Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Like A Queen


__ADS_3

Alea mulai membuka matanya. Dia melihat Kevin yang kini duduk di sampingnya sambil menggenggam tangannya. Dia teringat kalau sebelum dia pingsan, dia sedang menunggu Rania dan Raffa di sekolahnya.


"Mas, kok aku ada di rumah sakit? Raffa dan Rania gimana?"


"Raffa dan Rania udah pulang ke rumah. Kamu jangan gerak dulu. Tiap kali hamil muda kamu selalu pingsan gini." Kevin menahan tubuh Alea agar tidak bangun dulu.


"Jadi aku beneran hamil Mas?" tanya Alea lagi untuk memastikan.


Kevin menganggukkan kepalanya. Nanti kita langsung USG ya." Lalu Kevin mengusap lembut puncak kepala Alea sambil tersenyum. Kali ini dia harus lebih ekstra menjaga Alea.


Satu tangan Alea mengusap perutnya yang masih datar. Meski sebelumnya dia sudah pernah hamil tapi di kehamilan keempat ini dia merasa deg-deg an. Beberapa peristiwa besar terjadi di masa kehamilannya dulu. Dia berharap, semoga kali ini tidak terjadi sebuah peristiwa lagi yang akan menguras air mata.


"Sayang mikirin apa?" tanya Kevjn yang melihat Alea hanga terdiam sambil menatap kosong.


Alea menggeleng kecil. "Aku hanya ingat peristiwa-peristiwa yang terjadi saat aku hamil dulu."


"Ssttt, udah jangan mikir yang tidak-tidak. Kita berdoa saja, semoga kali ini tidak terjadi peristiwa apapun. Meskipun hidup ini memang penuh dengan cobaan, tapi kita harus yakin kita pasti bisa melaluinya."


Alea tersenyum menatap Kevin. Ya, Kevin memang selalu bisa menenangkan dirinya. Perlahan dia kini duduk. "Mas, aku udah gak papa. Kita pulang saja ya."


"Iya, sampai cairan infusnya habis. Kamu banyak minum air putih biar gak dehidrasi gini." Kevin membantu Alea duduk.


"Beberapa hari ini memang rasanya gak enak minum air putih. Pahit banget."


Kevin menghela napas panjang, dia dulu pernah merasakan betapa tidak nyamannya morning sickness itu. "Tapi harus tetap minum ya sedikit-sedikit. Kenapa ngidam kali ini bukan aku saja yang merasakan?"


"Jangan Mas. Mas Kevin dulu sampai teler gitu. Aku gak tega."


"Justru aku yang gak tega lihat kamu kayak gini."

__ADS_1


"Ih, tapi buatnya tega." Alea mencibir karena yang menggebu ingin anak keempat ini adalah Kevin.


Kevin tertawa lalu menarik tubuh Alea dalam pelukannya. "Satu kali ini saja. Setelah itu kita besarkan mereka semua sama-sama." Kemudian dia menciumi pipi Alea. "Kamu mau apa? Aku siap belikan apapun yang kamu mau."


"Tapi aku maunya sesuatu yang gak bisa dibeli."


"Apa?" Kevin sedikit meregangkan pelukannya menatap Alea.


"Pelukan Mas Kevin setiap hari, ciuman Mas Kevin setiap hari, dan perhatian Mas Kevin setiap hari yang memanjakanku like a queen."


Kevin kembali tertawa. "Kalau soal itu tentu sayang. Jangan diragukan lagi. Sejak kapan kamu jadi terkevin-kevin gini."


"Ih," Alea mencubit perut Kevin. "Sejak kecil."


Kemudian mereka sama-sama terdiam menikmati kehangatan pelukan itu. "Mas, aku mau USG. Mau lihat untuk yang pertama kali."


"Aku bisa jalan sendiri." tolak Alea.


"Katanya like a queen." Kemudian Kevin berjalan keluar dari ruangan itu.


Alea hanya tersenyum kecil. Beruntungnya dia memiliki Kevin dalan hidupnya.


Tak berapa lama kemudian Kevin datang bersama seorang suster yang mendorong kursi roda. Dia segera membantu Alea turun dari brangkar dan duduk di kursi roda, setelah itu Kevin mendorong kursi roda itu menuju ruang USG.


Mereka berdua masuk ke dalam ruangan itu. Kebetulan sekali Dokter yang menangani Alea saat kehamilan Raffa dulu sama dengan Dokter yang sekarang.


"Bu Alea, ada kabar bahagia ya. Langsung kita USG saja ya."


Kevin membantu Alea naik ke atas brangkar USG.

__ADS_1


"Bu Alea dehidrasi lagi? Perbanyak minum air putih."


Alea menganggukkan kepalanya.


"Apa mual?"


"Kali ini tidak Dok. Tapi kepala terasa sangat pusing dan lidah terasa sangat pahit."


"Tekanan darahnya cukup rendah." kata Dokter itu sambil mengecek tensi darah Alea. "Perbanyak istirahat dan jangan terlalu sering bergadang."


"Iya, Dok."


Si pembuat dirinya bergadang itu hanya tersenyum kecil. Tapi ketika kerja kerasnya tiap malam telah membuahkan hasil, tentu dia tidak akan sering melakukannya lagi.


Dokter itu mengoles gel pada perut Alea lalu mulai mengarahkan alat perekam USG itu hingga terlihatlah gambar hitam keabuan di layar monitor.


"Usia kandungannya sudah sekitar 8 minggu. Sudah ada detak jantungnya dan sehat."


Alea tersenyum saat mendengar detak jantung itu yang terdengar seperti melodi yang indah.


"Kondisi ibu harus dijaga ya. Perbanyak minum air putih dan jaga pola makan, jangan sampai dehidrasi lagi. Saya akan resepkan beberapa vitamin."


"Iya Dok, terima kasih."


Setelah selesai, mereka berdua keluar dari ruang pemeriksaan. Kevin mendorong kursi Alea perlahan menuju ruangannya.


"Sebentar lagi kita pulang. Dan kamu harus banyak istirahat di rumah." kata Kevin.


Alea hanya menganggukkan kepalanya. Dia sudah tidak sabar ingun memberi tahu anak-anaknya. Apakah mereka akan senang akan memiliki adik lagi?

__ADS_1


__ADS_2