
Akhirnya Jihan sampai di depan tenda petugas kesehatan, tenda yang cukup besar, untuk menampung beberapa orang yang mengalami kecelakaan saat acara camping, sakit dan sebagainya, namun tak di sangka Johan akan menjadi pasien pertama.
Jihan masuk kedalam tenda itu, nampak seorang perawat laki-laki sedang berjaga di samping Johan yang kini sedang terbaring di ranjang perawatan dengan selang infus yang menempel di tangannya.
"Permisi," ucap Jihan, membuat Johan dan perawat laki-laki itu langsung menoleh ke arah Jihan.
Johan memberikan kode kepada perawat itu agar meninggalkan dirinya dan Jihan untuk bicara berdua.
"Kalau begitu saya permisi tuan ... Jika ada yang anda butuhkan, silahkan panggil saya," ucap perawat laki-laki itu.
"Iya terimakasih," ucap Johan.
Perawat laki-laki itu keluar dari tenda, tinggallah Jihan dan Johan di sana.
Jihan melangkahkan kakinya mendekati Johan.
"Duduklah," ucap Johan.
Jihan melangkah duduk di samping Johan, ia memperhatikan tangan Johan yang kini sedang di infus. Jihan yang nampak sangat khawatir namun ia tak bisa mengungkapkannya.
Melihat Johan dalam kondisi lemah seperti ini, Jihan jadi merasa bersalah karena membiarkan Johan memberikan jaket itu padanya.
"Apa kamu baik-baik saja," ucap Jihan.
"Ya, aku tidak apa-apa," ucap Johan.
"Syukurlah, ini pasti karena malam tadi anda memberikan jaket itu kepada saya," ucap Jihan.
"Aku sudah bilang untuk tidak bicara formal jika kita sedang berdua saja," ucap Johan lemah.
"Ini masih area perusahaan," ucap Jihan.
"Jihan," panggil Johan.
"Iya kenapa?" tanya Jihan.
"Kamu datang kemari karena mengkhawatirkan siapa ... CEO perusahaan atau kak Jo?" tanya Johan.
Jihan hanya diam saat di ajukan pertanyaan seperti itu, ia seperti sedang berfikir, mencari jawaban atas pertanyaan Johan padanya. Mulutnya membisu tapi matanya terus menatap Johan dengan lekat.
__ADS_1
Johan menatap mata Jihan, mencari jawaban
yang sejujurnya. Johan berharap Jihan Mengkhawatirkan dirinya bukan karena statusnya sebagai pemimpin perusahaan.
"Siapa yang kamu khawatirkan?" tanya Johan lagi yang masih terdengar lemah.
Jihan menundukkan pandangannya, lalu ia berkata, "CEO perusahaan, aku Mengkhawatirkan CEO perusahaan," ucap Jihan dengan lugas.
Jihan kembali memberanikan diri, menatap mata Johan, "Anda adalah pemimpin perusahaan besar, banyak orang yang menggantung harapanya pada anda, semua orang yang ada di sini juga khawatir, sama seperti saya," ucap Jihan.
Johan nampak kecewa mendengar jawaban yang keluar dari mulut Jihan. Ia memalingkan wajahnya dari Jihan. Johan ingin memperbaiki hubungannya dengan Jihan, namun sepertinya Jihan tidak mengharapkan itu semua, pikir Johan.
Johan kembali menatap jihan dengan tajam, "Jihan kamu itu memang punya bakat mematahkan semangat seseorang,baik sekarang maupun dulu," ucap Johan membuat Jihan nampak semakin bingung.
"Lalu jawaban apa yang seharusnya aku berikan?" tanya Jihan.
"Tidak keduanya, CEO perusahaan ataupun Kak Jo, seharusnya kamu tidak perlu Mengkhawatirkan keduanya," ucap Johan meluapkan kekesalannya.
Jihan tak menjawab dan hanya terus memandangi Johan, ia tidak menyangka kedatangannya kemari malah menimbulkan perdebatan antara dirinya dan Jihan.
"Lebih baik kamu keluar, aku ingin beristirahat," ucap Johan yang saat ini sudah memalingkan wajahnya dari Jihan.
Jihan beranjak dari tempat duduknya, ia menatap Johan sebentar, kemudian berbalik pergi. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, johan kembali membuka suara.
Jihan hanya mendengar tanpa mengatakan apapun, ia kembali berjalan keluar dari tenda itu.
~
Keesokkan paginya, semua peserta mulai memasuki bus mereka masing-masing. Jihan berjalan dengan lemas mengikuti langkah jenny dan Cika.
"Jihan kamu kenapa lemas begini," ucap Cika.
"Aku tidak apa-apa," ucap Jihan.
"Oh iya ... Malik mana, biasanya dia akan menempel terus dengan kamu, apa lagi saat di bus," ucap Jenny.
"Entahlah ... mungkin dia sedang bersama Rendy," ucap Jihan.
Jihan dan kedua rekannya, sedang mengantri untuk naik ke dalam bus, dari arah lain Jenny tak sengaja melihat Johan yang sedang berjalan menuju sebuah mobil bersama dengan Raksa dan Clara.
__ADS_1
"Eh itu tuan Johan kan," ucap Jenny, membuat Jihan dan Cika menoleh ke arah pandangan Jenny tertuju.
"Sepertinya CEO tampan kita sudah lebih baik, kabarnya, malam tadi dia di infus," ucap Cika.
"Iya kamu benar," ucap Jenny.
Jihan memandangi Johan dari kejauhan, ia tidak berkomentar apapun. Kata-kata Johan malam tadi benar-benar menusuk kedalam hatinya. Ia bingung, dan juga sedih tapi untuk menjelaskan dia juga tidak tahu harus memulai dari mana.
Johan bilang ingin memperbaiki semua denganya, Jihan bukan tidak ingin, namun ia sekarang sudah membatasi dirinya karena ia tahu Johan yang sekarang bukanlah Johan yang bisa ia raih.
Bagaikan pungguk merindukan rembulan, Johan terlalu jauh di atas sana untuk seorang wanita biasa sepertinya. Saat ini, ia hanya ingin fokus untuk membahagiakan Mela dan Nino. meski tak jarang hatinya memberikan respon yang berbeda dengan yang ia fikiran tapi sejauh ini, Jihan masih bisa mengatasinya.
~
Bus kini sudah sampai di halaman depan king grup, Jihan dan yang lainnya turun secara bergantian. mereka berpisah di sana untuk pulang ke rumah masing-masing. ada yang di jemput orang tua, saudara, teman dan ada pula yang di jemput pasangannya.
Jihan menenteng tasnya, berjalan hingga ke bahu jalan untuk menunggu taksi. Ia tak mengharapkan di jemput siapapun, Mela berkerja sepanjang waktu dan ia mengerti itu.
Karena lelah, Jihan kembali menyeret langkah hingga ke halte bus, jika taksi yang ia tunggu tak juga datang, ia akan naik bus saja, pikirnya.
Jihan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, Jihan kembali melamun kan banyak hal, termaksud kisah cintanya. Kini kisah percintaannya benar-benar berantakan, ia tidak ingin kembali namun juga tak ingin membuka hati untuk seseorang yang baru. Dirinya seakan terbelenggu pada lingkaran masalalu.
Di tengah lamunannya, dari arah jalan terdengar suara klakson mobil yang membuyarkan lamunan Jihan. Jihan mengeryitkan dahinya, melihat mobil yang kini ada di hadapannya. Sampai pada akhirnya kaca mobil itu terbuka dan ternyata orang yang ada di dalam mobil adalah Kinan sahabatnya.
"Ayo naik!" seru Kinan dari dalam mobil.
Tanpa pikir panjang, Jihan langsung menenteng tasnya dan beranjak menghapiri Kinan. Jihan sudah masuk kedalam mobil, ia meletakkan barang-barangnya di kursi belakang. Jihan menggedarkan pandanganya ke sekeliling bagian dalam mobil.
"Mobil baru?" tanya Jihan.
"Iya dong ... hasil dari kerja keras, hehe," ucap Kinan.
"Wih hebat ... eh tapi kok kamu bisa kesini?" tanya Jihan.
" Aku tahu kamu pulang hari ini, jadi aku jemput kamu, sekalian pamerin mobil baru, ya kan," ucap Kinan.
"Ish, jangan cuma pamer mobil baru tapi traktiran juga sekalian," ucap Jihan.
"Siap, ayo lets go," ucap Kinan lalu tancap gas meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Jihan akhirnya bisa kembali tersenyum karena kehadiran sahabatnya, saat kisah percintaan sedang ruwet, sahabat adalah salah satu jalan untuk pulang.
bersambung 💕