Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Liburan


__ADS_3

"Kalian serius mau ajak Reka?" tanya Kevin memastikan, saat Niko dan Luna datang menjemput Reka pagi hari itu.


"Iya, kasian Reka. Pasti dia bosan di rumah sama orang tuanya yang lagi hamil muda," kata Niko yang justru menggoda Kevin.


"Sialan! Kamu ngatain aku terus! Aku sumpahin kamu juga ngerasain kayak gini."


"Amin, aku sih rela." Niko semakin tertawa karena pakmil satu itu sangat mudah marah saat ini.


Beberapa saat kemudian, Reka sudah bersiap untuk berangkat dengan membawa tas yang berisi beberapa stel baju.


"Reka kamu jangan nakal ya di sana." pesan Alea.


"Iya Ma. Angga kan juga ikut, Reka bawa mainan yang banyak ya?" pinta Reka.


"Sudah Ayah siapkan mainan buat Reka." Niko berdiri dan menggandeng tangan Reka. "Ayo kita berangkat."


Reka berpamitan dulu pada Alea dan Kevin. Setelah itu mereka bertiga keluar dari rumah Kevin.


"Mereka mau bulan madu kenapa ajak Reka?" Alea kini duduk di samping Kevin.


Kevin mengangkat kedua bahunya. "Katanya sih, Reka biar gak bosan di rumah terus."


"Iya sih. Udah lama kita gak ajak Reka jalan-jalan, sejak Raffa lahir. Terus kamu sekarang malah teler."


Kevin tersenyum lalu mengusap perut Alea yang sudah sedikit terlihat. "Demi kesayanganku yang satu ini. Udah kelihatan ya perutnya."


Alea mengangguk pelan sambil tersenyum.


"Sehat-sehat ya sayang."


"Kemarin pas periksa, aku senang banget bisa dengar detak jantungnya yang sehat. Bentar lagi udah tiga bulan. Cepat ya. Nanti Reka umur satu tahun adiknya lahir." kata Alea sambil mengikuti gerakan Kevin bermain di atas perutnya.


"Kalau cowok pasti kayak anak kembar."


"Aku maunya cewek. Tapi cowok atau cewek sama aja sih."


"Iya nanti kalau dapatnya cowok lagi ya kita coba lagi sampai dapat cewek." Kevin tersenyum penuh arti lalu memeluk Alea.


"Ih, maunya kamu tuh."


"Ke kamar yuk, mumpung Raffa masih tidur." Kevin berdiri dan menggandeng tangan Alea mengajaknya ke kamar.


Alea hanya tersenyum dan mengikutinya.

__ADS_1


...***...


Setelah melakukan perjalanan selama dua jam, mereka akhirnya sampai di villa. Udara dingin pegunungan seketika menyambut kedatangan mereka.


Sesampainya di villa, Reka langsung berlarian masuk ke dalam villa yang luas itu bersama Angga yang disusul oleh ibunya. Ibu Angga yang bernama Mina itu adalah salah satu assistant rumah tangga di rumah Niko.


Luna ikut tersenyum melihat keceriaan Reka.


Sedangkan Niko langsung merengkuh tubuh Luna sambil berjalan masuk ke dalam villa. Udara dingin itu benar-benar membuatnya ingin mencari kehangatan.


"Reka, Angga, makan dulu yuk!" ajak Niko meski sebenarnya dirinya dipenuhi nafsu lain bukan nafsu makan. Tapi dia harus menahannya sesaat karena Luna pasti juga lapar setelah melakukan perjalanan.


Mereka semua akhirnya makan bersama.


"Setelah ini Reka sama Angga istirahat dulu ya ditemani Bi Mina."


"Yah, Reka masih mau main, Ayah."


"Ya udah, main sebentar setelah itu tidur. Nanti malam kita bakar-bakar jagung. Oke?"


"Yee, oke Ayah."


Setelah selesai makan, Niko meraih tangan Luna dan menuntunnya naik ke lantai dua. "Di kamar atas pemandangannya bagus."


Luna tersenyum. Dia sudah mengerti apa yang diinginkan suaminya itu. Tentu bukan pemandangan dalam arti yang sesungguhnya.


Tangan Niko kini melingkar di perut Luna dan memeluknya dengan erat. "Indah ya pemandangannya."


Luna menganggukkan kepalanya.


"Tapi ini lebih indah." Niko menyingkap rambut Luna lalu menyusuri leher seputih susu itu dengan bibirnya. Menyapunya dengan lembut yang membuat bulu kuduk Luna seketika berdiri.


Hangat napas Niko dan sapuan hangat nan basah itu membuat sekujur tubuhnya meremang.


Kedua tangan Niko menangkup kedua benda sintal yang masih tertutup itu. Memijatnya pelan. Hal itu sukses membuat Luna semakin membusungkan dadanya.


Perlahan tangan itu menyingkap kaos panjang Luna hinga lolos dari tubuhnya. Lalu melepas kain penutup terakhir itu hingga dada Luna terekspos dengan sempurna.


Niko telusuri punggung mulus itu dengan bibirnya. Kedua tangannya sudah bermain dan terus me re mas benda sintal yang menggantung itu.


"Ssshhh, Mas..." Luna sudah tidak kuasa menahan suara nikmatnya saat kedua tangan Niko bermain di puncak pink yang telah menegang itu. Dia semakin membusungkan dadanya dengan mulut yang berdesis nikmat.


Niko kini mendekatkan dirinya di telinga Luna. "Sudah sebulan gak merasakannya. Aku mau melakukannya berulang kali ya. Jangan memikirkan Reka. Aku sudah titip pesan sama Mina."

__ADS_1


Luna hanya mengangguk pelan. Wajahnya semakin memerah saat satu tangan Niko berhasil menyusup ke dalam celana dan bermain di sana. Mengusapnya lembut dan bergerak melingkar, lalu keluar masuk pelan yang semakin lama semakin terasa licin.


"Ahh, Mas." Luna semakin meracau saat satu jari Niko memberi stimulasi pada titik tersensitif di bawah sana. Tubuh Luna menggelinjang tak karuan yang membuat Niko semakin tidak tahan.


"Sayang, aku benar-benar udah gak tahan." dengan gerak cepat, Niko melepas seluruh pakaiannya lalu melepas celana Luna. Dia balik tubuh Luna hingga menghadap dirinya. Dia cium bibir merah itu dengan liar hingga suara decapan memenuhi ruangan dengan kedua tangan yang me re mas pan tat padat Luna. "Sekarang ya?" kata Niko dengan napas yang telah memburu.


Luna hanya menganggukkan kepalanya.


Niko membalik tubuh Luna lagi. Dia menuntun tangan Luna agar berpegangan pada jendela. Menarik pinggang Luna dan sedikit membuka kaki Luna lalu mulai memposisikan dirinya.


"Mas, sakit." pekik Luna saat Niko melesatkan miliknya dengan tergesa.


"Maaf sayang. Baru pertama nyoba gaya ini mungkin belum terbiasa." kedua tangan Niko kembali menangkup kedua dada Luna yang menggantung itu. Kembali memainkannya dan menciptakan kenikmatan agar Luna kembali terbuai.


Perlahan Niko mulai menggerakkan pinggulnya. Benar-benar sensasi yang luar biasa. Niko merasa miliknya semakin terasa terjepit nikmat.


Niko terus men de sah seiring hujamannya. "Sayang, ini nikmat." Niko semakin menambah tempo gerakannya hingga suara tepukan kulit itu memenuhi kamar mereka.


Satu tangan Niko perlahan pindah ke inti Luna. Dia usap lembut titik sensitif Luna.


Tubuh Luna bagai tersengat listrik. Merasakan pompaan dan sentuhan jari Niko secara bersamaan itu membuat tubuhnya melengking ke belakang. Bahkan dia semakin beradu gerak dengan goyang pinggulnya. "Hhmmm, Mas. Mass..."


"Iya sayang, jangan ditahan."


Gelombang nikmat itu semakin terasa. Luna menggelinjang beberapa saat dan me re mas kuat milik Niko dengan suara de sahnya yang keras. Untunglah kamar itu sudah dilengkapi dengan peredam suara.


Niko memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang kian membuncah. Dia percepat gerak pinggulnya. Dengan erangan yang keras, dia tuntaskan seluruh hasratnya di titik terdalam.


Niko menahan tubuh Luna agar tidak ambruk, dia lepaskan dirinya secara perlahan lalu membalik tubuh Luna dan memeluknya. Mereka sama-sama mengatur napas yang masih tersenggal seperti setelah lari maraton puluhan kilo.


"I love you, Luna."


"I love you too..."


Mereka kembali mendekatkan wajah mereka. Kembali memagut dan menyesapi manisnya madu yang telah menjadi candu. Kembali mengobarkan gairah yang baru saja padam.


Perlahan Niko mendorong tubuh Luna hingga mereka roboh di atas ranjang. Dia kungkung tubuh Luna. Mereka saling bertatapan lekat. Beberapa detik kemudian, wajah mereka kembali mendekat dan pergulatan panas itu terulang kembali.


.


.


💞💞💞

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komen..


__ADS_2