Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.16


__ADS_3

Acara metting telah selesai, Agus dan Hana sudah beranjak pergi, tinggallah jihan dan Johan yang masih berada di parkiran. Jihan menatap tajam Johan yang sedang berdiri di sampingnya.


"Jika sudah melupakan masalalu, sebaiknya jangan di ungkit lagi," ucap jihan tiba-tiba.


Johan yang tadinya masih memandangi kepergian Agus, kini beralih menatap Jihan yang sedang menatapnya tajam, sambil berpangku tangan.


"Memangnya apa yang aku katakan?" tanya Johan.


"Entah, saya permisi pulang dulu," ucap Jihan yang sudah ingin beranjak.


Baru beberapa langkah jihan melangkah, Johan kembali membuka suara, "Aku Tak akan melupakannya," ucap Johan.


Jihan berbalik melihat ke arah Johan, sementara johan kembali melangkahkan kakinya, berjalan mendekati Jihan, sambil berpangku tangan.


"Aku tidak akan pernah melupakan sebuah penghianatan," ucap Johan lagi.


Jihan mencengkram erat kedua tangannya, ingin rasanya ia mendaratkan tangannya di wajah Johan, Jihan tidak pernah mengkhianati Johan, namun Johan lebih memilih percaya dengan Vita dari pada dirinya.


Selama tujuh tahun dan cap pengkhianat dari Johan masih melekat jelas, ingin rasanya menjelaskan, namun Jihan sudah terlanjur kecewa, ternyata hanya seperti ini saja kepercayaan Johan padanya, selama dua tahun berpacaran seharusnya Johan sudah tahu bagaimana sikap dan kesetiaan jihan padanya.


"Maaf jika saya bicara lancang karena ini sudah di luar jam kantor. Saya hanya ingin mengatakan ... bagaimana jika, apa yang anda lihat dengan kenyataan yang sebenarnya itu tidak sama, saya harap anda tidak akan menyesalinya, Permisi" ucap Jihan.


Jihan melangkahkan kakinya, keluar dari tempat parkir itu dengan rasa kesal, kecewa menjadi satu. Entah bagaimana ia akan bertahan jika terus seperti ini, menjadi bsekertaris dari seseorang yang sangat menyebalkan baginya.


Jihan lebih memilih untuk pulang sendiri di bandingkan harus satu mobil lagi dengan Johan.


Johan sampai tak berkedip menatap kepergian Jihan, otaknya berusaha mencerna ucapan Jihan akhirnya Johan tersadar ia baru ingat bagaimana Jihan akan pulang sementara Restaurant ini cukup jauh dari tempat tinggal Jihan dan ini sudah larut.


Jihan sedang berdiri di pinggir jalan raya. Ia juga sedang menunggu taksi untuk pulang, tapi sudah beberapa kali ia melambaikan tangan saat taksi lewat, dan tidak ada satupun yang mampir mungkin karena sudah terisi penumpang.

__ADS_1


Saat tengah fokus mencari taksi, mobil yang di kendarai Johan berhenti di hadapannya.


"Naik lah!" seru Johan.


Jihan tidak menjawab, ia hanya memalingkan wajahnya, Ia masih tidak ingin melihat Johan karena kesal.


"Ini sudah larut, jauh dari rumah kamu, jika kamu menjadi korban perampokan, jangan salahkan aku," ujar Johan.


Jihan yang tadinya cuek, tiba-tiba mendelik ngeri, ucapan Jihan ada benarnya, bagaimana jika ia di culik, atau di rampok, membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduknya merinding. Buru-buru Jihan masuk kedalam mobil Johan, sebelum Johan berubah pikiran.


Melihat tingkah Jihan membuat Johan Menyunggingkan Senyumannya hanya sesaat, Johan tidak ingin jihan sampai melihat ekspresi wajahnya.


Selama perjalanan, tak ada obrolan antara mereka baik Johan ataupun Jihan hanya diam, Johan diam dan Fokus menyetir, sementara Jihan diam karena fokus melihat gemerlap lampu jalan.


Padahal sewaktu mereka berpacaran tujuh tahun yang lalu baik Jihan ataupun Johan,. mereka sama-sama tidak bisa diam, ada saja yang di bahas, tentang pelajaran, hobi dan humor yang membuat sakit perut.


Satu hal yang tidak pernah di bahas oleh Johan adalah, tetang keluarganya, Johan tidak pernah membicarakan asal usul keluarganya kepada Jihan, Saat masih SMA perusahaan ayah Johan belum sebesar sekarang, namun semakin tahun, perusahaan ayah Johan berkembang pesat hingga ke Seperti sekarang.


Hampir satu jam perjalanan, untung saja Johan masih mengingat alamat rumah Jihan dulu, meskipun ia tidak pernah bertamu, tapi ia sering datang untuk mengucapkan selamat malam dari balik jendela kamar Jihan.


Jihan sudah sejak tadi masuk ke alam mimpinya, hingga sampai ke depan rumah pun ia masih tertidur sangat nyenyak, membuat Johan menjadi bingung harus bertindak seperti apa.


Akhirnya Johan memutuskan untuk turun lebih dulu untuk meminta tolong kepada keluarga Jihan, untuk menurunkan Jihan dari mobil.


Tok tok.


"Permisi," ucap Johan sambil mengetuk pintu rumah Jihan.


"permisi," ucap Johan sekali lagi.

__ADS_1


Sampai pada akhirnya Mela membuka pintu, Mela yang baru saja terbangun dari tidurnya, mengucek-ngucek matanya beberapa kali, siapa tahu saja mela salah lihat, dan ternyata mata mela tidak salah lihat, ia benar-benar melihat pria muda yang sangat gagah bediri di depan pintu.


"Siapa ya?" tanya Mela.


"Maaf saya mengganggu tidur anda, saya Johan, bos dari Jihan, kebetulan tadi kami menghadiri metting bersama, saat ini Jihan sedang tertidur di mobil saya, apa ada yang bisa mengangkatnya masuk kedalam," ujar Johan.


"Begitu ya, jihan memang seperti orang pinsan saat tidur, ... maaf nak Johan, apa nak Johan bisa membawa Jihan masuk ke kamarnya, anak saya masih kecil, dan saya sendiri tidak bisa karena tangan saya sedang luka, karena terkena setrika," ujar Mela.


Johan tediam sesaat, ternyata Jihan hanya tinggal dengan tante dan keponakannya saja, tidak ada orang lain, Johan malah berfikir Jihan sudah menikah dengan pria yang dulu ada di dalam foto.


"Baiklah kalau begitu," ucap Johan.


ia kembali berbalik, berjalan menuju mobilnya, ia membuka pintu mobil, mengalungkan tas Jihan ke lehernya, kemudian menggedong tubuh jihan ala bridal style.


Johan terpana sesaat, melihat wajah polos Jihan yang kini terlelap, ingatannya kembali menayangkan memory indah, saat Jihan Tertidur di pundaknya saat duduk di tepi danau.


Johan kembali memulihkan kesadarannya ia meneruskan langkahnya masuk kedalam rumah yang sangat sederhana itu.


" Di sana adalah kamar Jihan, maaf merepotkan ya nK Johan, tapi saya mau ke kamar mandi sebentar," ucap Mela, kemudian melangkahkan kakinya menuju toilet yang berada di belakang dekat dengan dapur.


Masih dengan posisi menggedong Jihan, Johan melanjutkan langkahnya, ia mendorong pintu kamar Jihan, hingga terbuka lebar. Johan langsung menggedarkan pandanganya, melihat ke sekeliling kamar yang tidak luas namun sangat rapi.


Johan meletakkan Jihan di atas tempat tidur secara perlahan, entah kemana sikap garangnya saat melihat Jihan, kini seolah Johan kembali ke dirinya yang dulu, Johan yang lembut dan penyayang.


Setelah meletakkan Jihan di atas tempat tidur, Johan memutuskan untuk keluar tidak sopan rasanya berada di dalam kamar perempuan Terlalu lama.


Langkahnya tiba-tiba terhenti saat, secara tidak sengaja, Johan melihat sesuatu yang berkilau di atas meja rias Jihan.


Kalung itu, kalung inisial JJ yang dulu Johan lemparkan di hadapan jihan saat kali terakhir mereka bertemu. Johan mengambil kalung itu dari atas meja rias Jihan, menggenggamnya dengan erat.

__ADS_1


Bersambung 💕


__ADS_2