
"Berhenti! Tempat kalian sudah dikepung!!!"
Mereka semua menoleh pada sumber suara itu. Niko memanfaatkan kesempatan yang ada. Dia segera menarik tangannya hingga terlepas dari cekalan itu. Lalu dia segera menghajar anak buah Robi.
"Jangan kabur kalian!!" Teriak Kevin saat melihat Robi dan tiga komplotannya akan berlari dari tempat itu. Kevin segera menjegal salah satu dari mereka dan segera menyergapnya. "Tangkap mereka semua!!" Perintah Kevin pada anak buahnya.
Kini bukan hanya anak buah Kevin yang menyerang mereka tapi polisi juga telah datang dan ikut meringkus mereka semua.
"Jangan pernah mengusik kehidupan Luna!!" Niko berulang kali menghajar Robi. Semua dendam itu harus terbalaskan. Semua rasa sakit yang Luna rasakan harus dia rasakan juga.
Di sisa tenaganya, Robi menendang perut Niko. Lalu dengan cepat dia mengambil sebuah pistol yang tersembunyi di bawah meja. Dia segera membidik Niko dan...
Dorr!!!
Niko gagal menghindari peluru itu melesat dengan kencang hingga melukai lengan Niko.
"Arrgghhhh..." Niko memegang lengannya yang berdarah. Terasa panas dan perih.
"Niko!!!" Kevin segera menendang tangan Robi yang bersiap menembak Niko lagi hingga pistol itu terlempar dari tangan Robi.
Kedua polisi segera menyergap Robi dan memborgol kedua tangannya.
"Niko!" Kevin menahan sebelah lengan Niko. "Kita ke rumah sakit sekarang!" Kevin memapah Niko dan segera keluar dari gudang itu menuju mobilnya.
Sopir Kevin segera membuka pintu mobilnya saat melihat Kevin dan Niko berjalan mendekat.
"Pak, kita ke rumah sakit sekarang!" perintah Kevin setelah membantu Niko masuk ke dalam mobil.
Niko masih terus menutup luka di lengan kirinya dengan tangan karena darah terus mengalir.
"Coba aku lihat. Kayaknya tadi pelurunya menghantam tembok," kata Kevin yang menyaksikan sendiri penembakan itu.
Niko membuka luka di lengannya yang cukup lebar. "Iya. Tapi lukanya lebar cukup dalam."
"Gila! Mereka menjual senjata api juga." Kevin mengambil sapu tangannya lalu mengikat lengan Niko agar darahnya berhenti mengalir.
"Iya, dan aku juga baru tahu kalau motif dia bertunangan dengan Luna dulu ingin menjadikan Luna alat untuk mencuri dokumen di perusahaan kamu."
"Iya, aku juga sudah menebak. Luna gak mungkin mau ngelakuin itu." Kevin menghela napas panjang. Dia lega akhirnya semua pelaku tertangkap, dan black market itu juga telah bubar.
Beberapa saat kemudian, mobil Kevin sudah berhenti di depan rumah sakit. Kevin segera membantu Niko berjalan menuju IGD.
Sampainya di IGD, Dokter dan suster segera menangani luka Niko.
__ADS_1
"Kev, tunggu sini dulu. Setelah selesai, aku mau langsung ke ruangan Luna."
"Kamu gak rawat inap juga?"
Niko menggelengkan kepalanya. "Cuma luka kecil."
"Ya udah, aku tunggu diluar. Aku mau telepon Alea dulu." Kevin berjalan keluar dari IGD. Dia harus segera memberi kabar pada Alea, karena sedari tadi istrinya itu sangat khawatir dengannya.
...***...
Di ruangan Luna, dia sangat khawatir karena Niko belum juga kembali. Dia hubungi ponsel Niko tapi tak juga diangkatnya.
"Mas Niko kenapa gak angkat telepon aku?" Perasaannya sangat tidak tenang. Berulang kali dia mencoba menghubungi Niko kembali tapi tetap sama, hanya terdengar nada sambung yang akhirnya terputus sendiri tanpa jawaban.
"Luna, kamu istirahat dulu. Niko pasti baik-baik saja," kata Bu Rini berusaha menenangkan putrinya itu.
Luna mengangguk pelan. Hari sudah menjelang malam, bagaimana dia bisa istirahat tanpa melihat suaminya baik-baik saja.
Mas Niko, semoga tidak terjadi apa-apa.
Beberapa saat kemudian, terlihat pintu ruangan itu terbuka. Seketika Luna menoleh, dia melihat Niko yang sedang dibantu Kevin berjalan perlahan masuk ke dalam ruangan.
"Mas Niko!!" Melihat darah di kemeja bagian lengan Niko membuat Luna menjadi panik. Dia ingin bangun tapi perutnya masih terasa nyeri hingga membuatnya kembali terhempas ke brangkar.
"Sayang, jangan bangun dulu." Niko kini duduk di dekat brangkar Luna.
"Cuma luka kecil. Jangan khawatir ya."
"Luka kecil tapi darahnya sampai banyak gitu. Ini juga wajah Mas Niko lebam-lebam gini." Luna meraba pelan wajah Niko yang mulai membiru.
"Aku gak papa. Yang penting mereka semua sudah tertangkap." Niko mengusap lembut puncak kepala Luna.
"Ya udah, aku pulang dulu. Semoga kalian lekas sembuh." kata Kevin. Dia berpamitan untuk pulang karena Alea sudah menunggunya di rumah.
"Iya, makasih."
"Sama-sama." Kevin berjalan keluar dari ruangan Luna.
"Lebih baik Mas Niko pulang juga. Istirahat di rumah," suruh Luna. Karena dia merasa iba melihat penampilan suaminya saat ini yang nyaris acak-acakan. Bahkan kemejanya saja sudah terkoyak dan dipenuhi bercak merah.
Niko menggelengkan kepalanya. "Kamu rawat inap semalam di sini. Biar aku yang menemani. Sebentar lagi Mama sama Papa ke sini bawa perlengkapan kita."
"Mas, sebenarnya kenapa? Cerita sama aku." Luna masih penasaran dengan apa yang terjadi pada suaminya.
__ADS_1
"Iya, apa yang terjadi?" tanya kedua orang tua Luna juga.
Niko menghela napas panjang sebelum dia mulai bercerita. "Robi bergabung dalam komplotan penguasa black market. Dia sengaja ingin menyerang perusahaan Kevin."
"Black market?" Luna terkejut. Ternyata Robi benar-benar seorang penjahat.
"Iya. Untungnya mereka semua sekarang sudah tertangkap."
"Terus lengan kamu kenapa?" tanya Luna sambil meraih tangan Niko dan dia genggam.
"Kena tembak."
Luna kembali terkejut. "Tembak?"
"Iya, tapi untungnya pelurunya gak sampai masuk."
Seketika Luna terdiam. Dia merasa sedih. Di saat seperti ini justru dia tidak bisa merawat suaminya.
"Ya sudah Mama sama Ayah mau keluar dulu sebentar cari makan." Pak Ari dan Bu Rini keluar dari ruangan itu. Mereka mengerti, mungkin ada sesuatu yang mau dibicarakan mereka berdua.
Niko dan Luna kini saling tatap. Niko bisa melihat kesedihan di wajah Luna itu. "Kamu jangan sedih lagi. Robi sudah tertangkap, gak akan ada lagi yang ganggu hidup kamu."
"Tapi di saat seperti ini, aku justru gak bisa rawat Mas Niko."
"Sayang, udah gak papa. Perut kamu juga masih sakit kan kena pukulan tadi. Luka ini gak seberapa dengan apa yang kamu rasakan."
Luna semakin menggenggam erat tangan Niko. "Aku sayang sama Mas Niko."
"Aku juga sayang kamu. Kamu kok belum makan?" Niko melihat makanan yang masih utuh di atas nakas. "Sini aku suapin ya."
Luna menggelengkan kepalanya. "Aku bisa makan sendiri Mas. Aku mau duduk saja."
Perlahan Luna berusaha untuk duduk, kali ini dibantu oleh Niko. "Cepat sehat ya, nanti kita coba buat lagi," goda Niko mencoba untuk mencairkan suasana.
"Itu sih maunya Mas Niko."
"Emang kamu gak mau?"
Luna tersenyum malu. Karena sentuhan Niko adalah candu baginya.
💞💞💞
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan komen..