu Johan saat di amerika karena mereka satu campus namun beda jurusan waktu itu.
Clara sudah dua tahun bekerja di king group dan langsung mendapatkan posisi sebagai ketua tim perencanaan. Ia baru saja tiba dari perjalanan dinas ke luar kota beberapa hari yang lalu, dan langsung di berikan kejutan kehadiran Johan di perusahaan.
Namun Johan tetap saja begitu cuek dan tak pernah melihat keberadaannya.
Clara semakin kesal, saat Johan begitu memperhatikan Jihan bahkan untuk hal kecil.
***
Jihan terdiam sebentar sampai ia kembali membuka suara, " Saya tidak pernah takut, dengan orang seperti anda ... anda sopan , saya pun sopan, dan begitu pula sebaliknya, jangan karena posisi anda lebih tinggi, anda menindas dengan seenaknya," ucap Jihan lantang.
"Berani-beraninya kamu," ucap Clara, lalu menarik handuk yang terlilit di rambut Jihan, kemudian melemparkan handuk itu ke sembarang arah.
"Hey, apa yang anda lakukan!" ucap Jihan kesal.
"Jangan pernah memdekati tuan Johan lagi, dasar wanita tidak tahu diri," ucap Clara lalu pergi meninggalkan Jihan sendiri.
__ADS_1
Jihan meraih handuknya yang tergeletak di atas tanah, ia langsung cemberut saat melihat handuknya kotor.
"Kenapa hidupku selalu saja di ganggu oleh wanita sejenis ini, dan ini semua karena Johan lagi, Johan lagi," gumam Jihan.
Sesampainya di tenda Jihan langsung masuk dengan wajah cemberutnya, membuat Jenny dan Cika terheran-heran. Hal apa lagi yang menimpa rekan kerja mereka ini.
"Kamu kenapa lagi?" tanya Jenny.
"Lihat ini," ucap Jihan sambil memperlihatkan handuknya yang kotor karena ulah Clara.
"Loh, handuk kamu kok bisa kotor seperti ini, kamu jatuh?" tanya Cika.
"Bukan, ini semua gara-gara Manager tim perencanaan yang bernama clara itu,"ucap Jihan yang masih terlihat kesal.
"Memangnya dia ngapain kamu?, dia itu memang terkenal galak, ada rumor yang mengatakan, dia bisa sampai jadi manager itu semua karena ayahnya adalah salah satu pemegang saham di king group," ujar Jenny.
"Aku sangat kesal, dia marah karena berfikir aku mencari perhatian tuan Johan, padahal aku tidak pernah melakukan itu," ucap Jihan.
"Hah! Memangnya dia siapa, muka pas-pasan, badan rata seperti triple saja belagu, kalau tuan Johan sukanya sama kamu itu wajar, kamu kan cantik, body tidak usah di tanya, mantap lah pokoknya," ujar Cika.
"Ish, apasih Ci, aku tidak pernah berharap seperti itu," ucap Jihan.
" Ya ampun Jihan, aku bisa melihat jika, tuan Johan terus saja memperhatikan kamu," ucap Jenny.
"Ah sudahlah, tidak ada gunanya bicara dengan kalian," ucap Jihan kemudian membaringkan tubuhnya dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Ya dia ngambek," ucap Cika lalu terkekeh bersama dengan Jenny.
***
Senja kini berganti malam, menjadi penutup hari yang melelahkan, Jihan sedang membereskan meja plasmanan, bersama Jenny, Cika dan beberapa karyawan wanita lainnya.
Namun tiba-tiba Malik datang menghampiri Jihan yang sedang sibuk dengan tugasnya.
"Jihan," ucap Malik sambil menepuk pundak Jihan.
"Apa?" ucap Jihan yang saat ini sudah menoleh kearah Malik.
"Setelah kamu selesai, apa kita bicara sebentar," ucap Malik.
"Mau bicara apa ... bicarakan saja sekarang," ucap Jihan yang kembali fokus membereskan piring kotor di atas meja plasmanan.
"Ini hal penting, tidak bisa di bicarakan di sini, aku tunggu kamu area api unggun ya,"ucap Malik.
"Ya baiklah," ucap Jihan.
"Oke, aku tunggu ya ... sampai jumpa," ucap Malik lalu melangkah pergi.
Dari balik pohon tak jauh dari Jihan. Johan sedang berdiri di sana, mendengar semua obrolan antara Jihan dan Malik tadi.
Dia tahu, pasti Malik akan menyatakan perasaannya kepada Jihan, dan tentunya Johan tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Aku tidak akan membiarkan kamu menemuinya, batin Johan.
__ADS_1
Bersambung 💕🙏