Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.49


__ADS_3

Mobil Malik memasuki area hotel diamond. Hotel bintang lima ini adalah tempat berlangsungnya acara ulang tahun perusahaan.


Di depan hotel, para karyawan dan para petinggi perusahaan bergiliran untuk masuk, setelah melalui proses pemeriksaan oleh pihak keamanan hotel.


Jihan dan para rekannya, memasuki ballroom hotel yang kini sudah nampak ramai di penuhi orang-orang yang menjadi bagian dari keluarga besar King grup.


Begitu banyak mata yang melihat ke arah Jihan, tak sedikit yang mulai berbisik-bisik, karena penampilan Jihan malam ini sangat cantik, dengan gaun berwarna peach tanpa lengan.


"Apa aku telalu berlebihan?" tanya Jihan pada Jenny.


"Tidak kok, kamu sangat cantik Jihan, wajar jika mereka terus melihat kamu. Percaya diri saja," jawab jenny.


Malik yang tadinya berada di belakang Jihan kini mempercepat langkahnya agar bisa berjalan sejajar dengan Jihan. Ia merasa kesal karena banyak laki-laki yang mencoba menggoda Jihan.


Di sebuah ruangan khusus di Hotel diamond, Johan sedang bersiap-siap dengan di bantu fashion stylist ternama. Pesta kali ini tidak hanya merayakan bertambahnya usia perusahaan namun juga memperkenalkan Johan secara resmi sebagai pewaris tunggal King grup.


Ya tentunya di acara nanti Vita akan di perkenalkan sebagai calon tunangan Johan, dan sampai sekarang Johan belum mengetahui tetang hal itu.


Vita memasuki ruangan Johan, Ia berjalan mengahampiri Johan yang masih sibuk bersiap-siap. Penampilan Vita malam ini sangat terlihat glamor dengan gaun hitam panjang dengan bagian punggung yang terbuka.


Johan melirik kearah pintu, ia langsung memutar bola matanya dengan malas karena melihat kedatangan Vita. Ia benar-benar malas meladeni Vita sekarang.


"Untuk apa kamu kemari?" tanya Johan.


"Tentu saja aku ingin bertemu kamu. Hari ini adalah hari yang Spesial bukan," ujar Vita.


Johan sudah selesai dengan penampilannya, sang fashion stylist keluar dari ruangan itu, kini tinggallah Johan dan Vita berdua saja di sana. Tanpa di duga, Vita langsung memeluk Johan secara tiba-tiba, Johan sampai terkesiap karena ulah Vita.


"Aku benar-benar sangat senang hari ini," ucap Vita sambil memeluk erat Johan.


"Lepaskan aku ...." Johan melepaskan pelukan Vita dengan kesal, Vita sampai hampir terjatuh kebelakang untung saja dia msih bisa mengusai keseimbangannya.


"Jaga sikap mu, aku benar-benar tidak mengenal kamu sekarang. Kamu bukan lagi sahabat yang aku kenal dulu!" tutur Johan kesal.


"Jo aku mencintaimu," ucap Vita.


"Apa masih kurang jelas, jika aku tidak pernah memiliki perasaan kepada mu. Kamu harus sadar, jika perasaan mu itu bukan cinta, tapi hanya obsesi semata," ujar Johan.


"Kita lihat saja nanti, setelah ini kamu tidak akan bisa menghidari ku lagi!" seru Vita lalu berbalik pergi.


Johan masih berdiri di posisinya hingga Vita menghilang dari balik pintu. Ia masih tidak mengerti dengan perkataan Vita barusan.


~


Kembali ke ballroom hotel diamond. Acara pembukaan segera di mulai. Di awali dengan persembahan tari kreasi dari tiga puluh orang penari.


Semua mata tertuju pada persembahan tari itu. Jihan yang sedang duduk di samping jenny merasa haus, Jihan menggedarkan padangannya melihat sekeliling ruangan, sampai ia melihat sebuah meja plasmanan besar yang menyediakan berbagai macam minuman mulai dari air putih, hingga minuman bersoda.


"Jen, aku kesana sebentar ya, aku haus," ujar Jihan.

__ADS_1


"Oh oke," ucap jenny sambil menoleh ke arah Jihan.


Jihan melangkahkan kakinya, menuju meja plasmanan itu. Namun tiba-tiba dari arah berlawanan, Vita muncul dan langsung menabrak Jihan. Tentu saja ia sengaja menabrakkan dirinya pada Jihan.


"ups, sorry," ucap Vita.


Jihan terperanga karena melihat pakaiannya yang kotor terkena krim dari cake yang di bawa Vita.


"Kamu sengaja!" seru Jihan.


"Maaf sepertinya aku memang sengaja," ujar Vita.


"Kamu!" seru Jihan kesal.


"Setelah ini, kamu mungkin tidak akan bisa tersenyum lagi," ujar Vita.


"Apa maksudmu?" tanya Jihan.


"Lihat saja nanti, bye."


Vita beranjak pergi meninggalkan Jihan sendiri. Jihan menghembuskan nafasnya dengan kasar, melihat gaunnya yang terkena cream cake.


Jihan bertanya kepada salah seorang petugas keamanan di mana letak toilet berada. setelah mendapatkan informasi, Jihan berjalan sesuai arahan yang di berikan petugas ke itu.


Sesampainya di toilet, Jihan langsung membersihkan gaunnya yang terkena cream tadi, ia merasa lega karena crema itu tidak meninggalkan bekas.


Setelah selesai membersihkan gaunya Jihan keluar dari dalam toilet, hendak kembali ke ballroom hotel. langkahnya harus terhenti saat Johan tiba-tiba saja muncul di hadapannya.


"Kenapa kamu menarikku kemari?" tanya Jihan kesal.


"Kamu sangat cantik malam ini," ujat Johan sambil membelai wajah cantik Jihan.


"Susahlah, aku harus kembali ke ballroom, jenny pasti sedang mencari ku," ucap Jihan.


Johan hanya tersenyum mendengar perkataan Jihan, ia menarik pinggang Jihan dan membawa Jihan kedalam pelukannya.


"Aku merindukan mu, karena kemarin kita tidak pernah bertemu," ucap Johan sambil memeluk Jihan erat.


Jihan tak menjawab, ia hanya diam tanpa bicara apapun, yang ia rasakan saat ini hanya rasa nyaman, begitu hangat dan aroma tubuh Johan yang menghipnotisnya.


Setelah beberapa saat Johan melepaskan pelukannya dari Jihan, "Sekarang energi ku sudah terisi penuh, terimakasih." Johan terseyum sambil membelai pucuk kepala Jihan.


"Ehm ... aku harus kembali sekarang," ucap Jihan.


"Mau pergi bersama," pinta Johan sambil mengulurkan tangannya.


Jihan menyingkirkan tangan Johan dari hadapannya, " Apa kata orang jika kita masuk bersama, aku akan keluar lebih dulu, tunggu di sini sampai beberapa saat baru kamu boleh keluar," tutur Jihan


Jihan berbalik, melangkah menuju pintu, saat akan sudah membuka handel pintu, Jihan kembali menoleh kearah Johan yang ada di belakangnya.

__ADS_1


"Jangan memeluk ku tiba-tiba seperti tadi, mau membuat jantung orang copot saja," ucap Jihan lalu membuka pintu dan berlalu pergi.


Johan masih berdiri di posisinya, ia hanya tertawa kecil saat mendengar ucapan Jihan tadi.


"Ah kenapa dia bisa seimut itu," gumam Johan sambil tersenyum-senyum sendiri.


~~


Jihan kembali ke ballroom hotel, dan benar saja sepertinya Jenny dan Cika sedang sibuk mencarinya, terlihat Jenny dan Cika sedang berdiri sambil melihat kanan kiri, buru-buru Jihan menghampiri mereka.


"Jenny, Cika!" seru Jihan.


Jenny berbalik kebelakang, senyum kelegaan terpancar dari wajah keduanya saat yang orang yang mereka cari-cari akhirnya muncul juga.


"Kamu dari mana saja?" tanya Cika.


"Aku dari toilet, tadi ada seseorang yang tidak sengaja menabrak ku, gaun ku jadi kotor terkena cream cake, jadi aku ke toilet untuk membersihkannya," tutur Jihan.


"Huh, untunglah aku kira kamu tersesat," ucap Jenny.


Tak lama terdengar suara pembawa acara yang mengumumkan jika acara utama akan segera di mulai, dan diharapkan para tamu yang hadir untuk kembali ke tempat masing-masing.


Jihan dan kedua temannya kembali ke tempat mereka.


Dari kejauhan Malik bisa melihat Jihan yang akan duduk di kursinya, senyum tipis terukir di wajahnya Malik. bagi Malik mau di lihat berapa kalipun Jihan tetap lah Terlihat cantik, benar-benar tidak membosankan.


Malik akan lebih bersyukur lagi jika bisa duduk bersebelahan dengan Jihan. Sayangnya tempat duduk laki-laki dan perempuan di pisahkan menjadi dua bagian, sehingga Malik tidak bisa duduk berdekatan dengan Jihan.


Toni Alexander menaiki panggung untuk memberikan sedikit pidatonya, terlihat Johan dan ibunya juga ikut mendampingi.


Saat ayahnya tengah berpidato, Johan malah fokus melihat ke arah Jihan yang duduk di barisan paling depan. Sadar jika sedang sedang di perhatikan Johan, Jihan segera mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


"Sebelum saya mengakhiri pidato saya, saya ingin memperkenalkan Johan Alexander putra saya, secara resmi sebagai pewaris tunggal dari King grup," ujar Toni.


Riuh tepuk tangan terdengar menggema, Toni memberikan kode untuk Johan agar maju dan berdiri di sampingnya.


"Dan pada kesempatan kali ini juga, saya akan memperkenalkan calon istri dari putra saya, Vita Irawan," ujar Toni.


Seketika Johan langsung menoleh kearah ayahnya, ia tidak pernah di beritahukan hal ini sebelumnya, hal yang paling tidak ia harapkan kenapa harus terjadi sekarang.


Riuh tepuk tangan kembali terdengar saat Vita berjalan dengan percaya diri naik keatas panggung, lalu berdiri di samping Johan sambil melingkarkan tangannya di lengan Johan.


Johan tidak memperdulikan keberadaan Vita di sampingnya, ia fokus melihat ke arah Jihan. Jihan hanya diam membisu tanpa ikut betepuk tangan, ia memandang ke arah Johan, mereka saling berpandangan.


Dengan hati yang hancur lebur, Jihan menunjukkan senyum pahitnya kepada Jihan.


"Ternyata hari ini datang juga, aku sudah menyiapkan mental untuk menghadapi rasa sakit ini, tapi ternyata aku masih belum mampu bertahan, hatiku benar-benar hancur, bahkan lebih hancur dari saat kamu meninggalkan aku dulu," Batin Jihan.


Bersambung 💕

__ADS_1


jangan lupa berikan dukungan untuk Author ya reader 🥰


__ADS_2